Saya Malas Membaca Buku

KONON, seorang penulis mestilah seorang pembaca yang rakus. Ini bisa dilematis. Jika kita sedang menulis, kita tak punya kesempatan membaca referensi lain, kita hanya bisa membaca yang sedang kita tulis saat itu. Jika kita sedang membaca, begitu asyiknya, kita otomatis 'lupa' menulis. Kadang-kadang, saat sedang nafsu-nafsunya menulis, bahan bacaan lain harus menunggu. Begitu juga sebaliknya.
Saya sering mengidentifikasi diri sebagai seorang penulis, meski di kesempatan lain kadang saya menganggap diri saya seorang birokrat, seorang seniman, seorang kekasih, arsitek atau bahkan seorang dukun klenik. Saya pikir-pikir, semua identifikasi profesi yang saya klaim itu menuntut kerakusan membaca. Masalahnya adalah, kadang-kadang (atau sering?) saya menulis justru untuk menghindari "kewajiban" membaca itu. Saya sangat malas membaca.
Dulu waktu masih muda dan bersekolah, saya membawa-bawa buku saku Stephen Hawking "A Brief History of Time" edisi bahasa Inggris biar tampak keren, tampak cerdas dan ilmiah. Bahkan saya tidak bisa berbahasa Inggris saat itu. Saya juga tidak paham sama sekali tentang ilmu fisika teoretis, bahkan matematika termasuk mata pelajaran yang tidak saya cintai di sekolah. Buku itu konon bagus sekali dan enak dibaca oleh orang awam. Sepuluh tahun kemudian baru saya baca buku itu sampai selesai. Sepuluh tahun kemudian!
Saya memperoleh sedikit legitimasi atas kemalasan saya membaca tersebut saat bertemu seorang arsitek cum spiritualis cum musisi, yang sempat bilang, "Kita jangan memuja buku. Semua buku karangan manusia hanyalah risalah dari pemikiran egoistik pengarangnya. Memang ada beberapa yang bagus dan layak kita baca sebagai pembanding wawasan, tetapi jangan sampai proses belajar kita tergantung sekali dengan buku. Tanpa buku pun, kita harus tetap terus belajar, sebab ada yang tetap bisa dibaca walau tanpa buku: alam semesta, termasuk kehidupan di dalamnya."
Saya kira membiasakan membaca itu baik-baik saja. Tetapi saya malas membaca buku. Dan saya mencari alasan pembenar atas kemalasan saya itu dengan sikap,"Kecanduan itu berbahaya. Termasuk kecanduan membaca buku!"
Wooo... dasar pemalas!

ya
akupun demikian
Membaca teks, bukan 'hanya' buku
Ya, saya setuju bahwa "Kita jangan memuja buku. Semua buku karangan manusia hanyalah risalah dari pemikiran egoistik pengarangnya. Memang ada beberapa yang bagus dan layak kita baca sebagai pembanding wawasan, tetapi jangan sampai proses belajar kita tergantung sekali dengan buku. Tanpa buku pun, kita harus tetap terus belajar, sebab ada yang tetap bisa dibaca walau tanpa buku: alam semesta, termasuk kehidupan di dalamnya." Dan, saya sangat mendukung wacana bahwa buku membantu kita "membandingkan wawasan." Namun, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, tentu saja ini sangat subjektif, bahwa membaca akan membantu kita memahami realita. saya tidak akan berpanjang lebar tentang fungsi membaca ini.
Bagi saya, yang juga kadang malas membaca dan lebih memilih "ngalamun" tentang adegan percintaan dengan perempuan yang saya cintai ataupun yang saya nafsui,membaca merupakan pilar yang "wajib" ada, dan memang selalu ada, saat kita mempelajari sesuatu. sebut saja teks. dan teks memang tidak harus buku. misalnya saya membayangkan perempuan yang saya cintai dan juga nafsui, di saat bersamaan atau beberapa detik setelahnya, saya akan membaca diri saya sendiri dan membaca kehidupan "sakral" perempuan yang saya cintai dan nafsui itu. juga, ketika saya membayangkan ibu saya, perempuan yang paling perkasa yang pernah saya kenal, bekerja dari jam 1 pagi sampai jam 2 siang menjajakan sayuran, saya merasa sedang membaca. pemahaman saya akan kerja keras seorang ibu saya dapat dari "perasaan", dari perbandingan dengan perempuan-perempuan lain yang pernah saya kenal lewat buku atau secara langsung bertemu, dan dari buku-buku perjuangan yang pernah saya baca.
Satu lagi, walaupun agak melenceng tetapi masih dapat dimasukkan dalam kerangka membenarkan pernyataan bahwa "semua buku karangan manusia hanyalah risalah dari pemikiran egoistik pengarangnya," membaca, dalam perkembangannya, selalu bersifat politis. Setidaknya, saya sendiri tidak akan bilang bahwa "saya hanya ingin tahu saja" dan selesai sampai di situ. pemahaman akan menuntun pada gerak dan sikap, dan, karena kita punya sisi egois narsistik, pemahaman akan terwujud dalam kata dan laku kita.
Yang menarik adalah ketika ada pertanyaan, "bagaimana kamu membaca realitas? jawaban itu akan menuntun pemahaman pada konteks subjektivitas yang ternyata seberapapun bebasnya dalam kerangkan pluralisme, tetap berisi ruang saling bergesek.
Saya juga akan mencari pembenar atas sikap saya; "Membacalah, sebelum dan sesudah kamu dibaca(kan)!" Hehehe...
Selamat membaca,
Wahmuji
membaca
saya membaca buku, film, musik, dan teman. saya belajar banyak dari hal itu. saya berusaha untuk tidak malas walaupun saya akui memang sangat sulit membaca buku...jadi saya memilih gemar membaca film.
salam,
amarah durga
Post new comment