Menurut Saya Menulis Tidak Begitu Penting

Dalam acara-acara motivasi bagi para calon penulis atau di buku-buku dengan topik sejenis, sering diungkapkan betapa pentingnya menulis itu. Seolah tanpa menulis kita seperti berada dalam kegawatan sakaratul maut. Beberapa kawan menganggap menulis sebagai satu-satunya cara menampilkan kehadiran dirinya di dunia ini. Blog-blog pribadi, terlepas sebagai trend gaya hidup, teryata menjadikan nafsu menulis ini menemukan ladang subur. Bahkan tak sedikit kawan yang berusaha menerbitkan buku-buku karangannya, entah lewat penerbit komersial maupun dengan penerbitan mandiri.
Saya tidak begitu percaya dengan motif penulis yang menerbitkan buku dengan tujuan memberikan kontribusi bagi dunia literer Indonesia, atau menyemarakkan dunia kesusastraan Indonesia, dll. Saya lebih percaya penerbitan buku-buku itu lebih semata-mata urusan pemuasan nafsu narsistik si penulis atau urusan bisnis bagi penerbit. Tak lebih. Kalau tak percaya, lihatlah berapa banyak judul buku-buku teenlit yang bertebaran di toko buku, lalu beberapa bulan kemudian berserakan di lantai obral seharga lima ribu! Tak hanya teenlit, sering pula kita jumpai buku-buku sastra, buku-buku how-to, sampai terjemahan buku-buku asing yang (konon) dianggap bermutu.
Sampai saat ini, saya tidak menganggap menulis itu begitu penting. Walaupun saya kadang cukup rajin memperbarui blog saya, tak jarang saya absen cukup lama karena menikmati kegiatan non-menulis lain yang tak kalah menarik. Dalam hal-hal tertentu melukis atau mendengarkan musik Ruben Gonzalez atau suara merdu Sarah Vaughan (atau bahkan lagu pop campursaru Cak Diqin) jauh lebih menarik daripada menulis, meski menulis juga punya daya tarik tertentu yang tak bisa digantikan oleh kegiatan lain. Sekali lagi, saya menulis saat ingin saja, dan tidak menganggapnya kewajiban, atau sesuatu yang begitu pentingnya bagi kehidupan saya pribadi apalagi bagi peradaban manusia.
Menulis menurut saya tidaklah begitu penting. Karenanya, saya menulis hanya di saat ingin dan sempat saja dan saya tidak menyesal atau merasa kehilangan ketika tidak menulis. Sama halnya ketika saya tidak membaca. Alih-alih menulis sampah seperti yang sedang saya lakukan sekarang ini, saya masih bisa berenang, bersepeda, melukis, menggoreng ikan, mengganggu orang, mengajarkan ajaran sesat, bercinta, menonton orang bercinta, atau menghabiskan waktu memandang bengong Eyang Merapi.
Tabik.

Post new comment