Dingin
aku tak bisa menahan dingin di pagi buta ini
buta?pagi itu tak punya mata
aku masih merasakannya sebagai hal yang penting untuk dirasa
apa maksudnya?
sejenak ketika aku bersandar pada dinding yang terdiam
tatkala pula ketika aku terpana dengan bayangan yang begitu nikmat membawa hasrat untuk berkata
dingin itu sekejap menghilang dari pikir dan tak tereaksi oleh tubuh
larutnya dalam pandang riuh tinggi ramainya hutan manusia yang berburu makan untuk uang
terhenyak oleh tanya ku sendiri, kapan mereka istirahat y
entah..
mungkin hasrat mereka hidup bukan untuk istirahat tapi untuk berjuang?!
pagi yang sebegitu dingin oleh tubuh ku
tak mereka hiraukan
atau mereka lawan sebagai simbol perjuangan?
bahkan sampai tiba pada suatu titik dingin benar-benar tak terasa terganti dengan peluh yang membasahi pori-pori yang tak pernah tersayang oleh bahan-bahan kecantikan
dingin ku pun mulai menghilang oleh buta yang mulai memudar oleh serpihan2 cahaya
aku tak lagi mengeluhkan pagi yang sampai saat ini masih bisa kurasa dengan tanpa peluh
aku tak menyesal bisa menghabiskan sisa tenagaku untuk bisa bertahan dalam dingin ini bersama...




sering aku berkata:
aku akan berkeringat dan berbahagia.
keringat keluar dari pori karena olah raga
dingin memaksa pori mengatup
keringat kembali ditelan tubuh
pakailah baju hangat
dan beristirahatlah kala siang menjelang senja
agar kau tak sakit jadinya
memang, namanya buta itu tidak bisa melihat, hanya bisa meraba dan merasakan, mungkin kalau tidak buta sejak lahir masih bisa membayangkan. aku penasaran apa yang dibayangkan oleh mereka yang buta sejak lahir...mungkin membayangkan keringat setiap kali selesai berolah raga atau setiap kali makan semangkuk bakso pedas pun tidak bisa. ternyata keringat itu juga buta, tidak pernah berhati-hati ketika dia berjalan di kedua payudara ku.
ah, mengingat buta aku teringat Gus Dur, cinta itu buta.
salam,
amarah durga