Mati Baik-Baik, Kawan

Diulas oleh kawan alwiTHELONEWOLF, Sabtu 18-07-09 00:13
Kategori Buku:
Mati Baik-Baik, Kawan
Martin Aleida
Akar
Indonesia, Asli
2009
4
Sinopsis:

Sebuah buku berupa anthologi cerpen yang memberi sudut pandang korban pada permasalahan sekitar 65

Ulasan:

SEJARAH, CERPEN DAN SUDUT PANDANG ALTERNATIF

Membicarakan permasalahan ’65 merupakan masalah yang sangat pelik dengan data sejarah yang samar-samar. Sejak tumbangnya rezim pemerintahan Soeharto tahun 1998, isu ini mendadak terangkat ke permukaan lagi. Label tabu pada diskusi dan pembicaraan perihal seputar ’65 perlahan-lahan disingkap dan disingkirkan. Stigma-stigma pada suatu kelompok maupun paham tertentu yang dianggap terlibat langsung terhadap situasi tahun-tahun seputar ’65 mulai memudar (baca: belum sepenuhnya hilang). Pada ranah pendidikan, penambahan tiga huruf “PKI” setelah jargon “G30S” tidak digunakan lagi. Begitu juga dalam ranah sastra, tema sekitaran ’65 kembali mewarnai toko-toko buku dalam antologi puisi, cerpen, naskah drama dan novel.

Martin Aleida adalah salah satu orang yang giat mengangkat cerita-cerita dibalik tahun-tahun tergelap bangsa Indonesia tersebut. Dia merupakan salah satu penulis yang dengan keteguhan hatinya terus menerus menjaga agar bab ini tidak tertutup tanpa titik penerang. Melalui antologi cerpennya “Mati Baik-baik, Kawan” ini, Martin Aleida mencoba membawa para penikmat sastra Indonesia melihat sisi lain dari kejadian ’65.
Yang membuat pembicaraan tentang sebuah kejadian yang membawa Soeharto ke tampuk kekuasaan selama 32 ini adalah banyaknya versi sejarah yang hadir ditengah-tengah mayarakat. Paling tidak ada dua sudut pandang dalam menelaah kejadian tersebut yang menuntun pada tiga versi sejarah yang berbeda. Sudut pandang pertama adalah sudut pandang bentukan Soeharto, yang kedua sudut pandang korban-korban pe-label-an sebagai “dalang”. Martin Aleida melalui karya-karyanya memilih menjalani pilihan yang kedua. Cerpen-cerpennya dalam antologi ini mengangkat cerita-cerita para korban stigmatisasi bentukan Orde Baru. Dengan rinci dan mendalam satu per satu kasus diolahnya. Kasus-kasus kegiatan PKI beserta ormas-ormasnya seperti ‘pengambil-alihan’ tanah atau pengambilan orang secara paksa oleh aparat Negara dan pengasingan serta dampak-dampaknya baik secara personal maupun komunal dirangkum dalam cerpen-cerpen realisme lugas.

Yang tidak biasa dari cerpen-cerpen penulis kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 66 tahun yang lalu ini adalah kedalaman penglihatannya pada korban-korban. Kebiasaan-kebiasaan yang dikarenakan tekanan pemerintahan waktu itu mampu ditulis dengan tingkat kedalaman yang hanya mampu ditulis oleh penulis dengan penelitian yang tidak main-main. Tengoklah cerpennya yang berjudul “Liontin Dewangga”, cerpen ini pernah meraih penghargaan dari Departeman Pendidikan Nasional, menceritakan bagaimana pasangan suami-istri saling menutupi sehingga saling tidak mengetahui bahwa keduanya merupakan korban dari pe-label-an. Kebenaran akan masa lalu mereka baru terbuka saat sang istri menjelang hembusan nafas terakhirnya. Dalam cerpen ini, para pembaca dapat melihat bagaimana ketertutupan dan kebungkaman hasil bentukan Orde baru mencengkeram bukan hanya antar korban dan orang-orang diluarnya namun juga diantara para korban. Dan kebungkaman inilah yang selama lebih dari 30 tahun tema-tema seputar ’65 teronggok hampir tak terusik dalam segala ranah. Kebisaan hasil repsresi juga tersirat pada cerpen pertama yang judulnya juga dijadikan judul antologi ini, “Mati Baik-baik, Kawan”. Lari menjadi tema utama dalam cerpen ini. diceritakan pada cerpen ini bagaimana seorang pemuda Bali bernama Mangku melarikan diri akibat tekanan ditanah asalnya. Apabila kita melihat dokumen sejarah atau penuturan para korban maka sebagian besar akan mengandung unsur pelarian yang dialami para korban dikarenakan tekanan dari dua sisi (masyarakat dan aparat Negara) yang sangat kuat.
Kedalaman penglihatan Martin Aleida inilah kekuatan dari cerpen-cerpennya. Kedalaman penglihatannya pada kejadian, baik yang ia alami langsung maupun penuturan korban-korban, didukung dengan gaya realisme membuat karyanya dapat ditempatkan dalam satu rak dengan dokumen-dokumen sejarah. Disinilah letak titik berat paling menohok dari cerpen Martin Aleida, menjadi sebuah alternatif sudut pandang atas sejarah yang masih samar-samar tersebut. Seperti pada “Liontin Dewangga” dan “Mati Baik-baik, Kawan”, cerita mendalam dengan penekanan pada pengalaman-pengalaman para korban pe-label-an memberi sejumlah pengalaman baru para pembaca (baca: rakyat Indonesia) tentang kejadian-kejadian perihal ’65 yang selama masa Orde Baru sengaja dilupakan. Senada dengan esai penutup oleh Katrin Bandel pada bagian akhir buku ini, bahwa karya-karya Martin Aleida mampu keluar dari karya-karya yang mengangkat tema serupa dikarenakan berani mempertanyakan “apa yang salah dengan Komunisme?”. Kemampuan cerpen-cerpen ini mendekatkan kondisi para korban pada pembaca membuat bahwa sebenarnya mereka yang saat itu terlibat maupun yang “dilibatkan” (baca: di-label-i) bukanlah orang-orang hebat yang oleh Orde Baru dibuat seolah-olah mereka adalah orang-orang luar biasa yang mampu meruntuhkan Negara ini. Pergeseran sudut pandang oleh Martin Aleida dengan meminjam badan cerpen-cerpennya ini benar-benar menyuguhkan referensi segar bahwa titik berdiri lain mengenai fakta-fakta sejarah seputaran ’65 memang sangat mungkin dilakukan.

Kutipan Berkesan:
ginting's picture
Cap!
Komentar dari kawan ginting, Selasa 11-08-09 01:25

Saya teringat pada apa yang pernah diutarakan guru Sejarah saya ketika SMA dulu: bahwa, dimana-mana, Komunisme hadir dengan satu tujuan -- mengobrak-abrik bangunan falsafah bangsa!

Saya teringat mimik serius guru saya itu, seakan-akan memperkuat setiap kata-kata yang diucapkannya. Hanya setelah kini-lah saya bisa paham mengapa dia berkata demikian.

Sampai sekarang, saya terus geleng-geleng kepala kenapa bisa-bisanya mazhab komunisme diharamkan di negeri yang gotong-royong nan komunal ini. Mengapa pula masih sempat-sempatnya ada lagi spanduk-spanduk yang bertebar di pinggir jalan -- memperingatkan bahaya laten PKI, mensejajarkannya dengan narkoba dan HIV.

Saya pikir, keberhasilan pemberantasan (baca: pembantaian) PKI adalah buah dari keberhasilan mempergunakan sisi-sisi non-militer, yaitu masyarakat sipil, untuk ikut dalam usaha pemusnahan itu.

Cap, atau label, seperti yang ditekankan kawan Alwi dalam ulasannya ini adalah satu bukti bahwa pemberantasan/pemberangusan PKI dan paham komunisme adalah sebuah usaha sistematis terencana. Seorang tapol PKI, yang dulu dibuang ke Buru misalnya, akan menilai bahwa makna dari kata 'bebas' adalah absurd. Mengapa? Karena sesungguhnya sebuah penjara yang lebih luas telah menanti mereka, walau sudah keluar sekali pun dari penjara geografis-fisik bernama Buru. Apakah penjara yang dimaksud itu? Dapat berupa cap pada KTP, cap pada 'wajah', cap pada langkah kaki, sampai cap pada bau badan sekali pun! 'Hsi-nao' alias cuci otak yang dilakukan rezim Suharto terhadap penduduk Indonesia adalah dari apa terali dan tembok penjara takkasatmata itu dibuat.

alwiTHELONEWOLF's picture
massa mengambang
Komentar dari kawan alwiTHELONEWOLF, Jumat 14-08-09 13:57

salah satu kunci keberhasilan soeharto untuk terus berkuasa adalah keberhasilannya membangun massa mengambang (floating mass). massa ini berupa organisasi2 massa maupun individu2. massa ini juga yang dipakai soeharto untuk menggebuk PKI. tanpa kekuatan militer dengan gratisan soeharto mendapat bantuan masyarakat untuk 'menghukum' anggota2 maupun yang diduga anggota PKI. di cerpen2 Bang Martin ini sangat kental peran massa mengambang ini yang kemana-kemana tak komando langsung alias perintah untuk membantai PKI. yang menarik bang Martin itu juga menghadirkan bahwa dalam massa mengambang itu sendiri terjadi semacam kebimbangan dan konflik batin tentang apa yang mereka lakukan. sebuah sudut pandang baru aku pikir ketika hal itu disajikan karena krban kejadian pasca '65 bukan hanya mereka yang dibantai tapi juga sebagian individu dalam massa mengambang ini.

Kandas's picture
Semua Sudah Berakhir???
Komentar dari kawan Kandas, Selasa 01-09-09 15:40

Apakah semua sudah berakir???...
masa kejayaan PKI di libas ORBA
Masa kejayaan ORBA di libas anak bangsa walau dengan nyawa bernama mahasiswa.
Kini semua berganti......
dulu OPSPEK mahasiswa dengan merenggut nyawa juga kini sudah berhenti...
UUD 45 pun akhirnya bisa di amandemen tiga kali...
Presiden bukan wewenang Legeslatif lagi....
Rakyat sudah bisa bersuara......
tapi kadang.......
aku heran kenapa kita tega terhadap sesama hanya karena beda partai, suku, ras, dan agama?
PARTAI.......
Apa hebatnya partai????
PKI itu kan hanya sebuah partai!.
Apakah yang partai yang buaaanyak sekarang ini bisa berakhir juga seperti PKI?
anak cucu kita di "cap" anggota partai "ANU" yang mereka sendiri tak tahu apa itu partai ANU?...
kalo yang sempat jadi anggota legislatif mungkin bisa di "cap". tapi kalo yang hanya ikut-ikutan karena dapat amplopan... BAGAIMANA?
Wkil kita di DEWAN Terhormatpu.... mulai pusing kerena harus menanggung kembalian beli bendera, umbul2 juga pasang foto...
tidak sedikit materi dan janji yang harus mereka keluarkan untuk sekedar menjadi WAKIL...
bahkan ada yang harus masuk rumahsakit jiwa karena sebenarnya dia tak kuasa
akan kah ini sudah berakir????....
akankah muncul 98 atau 2004 atau mungkin 2009 atau tahun depan????

alwiTHELONEWOLF's picture
salah kaprah sejarah
Komentar dari kawan alwiTHELONEWOLF, Sabtu 03-10-09 04:00

sangat pesimis. itu kesan yang saya terima dari Tuan Kandas ini walaupun saya lumayan kesulitan mencerap tulisannya dikarenakan gaya tulisannya yang mirip monolog ini. pertanyaannya; pesimis pada apa? pada dialektika. pada sejarah secara khususnya. Maxim Gorky pernah mengeluarkan satu pernyataan yang diingat hingga kini "PEOPLE MUST KNOW THEIR HISTORY". kalau kita tarik semacam garis ke belakang dari titik masa ketika Gorky mengeluarkan pernyataannya maka akan ditemukan jua filsuf macam Hegel lantas Marx yang memiliki kepercayaan atas dahsyatnya dampak sejarah melalui teori-teori tentang dialektika (walaupun dua filsuf tersebut memiliki titik berat jenis dialektika yang berbeda). sejarah lantas bukan hanya sebuah masa yang sudah terlewati begitu saja dan tidak memiliki keterkaitan dalam bentuk apapun atas masa yang disebut 'sekarang' ini.

Tuan Kandas menggambarkan dialektika material yang terjadi pada masa-masa peralihan di Indonesia antara ORLA, ORBA, hingga REFORMASI dengan nada yang sangat 'past-is-past' dan dengan keengganan untuk menoleh ke belakang agar melihat yang didepan dengan lebih berimbang. penggambaran beliau tentang peralihan ini jelas cukup 'aneh' dan berlawanan dengan dalil-dalil diatas yang begitu mempercayai masa lalu (sejarah) sebagai faktor utama pembentuk masa kini. sejarah dalam tulisan beliau diatas dipandang hanya sebagai serentetan peritiwa yang sudah terlewat. dengan penerimaan atas sejarah yang semacam ini, sejarah dianggap telah mempunyai satu fakta yang jelas. Tuan Kandas ini menuliskan tulisannya diatas dengan asumsi bahwa yang terjadi pada masa-masa yang telah lalu memang begitu adanya. seperti ORLA disikat ORBA, PKI disikat ORBA, ORBA disikat PKI bla bla bla. kini yang dipertanyakan adalah 'memang begitu adanya' yang seperti apa? sejarah siapa yang seperti ini yang Indonesia punya sekarang ini? apakah sejarah yang kita punya saat ini bukan bentukan juga?

ada satu pendapat mengenai sejarah bahwa sejarah (yang kita ketahui pada umumnya sekarang) adalah sejarah pemenang. artinya pemenang dari satu epos tertentu memiliki keuntungan lebih untuk menuliskan sejarah berkaitan dengan dirinya maupun pihak lain (termasuk yang dikalahkan). mari ambil contoh dari peristiwa G30S yang konon didalangi oleh PKI itu. berdasarkan pernyataan diawal paragraf ini, mari kita mulai bertanya dengan 'siapa pemenang pada epos ini?' Soeharto dan ORBA jelas. jadi milik (bentukan) siapa sejarah yang bersinggungan dengan G30S ini? jelas milik si pemenang (ORBA). Lantas apakah PKI yang boleh dikatakan menjadi tim yang kalah pada epos itu tidak memiliki sejarahnya sendiri atas apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana juga dengan tim penonton (masyarakat luas) yang menurut saya juga merupakan bagian dari tim yang kalah? mereka juga punya sejarah kan? jadi mereka dan sejarahnya adalah bagian dari rancangan dialektika megah dunia yang tidak bisa dengan mudahnya ditampik keberadaanya dengan asumsi bahwa sejarah yang diketahui sekarang adalah begitu adanya. bukti nyata atas sejarah masih berlaku hingga saat ini adalah tanda 'ET' di KTP-KTP para tapol yang bersinggungan dengan PKI khusunya seperti yang diutarakan Tuan Ginting. kode pada KTP inilah yang membentuk pikiran khalayak umum untuk membuat dikotomi yang lugas antara orang ber-KTP tanpa tanda ET dan orang-orang ber-KTP dengan tanda ET. dikotomi yang berlangsung hingga 40 tahun setelah kejadian dimalam bulan September itu terus hidup hingga kini beserta kode-kode (stigmatisasi) menyertainya. dan siapa yang menghidupkan kode-kode ini kalau bukan tim pemenang yang berhak atas sejarah?

sampai titik ini, jelaslah sejarah yang ada sekarang adalah sejarah dari satu kacamata, kacamata pemenang! maka masa sekaang, yang merupakan masa depan dari masa lalu, masih merupakan bagian dari masa lalu karena apa yang dimiliki pada masa ini adalah warisan yang diterima dengan baik-baik saja oleh para pewarisnya yang semacam Tuan Kandas ini seperti yang ditulisnya pada bagian penutup tulisannya "akan kah ini sudah berakir????....
akankah muncul 98 atau 2004 atau mungkin 2009 atau tahun depan????
". Tuan Kandas dengan gamblang menggambarkan bahwa sejarah kita ya hanya begitu-begitu saja dan tidak melihat masa per masa secara spesial (rinci) agar terlihat dengan jelas sejarah-sejarah lain yang ada. tulisan Tuan Kandas diatas makin memperkuat hipotesa bahwa yang 'sekarang' ini masih produk 'yang dulu' denga asumsinya yang menerima sejarah sebagai satu hal yang tetap dan murni (obyektif). sebuah tulisan yang mengingatkan saya bagaimana buku-buku sejarah dan media massa menjalankan hegemoni-nya atas sejarah umat manusia yang selamanya tidak akan terbebaskan selama sejarah dipandang telah tetap.