Ulasan Buku Lain-lain

6

REVOLUSI SANDINISTA; perjuangan tanpa akhir melawan neo-liberalisme

Selasa, Desember 9, 2008 - 02:42
Pengarang: Nurani Soyomukti
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Lainnya

Sinopsis:

Buku tulisan Nurani Soyomukti ini berisi catatan perlawanan pada neo-liberalisme di negara-negara amerika Latin, Nikaragua khususnya. Bagian awal buku ini memaparkan tentang dominasi Amerika Serikat melalui neo-liberalisme-nya. Kelemahan-kelemahan sistem ini dan modus operandi Amerika Serikat dalam mempopulerkan sistem ini juga turut disertakan. Kerusakan-kerusakan akibat sistem bentukan kapitalis ini disajikan dalam bentuk daftar daftar perlawanan terhadapnya. Didalam daftar tersebut Negara-negara Amerika Latin tercatat sebagai oposisi utama.
Sebelum membahas jauh tentang Nikaragua dengan revolusi Sandinistanya, si penulis memberi semacam “landasan teori” terhadap revolusi Negara-negara Amerika Latin ini. “Landasan teori” ini berupa anti-thesis terhadap buku Francis Fukuyama “The End of History”. Gagasan bahwa kapitalisme merupakan cara hidup yang akan bertahan hingga akhir zaman ditentang. Posmodernisme dengan pencarian makna ala hermeneutika-nya juga dianggap sebagai sebuah usaha untuk menggagalkan usaha melihat adanya alternatif lain selain kapitalisme. Dengan menyebarnya posmodernisme, masyarakat menjadi tercerai-berai karena mahzab “kembalinya subyek” posmodernisme.
Dalam bab-bab selanjutnya, si penulis merunut sejarah politik Nikaragua. Satu hal yang selau diingat rakyat Nikaragua dalam sejarah mereka adalah kemenangan sang Jenderal Augusto Ceasar Sandino (1895-1934). Sandino adalah seorang pejuang revolusi yang melawan dominasi Amerika Serikat di Nikaragua selama kurun waktu 1920 hingga akhir hayatnya. Semangat revolusioner Sandino inilah yang membangkitkan rakyat Nikaragua untuk bersatu melawan neo-liberalisme. Sebagai awal berdirilah sebuah partai berhaluan kiri, FSLN (Sandinista National Liberation Front), pada tahun 1961 oleh tiga orang mahasiswa di Universitas Nasional Otonom Nikaragua.
Pada awalnya partai ini dibentuk sebagai oposisi atas Rezim diktator pro-Amerika, Somoza. Namun dalam perjalanan revolusinya FSLN menemukan kesamaan dengan rekan-rekan dari Negara-negara Amerika Latin yang lain Kuba, Mexico, Venezuela dll. Negara-negara tersebut akhirnya membentuk front untuk melawan dominasi Amerika Serikat.

alwiTHELONEWOLF

10

TRACTATUS LOGICO-PHILOSOPHICUS

Jumat, Desember 5, 2008 - 22:03
Pengarang: Ludwig Wittgenstein
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Lainnya

Sinopsis:

Thesis utama Wittgenstein dalam buku ini adalah dunai ini terdiri dari fakta-fakta. Keseluruhan dari fakta-fakta itulah yang membentuk dunia (kenyataan) ini. Fakta-fakta selalu disajikan dalam bentuk bahasa. Hubungan antara fakta dan bahasa inilah yang menjadi titik tolak penulisan buku ini.
Melalui “Tractatus…” Wittgenstein menyampaikan argumennya bahwa bahasa, sebagai alat komunikasi terpopuler di dunia, selalu mengambil bentuk fakta. Bahasa tidak mampu memecah fakta-fakta yang disajikan didalamnya. Objek-objek dalam fakta yang ingin kita komunikasikan selalu berhubungan dengan obyek-obyek lain. Wittgenstein menyebut keadaan obyek-obyek itu dalam satu keadaan yang saling berurusan (state of affairs). Pendapat itu muncul dari kepercayaannya bahwa ruang dan waktu itu tetap. Sehingga obyek hanya dapat dikenali dalam bahasa melalui hubungan-hubungannya dengan obyek-obyek lain. Lantas, hal lain yang juga membantu proses pengenalan obyek-obyek adalah kemungkinan-kemungkinan kondisi obyek-obyek saling berhubungan hal ini disebut “form” (istilah Wittgenstein sendiri).
Berbahasa adalah sebuah tindakan menggambarkan fakta. Sebuah gambar adalah sebuah fakta. Hubungan-hubungan yang terjadi diantara obyek dalam gambar lah yang membuat itu sebuah fakta. Dan dalam berbahasa (menggambar) tadi, kita hanya berhubungan dengan fakta yang ada dan fakta yang tidak ada (bukan logis atau tidak logis). Manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa untuk menkomunikasikan hal yang tidak masuk akal (tidak logis).
Secara singkat ini lah yang dibicarakan Wuittgenstein dalam “Tractatus Logico-philosophicus”

alwiTHELONEWOLF

6

Lebih Tajam dari Pedang

Selasa, Desember 2, 2008 - 14:29
Pengarang: Daniel L. Smith
Pengulas: nat
Kategori: Lainnya

Sinopsis:

Sinopsis
“Antikekerasan adalah pasal pertama iman kepercayaan saya dan pasal terakhir syahadat saya,” demikian pernyataan Mahatma Gandhi pada tahun 1922 menyinggung hubungan antara tradisi keagamaan dan perilaku pribadi. Pasalnya, persaingan antar agama sepenjang sejarah telah sering menjadi akar konflik manusia. Dalam buku ini tokoh-tokoh dari Sembilan agama dunia memberikan wawasan tentang bagaimana tiap tradisi itu dapat menangulangi racun kebencian. Tidak hanya tentang arti penting prinsip anti kekerasan dalam tiap tradisi, mereka pun merefleksikan dengan jernih bagaimana agama-agama menghadapi persoalan dalam mengejawantahkan cita-cita ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Lebih Tajam dari Pedang menghadirkan khazanah pengetahuan, wacana, dan perspektif baru berkenaan dengan tantangan perdamaian di masa depan dan sepanjang masa. Setelah Prakata dari Virginia Straus Direktur Eksekutif Boston Research Center for the 21st Century, Pengantar dari Daisaku Ikeda sang pendiri dan pendahuluan dari editor, bab dalam buku ini berjumlah 8. Masing-masing bab membahas satu tradisi agama dengan sub judul yang merepresentasikan ke-khasan tiap agama, antara lain:
1.Jainisme Dan Antikekerasan
2.Roda Perdamaian
3.Hilangkan Kebencian
4.Ahimsa dan Kesatuan Segala Hal
5.Taradisi-tradisi Asli Mengenai Perdamaian (suku Cheyenne)
6.Antikekerasan dalam Islam
7.Biarlah Cintamu Kepadaku Mengalahkan Bencimu Kepadanya
8.Ateisme politis dan Iman Radikal
Terakhir adalah Epilog yang kuat oleh Donald K Swearer yang merefleksikan tentang antikekerasan dan agama.

8

THE COMMUNIST MANIFESTO

Sabtu, November 29, 2008 - 17:54
Pengarang: KARL MARX dan FRIEDRICH ENGELS
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Lainnya

Sinopsis:

Marx meletakkan dasar-dasar pemikiran yang nantinya disebut Marxisme dalam buku ini..