REVOLUSI SANDINISTA; perjuangan tanpa akhir melawan neo-liberalisme

6

Kutipan Berkesan:

“kala sejarah tidak mungkin ditulis dengan pena, dengan senjata harus ditulisnya” (Augustine Farabundo Marti)

Sinopsis:

Buku tulisan Nurani Soyomukti ini berisi catatan perlawanan pada neo-liberalisme di negara-negara amerika Latin, Nikaragua khususnya. Bagian awal buku ini memaparkan tentang dominasi Amerika Serikat melalui neo-liberalisme-nya. Kelemahan-kelemahan sistem ini dan modus operandi Amerika Serikat dalam mempopulerkan sistem ini juga turut disertakan. Kerusakan-kerusakan akibat sistem bentukan kapitalis ini disajikan dalam bentuk daftar daftar perlawanan terhadapnya. Didalam daftar tersebut Negara-negara Amerika Latin tercatat sebagai oposisi utama.
Sebelum membahas jauh tentang Nikaragua dengan revolusi Sandinistanya, si penulis memberi semacam “landasan teori” terhadap revolusi Negara-negara Amerika Latin ini. “Landasan teori” ini berupa anti-thesis terhadap buku Francis Fukuyama “The End of History”. Gagasan bahwa kapitalisme merupakan cara hidup yang akan bertahan hingga akhir zaman ditentang. Posmodernisme dengan pencarian makna ala hermeneutika-nya juga dianggap sebagai sebuah usaha untuk menggagalkan usaha melihat adanya alternatif lain selain kapitalisme. Dengan menyebarnya posmodernisme, masyarakat menjadi tercerai-berai karena mahzab “kembalinya subyek” posmodernisme.
Dalam bab-bab selanjutnya, si penulis merunut sejarah politik Nikaragua. Satu hal yang selau diingat rakyat Nikaragua dalam sejarah mereka adalah kemenangan sang Jenderal Augusto Ceasar Sandino (1895-1934). Sandino adalah seorang pejuang revolusi yang melawan dominasi Amerika Serikat di Nikaragua selama kurun waktu 1920 hingga akhir hayatnya. Semangat revolusioner Sandino inilah yang membangkitkan rakyat Nikaragua untuk bersatu melawan neo-liberalisme. Sebagai awal berdirilah sebuah partai berhaluan kiri, FSLN (Sandinista National Liberation Front), pada tahun 1961 oleh tiga orang mahasiswa di Universitas Nasional Otonom Nikaragua.
Pada awalnya partai ini dibentuk sebagai oposisi atas Rezim diktator pro-Amerika, Somoza. Namun dalam perjalanan revolusinya FSLN menemukan kesamaan dengan rekan-rekan dari Negara-negara Amerika Latin yang lain Kuba, Mexico, Venezuela dll. Negara-negara tersebut akhirnya membentuk front untuk melawan dominasi Amerika Serikat.

alwiTHELONEWOLF

Ulasan Kritis:

Tidak banyak hal diketahui tentang revolusi-revolusi di Negara-negara Amerika Latin. Bahkan, kemenangan-kemenangan penting tokoh-tokoh berhaluan kiri dalam pemilu pun tidak banyak diketahui masyarakat dunia. Hal tersebut wajar terjadi karena memang sebagian besar media massa, nota bene pro-Amerika, tidak menyiarkan momen-momen tersebut untuk menghindari meluasnya revolusi Negara-negara Amerika Latin. Buku ini menyediakan informasi yang pas untuk melihat adanya satu sistem alternatif khususnya bagi negara-negara dunia ketiga.
Pemaparan yang komperhensif tentang revolusi Sandinista di Nikaragua serta ulasan singkat mengenai revolusi berhaluan sama di Negara-negara Amerika Latin disajikan begitu lugas dalam buku ini. Penulis tidak segan-segan menampakkan posisinya. Sebuah kejujuran berkarnya yang patut diakui dalam kondisi saat semua orang malu-malu menampakkan ideologinya. Si penulis tampaknya ingin menginspirasi para pembaca bukunya agar cepat bertindak karena tank-tank neo-liberalisme sedang berarakan keseluruh penjuru dunia melibas apapun yang berdiri dijalurnya. Kalimat-kalimat dalam buku ini disusun untuk membangun efek sadar, bangkit dan melawan penindasan.
Kekuatan buku ini sayangnya harus sedikit terganggu karena lemahnya pemberian landasan teori khususnya yang berhubungan dengan posmodernisme. Analisa akan tesis Fukuyama oleh si penulis pada beberapa bagian cukup lemah. Kelemahan ini lebih terlihat saat si penulis membandingkan teori-teori Marxisme dengan teori-teori dari Neo-Marxisme (Mahzab Frankfurt). Ada beberapa sudut pandang dari Jurgen Habermas dkk yang kurang mendapat perhatian dari sudut pandang Marxisme yang penulis pakai. Kelemahan ini mungkin terjadinya karena pembahasan akan posmodernisme hanyalah sebatas selyang pandang demi jelasnya pemaparan perjuangan revolusioner pejuang-pejuang Sandinista.

alwiTHELONEWOLF

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting

Nikaragua, selama yang saya ingat, hanya menempel di benak saya lewat dua hal: perangko (saya dulu gemar kegiatan filateli) dan berita mengejutkan tentang roti seharga 1 miliar mata uang Nikaragua.

Kalau tidak salah ingat, Juli lalu saya mendengar berita itu. Bahwa Pemerintah Nikaragua mengeluarkan mata uang pecahan 1 miliar. Bayangkan! Selembar uang kertas seharga 1 miliar! Tapi jangan bayangkan bahwa 1 miliar uang Nikaragua sama dengan 1 miliar di Indonesia apalagi di Eropa dan TimurTengah. Uang tersebut hanya seharga satu potong roti saja di sana. Inflasi edan-edanan (kalau tidak salah ingat, sekitar 2 juta persen) membuat negara itu bangkrut!

Itulah perkenalan saya dengan Nikaragua.

***

Mungkin memang kita tidak bisa berharap bahwa mediamassa, cetak ataupun elektronik, mampu sekaligus menghadirkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seluruh pelosok bumi. Sangat masuk akal sekali ketika akhirnya, dengan logika di atas, mediamassa Indonesia memilih(-milih) sajian beritanya. Dan, standar pemilihan tersebut beberapa diantaranya adalah seberapa besar pengaruh peristiwa tersebut, di mana terjadi, siapa dan apa yang terkait, dan seberpengaruh apa siapa dan apa yang terkait itu.

Terang-terangan saja, tidak heran jika berita dari negara-negara adidayalah yang kerap menghiasi halaman/ruang berita internasional di koran-koran dan televisi. Contoh paling menonjol adalah pemilihan Presiden Amerika Serikat. Bahkan, ada beberapa stasiun televisi yang menyediakan ruang dan waktu khusus untuk sesi pidato kemenangan pemilu presiden terpilih, lengkap dengan narasi dan dramatisasinya, yang kesemuanya seakan-akan ingin membuat citra bahwa 'genaplah sudah, dunia akan berubah.' Pada satu titik waktu itu, saya yakin, Presiden AS terpilih sudah lebih tenar dan sohor dari Baginda Yesus.

Apa yang terjadi pada pemirsa yang menyaksikan 'gejolak' yang memperoleh porsi sangat besar dalam perihal penyiaran itu? Saya juga tidak tahu pasti. Belum ada peneliti yang mengkaji seberapa besar pengaruh berita Pilpres AS itu pada bangsa Indonesia, yang mempunyai akses pada mediamassa khususnya. Tapi, inilah praduga saya: bahwa, sama seperti teknik pencitraan dan pengalihan perhatian klasik yang lumrah ditemui pada banyak kasus, seperti itu jugalah kiranya dampak yang ditimbulkan dari pemberitaan yang bombastis dari sebuah peristiwa atau gejolah tunggal.

Lalu, apa kabar Nikaragua?

Tentunya lebih banyak orang yang tidak serta-merta mau berkasak-kusuk dan bertungkus-lumus dengan perburuan peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara-negara tak sohor. Buat apa? (Mungkin begitu di benak mereka).

Tapi, dari yang saya baca di ulasannya kawan Alwi atas buku 'Revolusi Sandinista', saya melihat bahwa tidak seperti itu pertanyaan yang muncul di benak negara-negara gembong kapitalisme. Saya kutipkan kalimat yang ditulis kawan Alwi

Quote:
Tidak banyak hal diketahui tentang revolusi-revolusi di Negara-negara Amerika Latin. Bahkan, kemenangan-kemenangan penting tokoh-tokoh berhaluan kiri dalam pemilu pun tidak banyak diketahui masyarakat dunia. Hal tersebut wajar terjadi karena memang sebagian besar media massa, nota bene pro-Amerika, tidak menyiarkan momen-momen tersebut untuk menghindari meluasnya revolusi Negara-negara Amerika Latin.

Perhatikan klausa 'menghindari meluasnya revolusi Negara-negara Amerika Latin'. Inilah kewaspadaan luarbiasa dari kapitalisme. Lewat piranti apapun itu, tindakan antisipasi selalu dilakukan. Kemungkinan-kemungkinan perluasan gejolak perlawanan ditutup rapat. Gejolak tersebut dikandangkan. Dan manusia-manusia yang hidup di belahan dunia lain, tempat tidak terjadinya gejolak tersebut, hanya akan merasa bahwa dunia ini baik-baik saja.

Tabiat mental semacam ini juga yang membuat isu-isu perbaikan ekologi sering macet. Saya ingat ketika Zizek memberikan contoh tentang pemanasan global. Woro-woro dan gedoran kekhawatiran tentang pemanasan global sudah dihadirkan dengan sangat berapi-api, pun dilengkapi dengan pemaparan yang ilmiah lagi masuk akal. Seminar-seminar banyak dilakukan, propaganda dan kampanye ditebar. Tapi, bayangkan saja diri anda sebagai seorang manusia yang hidup di tempat yang 'cukup nyaman' dilihat dari segi stabilitas ekosistemnya. Anda, biarpun sudah mendengar segala macam tetek-bengek tentang pemanasan global, ketika bangun di pagi yang diselingi kicauan burung dan pendaran sinar matari pagi, melihat keadaan sekitar, menghirup nafas dalam-dalam, dan merasa segar dan hidup, pastinya akan sangat bingung dan cenderung mempersetankan isu tentang pemanasan global. Anda akan berkata pada diri anda, 'pemanasan global adalah omongkosong.'

Seperti itu juga yang terjadi dengan gejala pengandangan gejolak lewat piranti mediamassa, yang sudah menjadi tempat bergantungnya banyak khalayak akan sumber informasi mereka. Kerap sekali terjadi, meskipun tidak selalu, orang merasa baik-baik saja dan, karenanya, menjadi lebih cepat lupa pada sebuah gejolak yang tidak terjadi di depan batang hidungnya: terimakasih pada perbedaan geografis!

***

Apa yang terjadi di Amerika Latin, revolusi-revolusi dan perlawanan-perlawanan yang dikobarkan di sana, mungkin tidak dengan sigap mencuri perhatian banyak orang di sini. Namun, usaha-usaha untuk mengoyak terali yang mengkandangkan banyak gejolak niscaya perlu. Coba tilik sedikit saja sinopsis yang dihadirkan kawan Alwi: perjuangan melawan neo-liberalisme, wacana penanding (anti-tesis) terhadap pernyataan bahwa kapitalisme adalah cara hidup sampai akhir zaman, dll., bukankah hal-hal itu adalah gejolak yang patut diberi perhatian walau terjadi di Nikaragua, dan bukan AS? Kalau negara-negara gembong kapitalisme sudah dengan sangat cermat, awas, dan sangat memperhitungkan segala kemungkinan agar dapat mengandangkan gejala-gejala perlawanan yang mengusik tahtanya, harusnya usaha anti-tesis atas sikap itu juga diperjuangkan.

***

Terima kasih buat kawan Alwi untuk ulasannya.

Salam,
Ginting
(Pengasuh Ruang Ulasan Buku mediasastra.com)