TRACTATUS LOGICO-PHILOSOPHICUS
- Kategori Buku: Lainnya
Kutipan Berkesan:
"What you cannot speak about, pass over in silence"Sinopsis:
Thesis utama Wittgenstein dalam buku ini adalah dunai ini terdiri dari fakta-fakta. Keseluruhan dari fakta-fakta itulah yang membentuk dunia (kenyataan) ini. Fakta-fakta selalu disajikan dalam bentuk bahasa. Hubungan antara fakta dan bahasa inilah yang menjadi titik tolak penulisan buku ini.
Melalui “Tractatus…” Wittgenstein menyampaikan argumennya bahwa bahasa, sebagai alat komunikasi terpopuler di dunia, selalu mengambil bentuk fakta. Bahasa tidak mampu memecah fakta-fakta yang disajikan didalamnya. Objek-objek dalam fakta yang ingin kita komunikasikan selalu berhubungan dengan obyek-obyek lain. Wittgenstein menyebut keadaan obyek-obyek itu dalam satu keadaan yang saling berurusan (state of affairs). Pendapat itu muncul dari kepercayaannya bahwa ruang dan waktu itu tetap. Sehingga obyek hanya dapat dikenali dalam bahasa melalui hubungan-hubungannya dengan obyek-obyek lain. Lantas, hal lain yang juga membantu proses pengenalan obyek-obyek adalah kemungkinan-kemungkinan kondisi obyek-obyek saling berhubungan hal ini disebut “form” (istilah Wittgenstein sendiri).
Berbahasa adalah sebuah tindakan menggambarkan fakta. Sebuah gambar adalah sebuah fakta. Hubungan-hubungan yang terjadi diantara obyek dalam gambar lah yang membuat itu sebuah fakta. Dan dalam berbahasa (menggambar) tadi, kita hanya berhubungan dengan fakta yang ada dan fakta yang tidak ada (bukan logis atau tidak logis). Manusia tidak mempunyai kemampuan berbahasa untuk menkomunikasikan hal yang tidak masuk akal (tidak logis).
Secara singkat ini lah yang dibicarakan Wuittgenstein dalam “Tractatus Logico-philosophicus”
alwiTHELONEWOLF
Ulasan Kritis:
Kesan pertama dari buku ini adalah kepadatannya. Buku ini dengan sangat efisien menyampaikan ide-ide Wittgenstein. Argumen-argumen Wittgenstein digelontorkan melalui pemecahan ide hingga yang terkecil lantas disusun ulang berurutan sesuai dengan besar kecil ide. Urutan-urutan tadi diberi nomor dengan pembagian hingga empat atau lima angka dibelakang koma. Hal itu mungkin dipengaruhi kecintaannya pada matematika. Matematika lah yanga berhasil membuat Wittgenstein menjadi filsuf analitis.
Pengorganisasian ide Wittgenstein ini juga menarik. Penjelasa selalu dimulai dengan satu definisi ide yang dia ingin hantarkan. Kemudian ia lanjutkan dengan ide-ide pendukung dan contoh-contoh. Saking mendetilnya buku ini terkadang membuai pembacanya menjauhi ide awal Wittgenstein. Akan tetapi hal itu dapat diatasi karena dengan system nomor ide awal dapat ditelusuri.
“Tractatus Logico-phliosophicus” berangkat dari ide yang sangat sederhana namun dijelaskan dalam analisa yang mendalam sekaligus ambisius. Wittgenstein tampaknya memaksakan untuk memecah ide-idenya hingga menjadi fakta atomis (istilah Wittgenstein sendiri). Ide-ide ini dipotong-potong menjadi ide-ide yang lebih kecil seakan-akan menghindar dari ide awal sejauh mungkin. Pemaksaan si penulis ini menyebabkan perpindahan ke ide besar selanjutnya seperti sebuah loncatan ke belakang yang jauh dan tampak tak berhubungan.
Lantas, pengulangan tercipta dari mutilasi ide tadi. Beberapa fragmen ide yang sebenarnya sudah tersampaikan dalam gagasan besar sebelumnya kembali dibahas (terbahas). Namun hal ini malah membuat buku ini mengasikkan. Sesekali waktu kita merasa hilang dalam labirin pikiran Wittgenstein. Dan dalam waktu sekejap kita merasa dekat sekali ke pintu keluar. Mungkin cara penyampaian ide ini juga disengaja oleh si filsuf agar para pembacanya tidak kelewatan satu ide pun.
“Tractatus Logico-phliosophicus” mempunyai posisi yang cukup unik sekaligus penting dalam sejarah perkembangan pemikiran. Buku ini seperti jemabatan (masa peralihan) ke satu paham yang dikenal dengan posmodernisme. Buku ini memang hanya sedikit mengandung ide-ide posmois. Namun buku inilah yang membuat Wittgenstein menulis buku selanjutnya (Philosophical Investigation), yang dengan sangat gamblang menjiwai posmodernisme.
alwiTHELONEWOLF











Wittgenstein tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Betrand Russel, dosennya semasa kuliah dulu. Russel adalah seorang filsuf sekaligus matematikawan. Russel lah yang merumuskan penurunan-renik, yang disebutnya aksioma, sehingga sebuah pernyataan dapat dimutilasi menjadi beberapa "kebenaran" logis yang dirunut (hanya) dari konteks struktur sintaksis (urutan kata) pernyataan awal.
logika ini yang dipakai Wittgenstein dalam menulis buku Tractatus Logico Philosophicus, buku yang bahkan Wittgenstein sendiri lupa pernah menulisnya, sampai suatu hari para pemikir dari kaum Schlick, yang sangat tergila-gila dengan pemikiran Wittgenstein, bertandang ke rumahnya dan memintanya menjadi "guru" mereka.
apa yang bisa dicerna dari metode "penurunan-atomik" yang digunakan Wittgenstein dalam, meminjam istilahnya Alwi, menggelontorkan pemikirannya? tentunya sifat analitis dari yang menjadi dampak dari metode itu sendiri. ini membuktikan bahwa bahasa, melalui bangunan kalimat, adalah media penyampaian pesan multi-makna. banyak sekali praduga yang bisa ditebak dari satu kalimat tertentu. misalnya:
1. Presiden Indonesia cacat
1.1. Ada negara Indonesia
1.2. Negara Indonesia memiliki presiden
1.3. Presiden Indonesia (pasti) cacat
nah, ini sekedar contoh. tapi, dari contoh itu saya sendiri dapat mengkritik pernyataan saya. begini, metode yang dipakai Wittgenstein, menurut saya, hanya merupakan bentuk canggih dan mutakhir dari logika formal (silogisme adalah bentuk logika formal). kelemahan dari logika formal adalah sifatnya yang teoretis. maka, sifat ini berbanding lurus pada kebenaran yang dikandungnya. kebenaran dalam logika formal adalah kebenaran yang teoretis pula, kebenaran yang hanya bergantung pada sintaksis kalimat awal (premis awal). masalah terjadi ketika kebenaran itu diangkat ke ranah yang lebih material, ke ranah kebenaran "lingkungan".
Kita mengetahui bahwa memang ada negara Indonesia, dan negara Indonesia memiliki presiden. tapi, turunan-atomik yang terakhir tampaknya meragukan. apakah semua presiden Indonesia cacat? perdebatan akan menjadi lebih rumit ketika kita memaknai kata "cacat". cacat yang bagaimana? cacat tubuh? cacat hukum? cacat moral?
investigasi filosofis memang terjadi pada pemakaian metode filsafat analitis. filsafat analitis memang mudah dihubungkan dengan perkembangan ranah pemikiran posmoderenisme, pemikiran yang meyakini kebenaran-renik, kebenaran mininaratif. apa lagi kalau kita mengintip paham posstrukturalisme, yang, melaui Roland Barthes, mengumandangkan pemikiran bahwa teks mengandung kebenarannya sendiri. masalahnya, apakah kebenaran itu benar-benar benar?
meskipun begitu, sifat analitis dan sifat "membawa orang jauh dari ide awal" dari metode matematisnya Wittgenstein ini sangat menarik untuk diperhatikan. bagaimanapun, saya melihat ada jejak-jejak strukturalisme dalam metode ini. bedanya, kalau strukturalisme membawa orang jauh dari ide awal ke arah yang lebih luas, Tractatus membawa orang jauh ke arah yang lebih renik (atomik). namun, sebenarnya sama saja itu. tokh, yang saya tangkap, teks menjadi sangat tergantung pada teks-teks lain.
terima kasih buat kawan Alwi atas uraian dan ulasannya.
salam,
ginting
(pengasuh ruang Ulasan Buku mediasastra.com)