Ulasan Buku Teori Sastra

8

The Western Canon: The Books and School of the Ages

Kamis, Mei 19, 2011 - 19:17
Pengarang: Harold Bloom
Pengulas: Galang Fitra Wijaya
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

*Fernando: Bagaimana dengan ini: buku “The Western Canon: The Books and School of the Ages” merupakan sebuah ensiklopedia apresiasi Harold Bloom atas karya-karya dua puluh-enam penulis yang menjadi kanon kebudayaan barat. Kalimat tadi aku kira cukup meringkas buku terbitan tahun 1994 oleh Harcourt Brace & Company yang tebalnya hampir enam-ratus halaman ini…

*G.W: Cukup? Ayolah! Untuk modus ‘mengakhiri sesuatu’, tadi itu sangat buruk, Dodo! Lebih buruk dari sekedar ‘cukup’ buruk! Bahkan spanduk-spanduk dekil dan neon box warung-warung di sepanjang pinggiran Jalan Solo jauh lebih provokatif dalam wacana “How to Ease The Hunger of a Poor Flesh”.

*Fernando: Ehm… itu bukan untuk mengakhiri, Gogor sayang! Itu untuk sinopsis, dan untuk mengawali ulasan!

*G.W: Ya.. ya.. Itu awalan! Dan, sebenarnya itu cukup bagus!

*Fernando: Lantas, maukah kau mendengarkanku sampai selesai dan bersikap manis di situ… dan bersikap sopan dengan menjilat kembali nada-nada yang terdengar begitu lapar tadi itu!

*G.W: Kau tuan rumahnya! Dan yang mengundangku ke sini, Dodo, untuk makan malam. Dan aku… memang lapar karena mengingat sahabatku pasti tak senang menyambutku dengan perut sudah terisi. Tapi, Dodo, trims! Aku belum begitu lapar, meski tadi memerankan sesuatu yang ‘begitu’ lapar!

*Fernando: Ya! Dengan senang hati mengundangmu ke sini untuk makan malam. Dan aku juga pasti kurang senang kalau sekarang kau sudah kenyang dengan sesuatu yang kukira kurang sesuai seleramu. Tapi, kau juga sudah membacanya, bukan? Aku tidak akan membiarkanmu masuk rumah ini, makan bebekku, berterima-kasih padaku, lalu begitu saja pulang!

*G.W: Bebek, Dodo? Dipanggang tak terlalu matang? Kecap? Tapi masih asin? Teruskan!

*Fernando: Aku hanya tidak bisa meringkasnya, Gogor! Seperti aku yakin kalau akan lebih baik dalam pembacaan…lebih baik dalam…lebih baik kalau kau, misalnya, setelah mendapat suatu provokasi, apa pun itu, bertemu langsung dengan buku ini.

*G.W: Berpura-puralah! Provokasi…

*Fernando: Ya…ya…kau senang merasa benar di situ dan senang melihat aku menilaiku. Ya..ya.. to Ease the Hunger

*G.W: Tapi, Dod…

*Fernando: Baik! Biarkan saya menunjukkan daftar menunya, Tuan Gogor, tentang wacana How to Ease the Hunger of a Poor Flesh! Buku dengan rangka yang lebar ini terdiri atas lima bab yang diawali dengan “Prawacana dan Pendahuluan” (Preface and Prelude) dan diakhiri dengan “Lampiran” (Appendixes). Pada bagian “Prawacana dan Pendahuluan”, kritikus sastra yang juga dosen Yale ini menjelaskan susunan The Western Canon beserta hal-hal yang mendasari kedua-puluh enam penulis dalam buku ini sebagai pilihannya di antara ratusan penulis lain – yang dianggapnya representasi Kanon Barat. Mengikuti klasifikasi periodis Viconian, apresiasi  Prof. Bloom dimulai dari kanon zaman Aristokratis (The Aristocratic Age), lalu kanon zaman Demokratis (The Democratic Age) dan kanon zaman Kisruh (The Chaotic Age) yang berurutan menjadi bab dua, tiga dan empat buku ini. Secara periodis dari The Divine Comedy karya Dante, sampai Endgame karya Samuel Beckett. Sebelum dan setelah ketiga babakan tersebut, jadi bab pertama dan kelima, dua prosa elegis dengan sub-bab “An Elegy for the Canon” dan “Elegiac Conclusion” ditujukan untuk mengawali dan menutup apresiasinya atas karya-karya unggulan dalam budaya dan sastra barat: dua bab yang tidak melupakan aspirasi dan polemik.

*G.W: Bravo! Braaaaavo!

*Fernando: (membelakangi) Aku benci saat dia berkata seperti itu.

*G.W: Ehm… Bisa langsung kita ke makan malam?

*Fernando: Adakah kepuasan lain untukmu selain makanan dan ejekan-ejekan singkat yang sungkan jadi kalimat itu?

*G.W: Aku tidak mengejekmu, Dodo! Tidak sama sekali! Makanan membahagiakanku, tentu, khususnya yang melibatkan dan mengajar seleraku. Selera itu berguna. Dengannya, seseorang menyempurnakan caranya menjamu orang lain, seperti kau mengajariku. Cukup bagus, Dodo! Seperti kataku tadi, dan tak ada yang mengecewakan dalam presentasimu itu. Hanya saja, bebek yang entah dipanggang atau tidak itu sepertinya lebih menggodamu untuk menggodaku… untuk menjadikannya awalan dan akhiran sekaligus. Maksudku, sediakan ruang untuk bernafas di sana. Kau tidak akan hanya mengundangku, menunjukkan bebekmu itu, lalu menyuruhku pulang, bukan? Pasti kau akan menyambutku; mengambil satu-dua topik yang bisa kita pamerkan, debatkan, candakan satu sama lain; sebelum kita terduduk dan sebentar mengagumi, merenungkan, mungkin menerka apa dan bagaimana yang terhidang di depan kita; memutuskan mencicipi, dan melanjutkan melahapnya. Untuk kau dan aku, mungkin kita akan mengulas sebentar apa yang kita nikmati tadi. Tapi mengingat kesopanan lebih utama, untukmu, daripada selera, barangkali kau lebih memilih untuk tidak membicarakannya – baik itu nanti berupa tanya-jawab, kritik, pujian, atau protes sekalipun. Tapi sungguh, Dodo, aku ingin… nantinya berpamitan dengan janji bahwa aku akan menepati undangan makan malam darimu lagi, atau kau pasti datang mengunjungiku dan bermakan malam di Klaten, hanya untuk tak membiarkan lapar perut dan otak…juga rindu… Oh! Ususku pun merasakan rindu…

*Fernando: Kau juga sudah membaca buku ini, Gogor! Sekarang begini, setelah cukup kau memerankan kelaparan padaku, baiknya kita menikmati engkau memerankan pengulas buku dulu. Setelah itu, kita makan.

*G.W: Ah, tuan pengulas buku, dengan senang hati! Saya pegang kalimat Anda tadi.

8

Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca-yang-Tak-Bersih

Kamis, Maret 3, 2011 - 14:09
Pengarang: Afrizal Malna
Pengulas: Wahmuji
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

Tulisan-tulisan dalam buku Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca-yang-Tak-Bersih (selanjutnya disebut ‘SI’)awalnya adalah esei yang tersebar di berbagai mediamassa dan makalah untuk seminar di berbagai kota di Indonesia. Khusus demi koherensi pembahasan dalam buku ini, semua esei dan makalah itu mengalami proses tulis-ulang.

SI secara umum membicarakan fenomena sastra, khususnya puisi, sebagai “kompleks teks”, yakni “kompleks yang dibangun antara sastra sebagai ‘pernyataan’ yang melahirkannya dan kehidupan sastra sebagai ‘kenyataan’ yang membentuknya.” Maka, tema yang diangkat dalam buku ini pun beragam, dilahirkan dari kehidupan puisi itu sendiri, beserta realitas lain yang hidup bersamanya, termasuk pernyataan penyair maupun hadirnya televisi di ruang tamu kita.

Buku ini dibagi menjadi 7 bab ditambah Prolog (Epilog masuk dalam bab terakhir). Bab I, “Puisi dari Teks-teks Pertama”, yang dibagi lagi menjadi empat sub-bab, berbicara mengenai puisi dan dunia kepenyairan. Dalam sub-bab pertama, “Lingkungan Penalaran dari Negari”, Afrizal menjabarkan bahwa dari 73 puisi karya 51 penyair yang ia periksa, secara umum definisi atas puisi didominasi oleh kata rahasia dan misteri (ruang menyelenggarakan sunyi, kata-kata sepi, pertemuan sepi, suara aneh, suara nyawa). Semua kata-kata ‘misteri’ itu memiliki fungsi estetis untuk memenuhi daya pesona. Ini juga menunjukkan adanya pergeseran prosedur estetis, yakni dari alam ke kesunyian (penyair-penyair lama, seperti J.E. Tatengkeng, memperlakukan alam sebagai prosedur baku estetika). Dalam sub-bab selanjutnya, Afrizal menggeser fokus pembicaraan mengenai kepenyairan. Setelah memeriksa teks-teks mengenai kepenyairan, Afrizal kemudian membagi realitas kepenyairan menjadi dua, yakni realitas sosiologis dan realitas dunia kreatif. Sub-bab ketiga membicarakan puisi pada dekade 1970an. Di masa ini, menurut Afrizal, “puisi tidak hanya tetap mempertahankan penalaran-penalaran utamanya yang bersikukuh pada otoritas kata,” tapi juga, “muncul usaha untuk melakukan liberalisasi media puisi untuk menggoyahkan otoritas itu.” Sub-bab terakhir, “Biografi Pembaca dan Biografi Penyair”, membicarakan dominasi biografi penyair atau tokoh sebagai prosedur pemaknaan puisi.

Bab II, “Rumah Tangga Jurnalisme Puisi”, dibagi menjadi tiga sub-bab, menjabarkan fenomena kritik puisi di Indonesia beserta media yang melahirkannya. Jumlah kritikus yang jauh lebih kecil daripada sastrawan, padahal tanggung jawab kritikus sangat besar, membuat korespondensi teks-teks puisi jadi minim. Kerja pembacaan puisi pun masih dianggap kerja penafsiran. Akibatnya, transformasi wacana jadi macet. Dalam bab ini juga dibicarakan kisah kritik ‘puisi gelap’ sebagai bagian dari sejarah kritik puisi yang pernah hadir di Indonesia.

Bab III, “Narasi-narasi Manusia dalam Puisi”, dibagi menjadi tiga sub-bab, membahas antroposentrisme puisi, teologi puisi, dan gender puisi. Sub-bab pertama membicarakan kualitas subjektif aku-lirik dari masa ke masa, mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Sub-bab kedua membahas pergeseran ‘spiritualisme keindahan’ ke ‘spiritualisme kerusakan’. Sub-bab terakhir membahas bagaimana penyair perempuan Indonesia berbicara mengenai laki-laki dan kekuasaannya; dan penyair laki-laki mengenai perempuan. Penyair perempuan sering berbicara mengenai laki-laki yang menindas dan sering berkhianat, sedangkan penyair laki-laki di satu sisi tampak menganggap perempuan sebagai ibu dan rumah tempat ia mendapatkan kasih tiada akhir dan tempat pulang, dan, di sisi lain, sebagai sosok yang kejam dan penuh misteri.

Bab IV, “Arsitektur Komunikasi Puisi”, membahas puisi sebagai salah satu cara komunikasi manusia dan membandingkannya dengan cara komunikasi yang lain di sub-bab pertama; rasionalisasi kata dan benda-benda di sub-bab kedua. Perubahan yang berlangsung dalam masyarakat mencipta tegangan sendiri dalam dunia puisi dalam membangun arsitektur komunikasinya. Benda-benda mulai masuk ke dalam puisi, menggugat otoritas kata.

Bab V, “Kolonialisme, Urbanisasi, dan Modernisme”, dibagi menjadi tiga bagian, membahas apa yang sudah maktub dalam tajuknya, terutama di dalam puisi. Sub-bab pertama, “Geografi Sastra dan Struktur Keterasingan”,  membahas struktur pengasingan sastra yang berlangsung lewat kolonialisme dan modernisme. Di sini, Afrizal melihat bahwa “kesusastraan Indonesia kehilangan toleransinya terhadap ruang habitat pertumbuhan sastra derah”. Di sub-bab selanjutnya, Afrizal mengandaikan perjalanan puisi modern sebagai perjalanan dari desa ke kota-kota besar. Puisi modern, kemudian, tampak sebagai produk dari kota. Sedangkan desa atau dusun bergeser dari realitas nyata menjadi realitas transenden dan realitas moral. Afrizal fokus di desa dalam sub-bab ini, dan mengalihkan fokus ke kota di sub-bab berikutnya, “Ruang Kota dan Teks-teks Modernisme”. Hubungan puisi dengan kota-kota besar adalah hubungan satu konteks dalam kerangka modernisasi di Indonesia. Puisi sering menggambarkan ruang kota sebagai ruang kekerasan dari teks-teks modernisasi yang berlangsung. Bahkan, ada kecenderungan dalam puisi untuk menegasikan teks-teks modernisme. Fenomena ini membuat Afrizal menarik kesimpulan bahwa “pemberontakan konvensi  sebagai prosedur besar dalam modernisme, di baliknya ternyata masih mempertahankan satu bentuk harmoni yang belum jelas konsepnya.”

Bab VI, “Kolonialisme Puisi”, membahas puisi dalam hubungannya dengan politik. Sub-bab pertama, “Subnasional Sastra dan Rasialisme Sastra“, menggambarkan terjadinya pemusatan dan hierarki sastra beserta lembaga-lembaga publik yang mendukungnya. Pemusatan dan hierarki ini tetap berdiri tegak meski mendapat banyak perlawanan dan kritik; menjadi tempat bersarang sastrawan yang menyembunyikan dirinya dalam menara pusat, menghindari dialog yang mampu menggoyahkan reputasi mereka. Akibatnya, terjadi perang dingin yang tidak produktif. Sub-bab kedua, “Puisi dari Kisah-Kisah Politik” menjabarkan fenomena sastra/puisi yang tersubordinasi dari politik dan sebaliknya, menjadi kontrol atas kekuasaan. Sub-bab terakhir membicarakan “Beban-Beban Politik Antargenerasi” dari Pujangga Baru-Angkatan ’45-Angkatan Baru-Lekra-Manikebu. Politik antar-generasi, yang hampir selalu membangun kerangka ideologisnya lewat klaim-klaim budaya, seperti berada dalam ketegangan tesis dan antítesis. Hadirnya angkatan beserta konflik-konfliknya ini, bagi Afrizal, tidak hanya merupakan bentuk legitimasi, tetapi juga penerapan dari kebutuhan untuk selalu menautkan sastra dengan sejarah-sejarah besar yang berkaitan dengan sejarah nasional. “Dengan personifikasi ini,” tulis Afrizal, “setiap angkatan seperti telah memberikan kontribusi yang spesifik terhadap nasionalisme.”

Bab terakhir, “Epilog”, dibagi menjadi tiga bagian, memberikan kesimpulan atas apa yang terjadi dalam dunia sejarah puisi dan kepenyairan di Indonesia; mengajukan argumen pengutipan teks; dan mendaftar leksikon para penyair. Afrizal menyatakan, “Pembaca tidak memesan sastra modern.” Sastra hidup dalam lingkungannya sendiri, bergejolak dengan kegelisahannya sendiri; sedangkan masyarakat di satu sisi masih menganggap sastra sebagai panutan dan pedoman, dan di sisi lain hidup dalam budaya konsumeris dengan beragam hasil teknologi yang masuk ke ruang paling privat dalam hidup mereka.

8

Literary Theory: A Very Short Introduction

Sabtu, Februari 19, 2011 - 01:23
Pengarang: Jonathan Culler
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

Buku Jonathan Culler ini adalah salah satu buku dari seri ‘a very short introduction’ dari penerbit Universitas Oxford. Sesuai dengan tajuknya, setiap buku dari seri ini dimaksudkan untuk menjelaskan setiap tema yang diangkat dengan singkat namun tetap memberikan penjelasan yang memadai bahkan untuk konsumsi orang dari luar disiplin tema yang diangkat (seperti jargon seri ‘a very short introduction’: bahwa seri ditujukan bagi “siapa saja yang menginginkan sebuah cara yang mendukung dan terjangkau pada obyek baru”). Profesor Culler mendapat jatah mengupas tentang teori sastrawi (seperti salah satu mata kuliah yang ia ampu di Universitas Cornell, Amerika).

Layaknya kebanyakan buku pengantar sastra(wi), penulis melakukan tarikan ke belakang (ontologis) ke dasar ide tentang teori sastrawi, dan Culler juga melakukannya. Yang luar biasa, ia memutuskan untuk memulai dari sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, dan cenderung dilupakan, seperti: “Apa itu teori?”

Tanpa embel-embel apapun di belakang kata ‘teori’, Culler mencoba mencari definisi tentang teori. Untuk mendapatkan definisi tersebut, ia menggunakan dua teori milik dua filsuf berkewarganegaraan sama, Foucault dan Derrida. Culler memilih kedua filsuf tersebut karena dua teori mereka sangat sering dibicarakan di ranah akademis sastra. Padahal, menurut Culler, keduanya bukanlah teoretikus sastra; Foucault fokus pada sejarah pokok-hal yang dikesampingkan, seperti seksualitas, dan Derrida lebih pada bahasa. Lantas kenapa teori mereka sampai bercokol begitu mantapnya di ranah sastra? Dari sinilah buku ini dimulai oleh Culler.

Setelah memberi pengantar tentang ‘teori’ (tanpa 'sastra(wi)' sebagai kata penjelas), Culler langsung masuk ke ranah sastra dan lagi-lagi memberi tajuk babnya dengan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, “Apa itu sastra dan apa pentingnya?” Culler, pada bab tersebut, mengetengahkan dua nosi tentang sastra: apa ia sebuah bahasa yang disusun sedemikian rupa? Ataukah, ia hanya sekumpulan tulisan yang diberi label ‘sastra’ melalui pendapat umum? Culler mengiyakan keduanya, namun tetap memberi jalur berpikir yang cukup jelas untuk berlanjutnya ide di buku ini dengan menarik kesimpulan tentang ciri-ciri (karya) sastra.

Yang pertama, sastra adalah sebuah ‘pe-latardepan-an’ (foregrounding) bahasa. Penjelasan singkatnya, sastra adalah bahasa yang ditata secara khusus (misalnya dengan peralatan musikalnya seperti rima), namun pada akhirnya, seberapapun aneh penataannya, ia hanya akan kembali mengarah pada dirinya sendiri (bahasa). Kedua, sastra sebagai integrasi bahasa. Penggabungan elemen-elemen bahasa untuk mencapai makna adalah ciri integrasi ini. Ketiga adalah sastra sebagai fiksi. Keempat adalah sastra sebagai obyek estetika: selalu ada keindahan di karya sastra. Yang terakhir, kelima, adalah sastra sebagai bangunan-yang-menceritakan-dirinya-sendiri. Bangunan ini adalah sekumpulan karya sastra yang memiliki hubungan intertekstual dan setiap karya sastra mencerminkan bangunan ini (itulah kenapa bangunan ini menceritakan dirinya sendiri).

Setelah memberikan kesimpulannya tentang sastra, Culler pun melangkah ke teori sastrawi pada awalnya. Culler mendedikasikan dua bab, bab 5 dan bab 6, untuk membicarakan dua teori sastrawi yang menjadi dasar, atau sebelum, berkembangnya semua teori sastrawi (ideologi) yang dikenal saat ini. Culler, pada bab 5 dan 6, membagi dua jenis teori sastrawi yang pada awalnya digunakan untuk meneliti (mengidentifikasi) sastra. Untuk puisi, ia mengajukan teori puitika, yang merupakan turunan dari retorika, dan untuk prosa, ia mengajukan teori narasi. Di sana, ia mengupas elemen-elemen dalaman yang terdapat pada karya sastra, semisal metafora atau metonimi di puisi, dan alur serta cerita, pada prosa. Kemudian, pada dua bab terakhir, Culler membatasi pembicaraan pada aspek bahasawi pada sastra, termasuk mengajukan ide sastra sebagai performative language (setelah pemaknaan-ulang antara performative language dan constantive language). Secara singkat, sastra adalah penggunaan bahasa yang menyatakan sebuah ide menggunakan metode representasi (sekilas menggambarkan seperti apa adanya, terutama di prosa).

Pada bab terakhir, Culler masuk lebih dalam ke ranah bahasa (khususnya politik penggunaannya) dengan usaha pembacaan kritis atas karya sastra yang mencoba melakukan semacam identifikasi identitas. Teori-teori sastrawi macam feminisme, psikoanalisa, poskolonialisme mulai diperkenalkan mengingat perihal identitas merupakan isu utama yang dibawa dalam ideologi-ideologi tersebut.

8

A Glossary of Literary Terms

Rabu, Januari 5, 2011 - 00:58
Pengarang: M. H. Abrams
Pengulas: Wahyu Adi Putra...
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

Glosarium (padanan: daftar kata) ini adalah kumpulan istilah-istilah yang umumnya diterapkan dalam bidang kajian sastra, baik itu dalam hal pengelompokan, penafsiran, analisis, atau sejarah karya sastra. Selain istilah, glosarium ini juga mencakup penjelasan ringkas tentang teori-teori kritis yang selama ini telah menjadi komponen komplementer bidang ilmu kajian sastra.

A Glossary of Literary Terms yang saya ulas ini adalah buku edisi ketujuh. Struktur buku ini terbagi menjadi beberapa bagian: ‘Preface’, ‘A Note to the Reader’, ‘Literary Terms’, ‘Index of Authors’, dan ‘Index of Terms’ (terj. ‘Prawacana’, ‘Catatan untuk Pembaca’, ‘Istilah-istilah Sastrawi’, ‘Indeks Pengarang’, dan ‘Indeks Istilah-istilah’). Beberapa perubahan dan penambahan, sebagai tanggapan atas masukan para pengguna glosarium ini, telah dilakukan oleh penulisnya. Untuk perihal penambahan, misalnya, edisi ketujuh ini memiliki lebih dari seratus butir masukan tambahan dibanding edisi sebelumnya. Perkara perubahan: buku edisi ketujuh ini hanya terdiri dari satu bangunan inti, yaitu: ‘Literary Terms’ (terj. ‘Istilah-istilah Sastrawi’). Ini berbeda dengan buku edisi keenam, yang terdiri dari dua bangunan utama, yaitu: ‘Literary Terms’ dan ‘Modern Theories of Literature and Criticism’ (terj. ‘Istilah-istilah Sastrawi’ dan ‘Teori-teori Modern Sastra dan Kritik’). Bangunan utama kedua dalam edisi keenam ini ternyata tidak hilang, tapi di edisi ketujuh, atas saran pembaca, dilebur ke dalam bagian ‘Literary Terms’.

Glosarium ini memiliki teknik-bacanya sendiri. Hal tersebut dijelaskan oleh penulisnya di bagian ‘Preface’ dengan tajuk ‘How to Use the Glossary’ (terj. ‘Cara Menggunakan Glosarium Ini’). Selain itu, ketersediaan indeks pengarang serta indeks istilah-istilah memudahkan pembaca untuk langsung mengacu pada satu pengarang atau istilah tertentu tanpa perlu repot mencarinya dari awal daftar.

8

TENTANG IDEOLOGI: Marxisme struktural, Psikoanalisa, dan Cultural Studies

Kamis, Maret 12, 2009 - 10:12
Pengarang: Louis Althusser
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

Buku ini mengulas ideologi dari sisi Marxisme struktural, Psikoanalisa serta menempatkannya dalam cultural studies.

8

MENOLAK POSMODERNISME

Senin, Desember 29, 2008 - 14:13
Pengarang: Alex Callinicos
Pengulas: Alwi Atma Ardhana
Kategori: Teori Sastra

Sinopsis:

Buku berjudul asli Rejecting Postmodernism; a Marxist Study, ini mencoba membedah posmodernime dan pos-strukturalisme dari kacamata seorang dosen sejarah Marxis. Oscar Wilde pernah berkomentar “dengan sangat menyesal saya katakan kita tengah hidup di jaman yang dangkal”. Komentar tersebut ia arahkan kepada suatau fenomena sosiologis yang bernama posmodernisme. Dan kalimat dari Wilde tersebut mungkin yang menggelitik Callinicos untuk menulis buku ini.
Callinicos menyusuri jalan setapak nan gelap yang menelurkan posmodernisme. Gembar-gembor posmodernisme selalu dikaitkan dengan relativisme milik Nietzsche. Dan dari Nietzsche lah Callinicos memulai perjalanan panjang dan berkelok-keloknya untuk mendapati sebuah jawaban dari pertanyaan yang tak banyak orang berani mencoba menguak; apa sebenarnya motivasi posmodernisme?
Buku ini bak gerbong lengkap para posmois yang berhenti sejenak dan berjalan mundur dengan kecepatan kilat dan mencapai puncak pohon silsilahnya. Lantas, gerbong itu dilepas berjalan ke depan lagi dengan memperhatikan sisi-sisi yang terlewatkan diperjalanannya terdahulu. Callinicos memulai dengan merumuskan jargon-jargon posmodernisme dan “saudara tua”nya, modernisme. Disinilah keraguan atas klaim “pos” didepan nama modernisme mulai meletup-letup ingin segera dipecahkan. Pada bab selanjutnya, berdasar dari keraguan itu Callinicos menemukan landasan yang “terlupa” dilihat oleh para penganut posmodernisme yaitu kapitalisme. Setelah mempunyai motif yang kuat, pembongkaran dilanjutkan dengan menaruh aporia-aporia pos-strukturalisme ke atas meja operasi. Rasionalitas, resistensi dan subyektifitas khas pos-strukturalisme dibaca keras-keras dan gaungnya ternyata bersuara lain. Paradoks-paradoks bermunculan dan satu keterlanjutan (kesamaan) ternyata ditemukan. Posmodernisme = Modernisme.