Ke Atas ^
  • A Glossary of Literary Terms

    Detail Buku

    Pengarang : M. H. Abrams

    Penerbit : Heinle & Heinle

    Bahasa : Inggris

    Asli Terjemahan : Asli

    Tahun terbit : 1999

    Kota terbit :

    Rating : 80

    Kutipan berkesan

    “The Glossary presents a series of succinct essays in the alphabetic order of the title word or phrase”

     

    (terj. “Glosarium ini menghadirkan serangkaian esei padat dalam urutan abjad kata atau frasa tajuk yang menjadi isiannya”

     

    Sinopsis

    Glosarium (padanan: daftar kata) ini adalah kumpulan istilah-istilah yang umumnya diterapkan dalam bidang kajian sastra, baik itu dalam hal pengelompokan, penafsiran, analisis, atau sejarah karya sastra. Selain istilah, glosarium ini juga mencakup penjelasan ringkas tentang teori-teori kritis yang selama ini telah menjadi komponen komplementer bidang ilmu kajian sastra.

    A Glossary of Literary Terms yang saya ulas ini adalah buku edisi ketujuh. Struktur buku ini terbagi menjadi beberapa bagian: ‘Preface’, ‘A Note to the Reader’, ‘Literary Terms’, ‘Index of Authors’, dan ‘Index of Terms’ (terj. ‘Prawacana’, ‘Catatan untuk Pembaca’, ‘Istilah-istilah Sastrawi’, ‘Indeks Pengarang’, dan ‘Indeks Istilah-istilah’). Beberapa perubahan dan penambahan, sebagai tanggapan atas masukan para pengguna glosarium ini, telah dilakukan oleh penulisnya. Untuk perihal penambahan, misalnya, edisi ketujuh ini memiliki lebih dari seratus butir masukan tambahan dibanding edisi sebelumnya. Perkara perubahan: buku edisi ketujuh ini hanya terdiri dari satu bangunan inti, yaitu: ‘Literary Terms’ (terj. ‘Istilah-istilah Sastrawi’). Ini berbeda dengan buku edisi keenam, yang terdiri dari dua bangunan utama, yaitu: ‘Literary Terms’ dan ‘Modern Theories of Literature and Criticism’ (terj. ‘Istilah-istilah Sastrawi’ dan ‘Teori-teori Modern Sastra dan Kritik’). Bangunan utama kedua dalam edisi keenam ini ternyata tidak hilang, tapi di edisi ketujuh, atas saran pembaca, dilebur ke dalam bagian ‘Literary Terms’.

    Glosarium ini memiliki teknik-bacanya sendiri. Hal tersebut dijelaskan oleh penulisnya di bagian ‘Preface’ dengan tajuk ‘How to Use the Glossary’ (terj. ‘Cara Menggunakan Glosarium Ini’). Selain itu, ketersediaan indeks pengarang serta indeks istilah-istilah memudahkan pembaca untuk langsung mengacu pada satu pengarang atau istilah tertentu tanpa perlu repot mencarinya dari awal daftar.

    Ulasan Buku


    Apa makna kata glosarium? Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV memaknai lema glosarium sebagai (1) ‘kamus dalam bentuk yang ringkas’ dan (2) ‘daftar kata dengan penjelasannya dalam bidang tertentu’. Untuk lebih jelas lagi memahami kata glosarium ini, mari kita telisik makna etimologisnya.

    Kata glosarium berakar pada kata dasar bahasa Yunani glôsa, artinya ‘bahasa’. Kata dasar ini menurunkan bentuk kata berimbuhan lainnya: glōssárion, yang punya makna diminutif (makna yang menerangkan ‘bentuk-kecil’ dari sesuatu). Jadi, arti harfiah glōssárion adalah ‘bahasa dalam bentuk kecil’, yang kemudian dipahami maknanya menjadi ‘kumpulan kata-kata’. Bahasa Latin kemudian menyerap kata ini ke dalam bentuk glōssarium, artinya ‘kata-kata sukar yang butuh penjelasan’. Makna khusus inilah yang menjadi dasar pemaknaan lema glosarium dalam bahasa Indonesia: ‘daftar kata dengan penjelasannya dalam bidang tertentu’.

    Bagaimana dengan makna yang pertama, yang tertera juga dalam KBBI IV? Saya anggap makna tersebut tidak pas dengan konteks ulasan kita kali ini. A Glossary of Literary Terms bukanlah sebuah ‘kamus dalam bentuk yang ringkas’. Kata ringkas dalam makna leksikal itu yang menjadi masalah. Buku ini adalah sebuah daftar istilah dalam bidang tertentu (sastra dan kajian sastra) yang disertai penjelasan cukup memadai. Penjelasan yang menyertai setiap butir masukan glosarium justru jauh lebih panjang dan padat-berisi ketimbang penjelasan definisi ala kamus umum (KBBI IV, contohnya). Bila ditimbang dari jumlah butir masukannya, memang sebuah glosarium punya entri yang lebih sedikit dibanding kamus; karena glosarium hanya menyoroti istilah-istilah yang ada dan diterapkan dalam satu bidang tertentu.

    Saya menghadirkan kalimat “The Glossary presents a series of succinct essays in the alphabetic order of the title word or phrase” sebagai kutipan berkesan untuk buku ini. Pusat perhatian saya pada kalimat itu tertuju pada frasa ‘a series of succinct essays’. Saat membaca frasa ‘serangkaian esei padat’ ini, saya langsung membayangkan bahwa yang akan saya temukan sebagai penjelasan atas setiap butir istilah sastrawi yang maktub dalam buku ini bukanlah penjelasan sekedar, atau penjelasan sambil-lalu.

    Sebagai contoh, biar saya buatkan perbandingannya. Misalnya, kata alegori. Kata ini sudah menjadi butir masukan dalam KBBI IV. Di situ, makna yang diberikan seperti ini:

    ale.go.ri n Sas cerita yg dipakai sbg lambang (ibarat atau kias) perikehidupan manusia yg sebenarnya untuk mendidik (terutama moral) atau menerangkan sesuatu (gagasan, cita-cita, atau nilai kehidupan, spt kebijakan, kesetiaan, dan kejujuran)

    Bandingkan dengan penjelasan yang diberikan oleh A Glossary of Literary Terms:

    Allegory. An allegory is a narrative, whether in prose or verse, in which the agents and actions, and sometimes the setting as well, are contrived by the author to make coherent sense on the "literal," or primary, level of signification, and at the same time to signify a second, correlated order of signification.

    (terj. Sebuah alegori adalah sebuah naratif, baik dalam prosa atau syair, dalam mana pelaku [tokoh] dan tindakan, dan kadang juga latar, disusun oleh pengarang untuk membuat pengertian koheren atas level makna ‘harfiah’, atau utama, dan pada saat yang sama juga mengacu pada makna urutan kedua yang berhubungan dengan yang pertama.)

    Inilah yang ada di benak saya saat membaca definisi allegory dalam A Glossary of Literary Terms: membingungkan – bahasa yang digunakan terlalu teknis dan cenderung berbelit-belit. Tapi, setelah saya susuri struktur kalimatnya, saya kemudian mahfum bahwa itu hanya kesan sekilas saja. Bila kita bandingkan dengan definisi alegori yang disajikan KBBI, maka akan terlihat kekurangan informasi teknis dalam KBBI. Dalam A Glossary of Literary Terms kita memperoleh pengetahuan tentang apa saja unsur alegoris dalam bangunan intrinsik karya sastra: pelaku (tokoh), tindakan, dan kadangkala latar. Juga, kita diberitahu bahwa sebuah alegori tampil dalam rupa susunan naratif yang membuat makna ‘harfiah’ dari cerita tersebut mengacu secara koheren kepada makna keduanya. Inilah yang dimaksud KBBI IV dengan ‘ibarat’ atau ‘kias’.

    Pemahaman saya tentang alegori jadi semakin terang-benderang sebab A Glossary of Literary Terms tidak berhenti pada definisi satu-kalimat itu saja (ingat: seperti yang diutarakan penulisnya, M. H. Abrams, penjelasan untuk setiap istilah disusun dalam sebuah esei padat; dan tidak mungkin sebuah esei terdiri dari satu kalimat saja!). Masih ada lebih dari satu paragraf tambahan yang menjelaskan apa itu alegori. Informasi yang tersedia tidak berhenti pada titik definisi saja. Untuk perihal allegory, misalnya, masih ada informasi tentang dua tipe utama alegori: historical and political allegory (terj. alegori sejarawi dan politis) dan the allegory of ideas (terj. alegori gagasan). Informasi lain, yang tidak mungkin ditemukan dalam sebuah kamus biasa, adalah contoh-contoh alegori dalam berbagai karya sastra. M. H. Abrams menyajikan contoh karya sastra alegoris mulai dari Absalom and Achitophel-nya John Dryden sampai Divine Comedy-nya Dante. Contoh-contoh ini masih dilengkapi lagi dengan kutipan-kutipan langsung dari karya sastra yang sedang diacu. Selain itu, dalam esei padat penjelasan untuk istilah allegory ini, M. H. Abrams sekaligus juga menyajikan istilah-istilah lain yang punya sangkut-paut dengan allegory, misalnya: allegorical imagery, fable, beast fable, parable, dan exemplum (terj. tamsil alegoris, dongeng, dongeng binatang, perumpamaan, dan eksemplum). Masing-masing istilah yang punya hubungan dengan istilah allegory ini pun disajikan pengertian serta contoh-contohnya. Konsep penyajian istilah-istilah lain yang bertautan dengan istilah yang sedang dibahas ini diterapkan M. H. Abrams untuk menghindari pembacaan tumpul, pengulangan dan acu-silang yang berlebihan, juga salah-tafsir – mengingat banyak istilah sastrawi yang hanya dapat dipahami secara jernih apabila istilah tersebut ditempatkan pada konteks konsep-konsep lain yang berhubungan, bersinggungan, atau bertentangan dengannya.

    Kita memang dapat mendebat bahwa, bagaimanapun, esei padat yang menjadi penjelasan untuk setiap istilah yang menjadi butir masukan dalam buku ini tidak/kurang cukup untuk memahami setiap konsep istilah sastrawi secara lengkap, penuh, utuh. Ini benar. Bukankah satu istilah dalam sastra saja, metafora, misalnya, dapat dibahas ke dalam satu buku tebal sendiri? A Glossary of Literary Terms bukan tak mengakui ‘kekurangannya’ ini. Nah, untuk itulah, di akhir setiap esei selalu terdapat informasi tentang pustaka-pustaka rujukan yang secara khusus membahas istilah sastra tertentu. Dan memang sampai di situ sajalah kapasitas sebuah glosarium.

    Saya sengaja tidak memberikan kritik untuk isi dari esei-penjelasan yang ada di buku A Glossary of Literary Terms ini. Hal itu bisa saya bahas di lain tempat waktu dan, tidak dalam bentuk ulasan buku dan tidak sekarang (saya butuh lebih banyak waktu untuk melakukannya). Akan tetapi, saya bisa memberikan sebuah ‘peringatan’ pada para pembaca buku A Glossary of Literary Terms di Indonesia. Begini:

    Saya menemukan kalimat seperti ini di paragraf pertama dari bagian ‘Preface’: “The individual entries, together with the guides to further reading included in most of them, are oriented especially toward undergraduate students of English, American, and other literatures” (terj. “Butir-butir masukan, bersama dengan panduan menuju bacaan lebih lanjut yang termasuk dalam sebagian besar butir masukan tersebut, diorientasikan secara khusus untuk mahasiswa strata-satu di bidang ilmu sastra Inggris, Amerika, dan sastra lainnya”).

    Untuk menanggapi kalimat ini, saya tidak memusatkan perhatian saya pada frasa ‘mahasiswa strata-satu’ karena buku ini, seperti diakui M, H, Abrams sendiri, juga sangat berfaedah bagi mahasiswa pascasarjana. Perhatian saya justru tertuju pada frasa ‘di bidang ilmu sastra Inggris, Amerika, dan sastra lainnya’. Ini yang, bagi saya, harus diingat oleh pembaca yang punya kepentingan di luar sastra Inggris dan Amerika. Bagi saya, M. H. Abrams terlalu simplistis saat dia menamai sastra Indonesia, sastra Arab, sastra Afrika, sastra Jawa, sastra Cina, atau sastra Batak dalam frasa ‘sastra lainnya’. Saya tidak mengatakan bahwa semua istilah yang terdapat di buku A Glossary of Literary Terms ini tidak bisa dipakai untuk membahas karya sastra Jawa atau Indonesia, misalnya. Tapi, saya ingin mengatakan bahwa buku A Glossary of Literary Terms TIDAK merangkum SEMUA istilah-istilah sastra (dalam pengertian: sastra manapun). Apakah macapat tidak layak disebut sebagai istilah sastra (Jawa)? Apakah macapat terdapat dalam A Glossary of Literary Terms? Tidak. Apakah A Glossary of Literary Terms telah merangkum semua istilah dalam bidang ilmu ‘sastra lainnya’ di luar sastra Inggris dan Amerika? Tidak.

    Lebih lagi, bagaimana dengan istilah-istilah sastra yang acap kita dengar di Indonesia: pantun, syair, dan gurindam? Satu contoh menarik: Prof. Teeuw pernah menyebut karya Muhammad Yamin, “Tanah Air”, sebagai sebuah soneta. Padahal, “Tanah Air” sesungguhnya adalah sebuah syair. Kasus ini membuktikan bahwa istilah-istilah sastrawi yang lazim digunakan dalam kajian sastra Barat boleh jadi tidak memadai untuk mengkaji ‘sastra lainnya’. M. H. Abrams dan Prof. Teeuw punya kesamaan, rupanya. 

     Bagi saya, akan lebih bijak jika M. H. Abrams mengatakan bahwa A Glossary of Literary Terms “diorientasikan secara khusus untuk mahasiswa strata-satu di bidang ilmu sastra Inggris dan Amerika” daripada memukul-rata semua sastra di dunia ke dalam satu frasa pendek, dan cenderung melecehkan, semacam ‘sastra lainnya’. Kalimat M. H. Abrams dalam ‘Preface’-nya itu, dan penyangkalan yang dapat dilakukan atasnya, merupakan bukti bahwa, bagaimanapun, A Glossary of Literary Terms adalah buku yang punya keterbatasan: ia tidak, atau belum, merangkum istilah-istilah sastrawi dari ranah ‘sastra lainnya’. Saya pikir, judul buku ini pantasnya direvisi juga.


    | Link | Dibaca 3660 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Blog Terbaru


Pesan Ayah
Tanah Lama
BIDADARI SURGA
KETIKA
Produktivitas Oh Produktivitas
Himpunan Semesta
Sarang-Kalong
coretan suka-suka

Almanak


Umpan balik

Kirim Umpan balik

Kirimkan keluhan atau saran mengenai situs baru ini :)