Ke Atas ^
  • TENTANG IDEOLOGI: Marxisme struktural, Psikoanalisa, dan Cultural Studies

    Detail Buku

    Pengarang : Louis Althusser

    Penerbit : Jalasutra

    Bahasa : Indonesia

    Asli Terjemahan : Terjemahan

    Tahun terbit : 2008

    Kota terbit :

    Rating : 80

    Kutipan berkesan

    "Ideology has no history"

    Sinopsis

    Buku ini mengulas ideologi dari sisi Marxisme struktural, Psikoanalisa serta menempatkannya dalam cultural studies.

    Ulasan Buku


    TENTANG IDEOLOGI: MARXISME STRUKTURAL, PSIKOANALISA, DAN CULTURAL STUDIES Membicarakan ideologi akan selalu menjadi sebuah diskusi yang hangat. Begitu banyak orang yang terpikat dengan ideologi hingga mempelajarinya dengan getol. Di sisi lain, sejarah telah mengingatkan manusia akan hal yang disebut ideologi ini. Dalam pelajaran sejarah, tentu kita ingat pembantaian kaum Yahudi oleh Hitler dengan Nazisme-nya atau pembantaian Tutsi oleh Hutu di benua Hitam sana. Buku oleh Louis Althusser ini menelanjangi ideologi sebagai pengejawantahan lain atas peringatan terhadap ideologi ini sekaligus pengenalan secara teoritis terhadapnya. Slavoj Zizek, seorang filsuf asal Slovenia, dalam kuliahnya yang berjudul “Why only atheists can believe” menyebut ideologi sebagai hal yang kita tidak tahu bahwa sebenarnya kita tahu (the unknown-knowns). Ada banyak hal ketika kita menghakimi atau bertindak atas sesuatu itu berdasarkan pada apa yang kita sering sebut sebagai ideologi ini (dan proses ini berjalan seringkali dalam ranah ketidaksadaran). Apabila kita tanya Zizek darimana ia mendapatkan ide dasar pemikirannya tersebut, saya yakin ia akan menjawab buku ini sebagai salah satu sumbernya yang paling berpengaruh. “Tentang Ideologi: Marxisme Struktural, Psikoanalisa, dan Cultural Studies” adalah buku pertama Louis Althusser yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini memang menjadi rujukan banyak mahasiswa tatkala ingin menggeluti sebuah ideologi. Althusser merumuskan bagaimana satu ideologi dibentuk, dibakukan dan disebarluaskan. Althusser adalah pencetus teori Marxisme struktural. Dia membagi kehidupan seorang individu menjadi dua sisi, suprastruktur dan infrastruktur (base). Suprastruktur adalah kehidupan luaran seseorang. Pada sisi inilah tindakan-tindakan politis, ekonomis dan lain-lain berada. Sedangkan, infrastruktur adalah kehidupan dalaman atau biasanya diterjemahkan sebagai “corak produksi”. “Corak produksi” inilah mata air dari ideologi. Ideologi dibentuk melalui pengalaman, hubungan sosial dan status dalam masyarakat. Kata “struktural” dalam teori ini berasal dari sini karena pengkondisian melalui suatu struktur adalah faktor yang menetukan ideologi seseorang. Lema “the unknown-knowns”-nya Zizek tadi adalah “corak produksi” ini. hal yang terjadi dan menjadi bagian “corak produksi” ini bersifat abstrak dan tersimpan dalam benak. Hal itulah yang sebenarnya menyetir setiap tindakan individu baik politis, sosial maupun ekonomis. Jacques Lacan, seorang psikoanalis sekaligus sahabat Althusser, juga salah satu orang yang bertanggungjawab atas teori ini. Karena sifat tidak sadar “corak produksi” ini, maka psikoanalisa menjadi jembatan pemikiran teori Althusser. Lacan berpendapat bahwa alam bawah sadar merupakan suatu keteraturan dan tidak berserakan seperti teori psikoanalisa Freudian. Setiap hal tertentu yang menjadi pengalaman manusia akan menghasilkan dampak tertentu juga dalam bentuk tindakan. Dari paragraf diatas terbongkarlah pandangan umum yang menyatakan bahwa ideologi hanya dimiliki sebuah Negara ataupun organisasi. Ideologi adalah milik individu. Namun, pandangan umum tersebut juga tidak sepenuhnya salah karena Negara dan organisasi merupakan alat penyebarluasan ideologi terbesar. Ideologi yang di-massal-kan ini juga menjadi perhatian Althusser. “…tak satu kelas pun yang mampu memegang kuasa Negara dalam periode yang lama tanpa sekaligus menjalankan hegemoninya…”, itulah tulisan Althusser dalam buku ini mengenai ideologi dan kuasa Negara. Sepintas mirip teori Hegemoni milik Antonio Gramsci dalam “Prison Notebooks”-nya. Perbedaannya, Althusser memisahkan pengkondisian demi hegemoni ini menjadi dua cara kekerasan (melalui aparatus Negara represif) dan ideologis (melalui aparatus Negara ideologis). Kedua media tersebut harus berjalan beriringan apabila ingin satu Negara ingin terus dalam genggaman satu kelas penguasa. Aparatus Negara ideologis bergerak dalam bidang-bidang yang bersinggungan dengan ideologi masyarakat. Institusi-institusi keagamaan, ekonomis, sosial, politis, dan pendidikan merupakan bagian dari apparatus Negara ideologis. Ideologi suatu Negara akan disebarluaskan melalui institusi-institusi tersebut. Hal tersebut dapat terjadi karena institusi-institusi tersebut dapat hidup dan berkembang hanya ketika mereka mengamini seperangkat aturan yang dirancang sedemikian rupa oleh Negara. Setelah secara ideologis masyarakat dimasuki, makan aparatus Negara represif melakoni perannya dalam Negara dengan “pembersihan” terhadap “yang melenceng” melalui kekerasan. Hanya dengan begitulah ideologi dapat di-massal-kan demi sebuah kuasa Negara. Inilah titik pencapaian terpenting pemikiran Althusser. Dengan mengenal bagaimana datangya ideologi dan mengerti bagaimana ini dibakukan (di-massal-kan) dan disebarluaskan tentu membuat manusia harus lebih berhati-hati (kritis) dalam menanggapi suatu ideologi dan tidak mudah terseret arus. alwiTHELONEWOLF

    | Link | Dibaca 11385 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Blog Terbaru


Pesan Ayah
Tanah Lama
BIDADARI SURGA
KETIKA
Produktivitas Oh Produktivitas
Himpunan Semesta
Sarang-Kalong
coretan suka-suka

Almanak


Umpan balik

Kirim Umpan balik

Kirimkan keluhan atau saran mengenai situs baru ini :)