The Western Canon: The Books and School of the Ages

8

Kutipan Berkesan:

Yet who reads to bring about an end, however desirable? Are there not some pursuits that we practise because they are good in themselves, and some pleasures that are final? And is not this among them? I have sometimes dreamt, at least, that when the Day of Judgment dawns and the great conquerors and lawyers and statesmen come to receive their rewards—their crowns, their laurels, their names carved indelibly upon imperishable marble—the Almighty will turn to Peter and will say, not without a certain envy when he sees us coming with our books under our arms, “Look, these need no reward. We have nothing to give them here. They have loved reading.” (Virginia Woolf)

Sinopsis:

*Fernando: Bagaimana dengan ini: buku “The Western Canon: The Books and School of the Ages” merupakan sebuah ensiklopedia apresiasi Harold Bloom atas karya-karya dua puluh-enam penulis yang menjadi kanon kebudayaan barat. Kalimat tadi aku kira cukup meringkas buku terbitan tahun 1994 oleh Harcourt Brace & Company yang tebalnya hampir enam-ratus halaman ini…

*G.W: Cukup? Ayolah! Untuk modus ‘mengakhiri sesuatu’, tadi itu sangat buruk, Dodo! Lebih buruk dari sekedar ‘cukup’ buruk! Bahkan spanduk-spanduk dekil dan neon box warung-warung di sepanjang pinggiran Jalan Solo jauh lebih provokatif dalam wacana “How to Ease The Hunger of a Poor Flesh”.

*Fernando: Ehm… itu bukan untuk mengakhiri, Gogor sayang! Itu untuk sinopsis, dan untuk mengawali ulasan!

*G.W: Ya.. ya.. Itu awalan! Dan, sebenarnya itu cukup bagus!

*Fernando: Lantas, maukah kau mendengarkanku sampai selesai dan bersikap manis di situ… dan bersikap sopan dengan menjilat kembali nada-nada yang terdengar begitu lapar tadi itu!

*G.W: Kau tuan rumahnya! Dan yang mengundangku ke sini, Dodo, untuk makan malam. Dan aku… memang lapar karena mengingat sahabatku pasti tak senang menyambutku dengan perut sudah terisi. Tapi, Dodo, trims! Aku belum begitu lapar, meski tadi memerankan sesuatu yang ‘begitu’ lapar!

*Fernando: Ya! Dengan senang hati mengundangmu ke sini untuk makan malam. Dan aku juga pasti kurang senang kalau sekarang kau sudah kenyang dengan sesuatu yang kukira kurang sesuai seleramu. Tapi, kau juga sudah membacanya, bukan? Aku tidak akan membiarkanmu masuk rumah ini, makan bebekku, berterima-kasih padaku, lalu begitu saja pulang!

*G.W: Bebek, Dodo? Dipanggang tak terlalu matang? Kecap? Tapi masih asin? Teruskan!

*Fernando: Aku hanya tidak bisa meringkasnya, Gogor! Seperti aku yakin kalau akan lebih baik dalam pembacaan…lebih baik dalam…lebih baik kalau kau, misalnya, setelah mendapat suatu provokasi, apa pun itu, bertemu langsung dengan buku ini.

*G.W: Berpura-puralah! Provokasi…

*Fernando: Ya…ya…kau senang merasa benar di situ dan senang melihat aku menilaiku. Ya..ya.. to Ease the Hunger

*G.W: Tapi, Dod…

*Fernando: Baik! Biarkan saya menunjukkan daftar menunya, Tuan Gogor, tentang wacana How to Ease the Hunger of a Poor Flesh! Buku dengan rangka yang lebar ini terdiri atas lima bab yang diawali dengan “Prawacana dan Pendahuluan” (Preface and Prelude) dan diakhiri dengan “Lampiran” (Appendixes). Pada bagian “Prawacana dan Pendahuluan”, kritikus sastra yang juga dosen Yale ini menjelaskan susunan The Western Canon beserta hal-hal yang mendasari kedua-puluh enam penulis dalam buku ini sebagai pilihannya di antara ratusan penulis lain – yang dianggapnya representasi Kanon Barat. Mengikuti klasifikasi periodis Viconian, apresiasi  Prof. Bloom dimulai dari kanon zaman Aristokratis (The Aristocratic Age), lalu kanon zaman Demokratis (The Democratic Age) dan kanon zaman Kisruh (The Chaotic Age) yang berurutan menjadi bab dua, tiga dan empat buku ini. Secara periodis dari The Divine Comedy karya Dante, sampai Endgame karya Samuel Beckett. Sebelum dan setelah ketiga babakan tersebut, jadi bab pertama dan kelima, dua prosa elegis dengan sub-bab “An Elegy for the Canon” dan “Elegiac Conclusion” ditujukan untuk mengawali dan menutup apresiasinya atas karya-karya unggulan dalam budaya dan sastra barat: dua bab yang tidak melupakan aspirasi dan polemik.

*G.W: Bravo! Braaaaavo!

*Fernando: (membelakangi) Aku benci saat dia berkata seperti itu.

*G.W: Ehm… Bisa langsung kita ke makan malam?

*Fernando: Adakah kepuasan lain untukmu selain makanan dan ejekan-ejekan singkat yang sungkan jadi kalimat itu?

*G.W: Aku tidak mengejekmu, Dodo! Tidak sama sekali! Makanan membahagiakanku, tentu, khususnya yang melibatkan dan mengajar seleraku. Selera itu berguna. Dengannya, seseorang menyempurnakan caranya menjamu orang lain, seperti kau mengajariku. Cukup bagus, Dodo! Seperti kataku tadi, dan tak ada yang mengecewakan dalam presentasimu itu. Hanya saja, bebek yang entah dipanggang atau tidak itu sepertinya lebih menggodamu untuk menggodaku… untuk menjadikannya awalan dan akhiran sekaligus. Maksudku, sediakan ruang untuk bernafas di sana. Kau tidak akan hanya mengundangku, menunjukkan bebekmu itu, lalu menyuruhku pulang, bukan? Pasti kau akan menyambutku; mengambil satu-dua topik yang bisa kita pamerkan, debatkan, candakan satu sama lain; sebelum kita terduduk dan sebentar mengagumi, merenungkan, mungkin menerka apa dan bagaimana yang terhidang di depan kita; memutuskan mencicipi, dan melanjutkan melahapnya. Untuk kau dan aku, mungkin kita akan mengulas sebentar apa yang kita nikmati tadi. Tapi mengingat kesopanan lebih utama, untukmu, daripada selera, barangkali kau lebih memilih untuk tidak membicarakannya – baik itu nanti berupa tanya-jawab, kritik, pujian, atau protes sekalipun. Tapi sungguh, Dodo, aku ingin… nantinya berpamitan dengan janji bahwa aku akan menepati undangan makan malam darimu lagi, atau kau pasti datang mengunjungiku dan bermakan malam di Klaten, hanya untuk tak membiarkan lapar perut dan otak…juga rindu… Oh! Ususku pun merasakan rindu…

*Fernando: Kau juga sudah membaca buku ini, Gogor! Sekarang begini, setelah cukup kau memerankan kelaparan padaku, baiknya kita menikmati engkau memerankan pengulas buku dulu. Setelah itu, kita makan.

*G.W: Ah, tuan pengulas buku, dengan senang hati! Saya pegang kalimat Anda tadi.

Ulasan Kritis:

“The Western Canon: The Books and School of the Ages” merupakan sebuah ensiklopedia apresiasi Harold Bloom atas karya-karya dua puluh-enam penulis yang menjadi kanon kebudayaan barat.

 

*Fernando: Oh, yang itu!

*G.W: Namun sebelum lebih jauh, barangkali ada pertanyaan: kenapa buku ini bisa disebut ensiklopedia? Cukupkah kedua-puluh enam penulis itu menggambarkan siklus panjang tradisi kebudayaan barat? Membayangkan sebuah buku dikerjakan layaknya Walter Pater dengan Appreciations-nya namun pada pencapaian dua-puluh enam tokoh penting dari beberapa penggalan zaman, seperti yang disuratkan sebagai sub-judul buku, sulit untuk tidak menyebutnya demikian. Setidaknya bagi saya dan kedua penulis blurb yang akan saya terjemahkan sebagai berikut:

 

 “Kita sudah sekian lama dididik oleh Harold Bloom, hal yang muncul layaknya kejutan buat menyadari selama ini kita hanya membaca permukaan: dia juga ensiklopedis kita.”

—Richard Howard

 “Membaca komentar-komentar Bloom (seperti yang dikatakan Hazzlit tentang aktor besar-tragedian Edmund Kean) seperti membaca para pengarang klasik dengan sekelebat kilat.”

—M.H. Abrams

 

Ensiklopedia, dalam pengertian umum, dimaksudkan sebagai sebuah tinjauan umum yang historis-komprehensif tentang subyek tertentu dalam siklus yang panjang dan biasanya dilakukan secara kronologis. Siklus tersebut, dalam buku ini, yaitu untaian panjang tradisi kebudayaan dan kesusastraan barat, dimana kedua-puluh enam tokoh dengan pencapaian estetisnya dinilai mempunyai otoritas definitif dan kanonik, atau memberi beban pengaruh pada aspirasi imajinatif generasi-generasi yang datang setelahnya, khususnya pada pembaca-penyendiri (solitary readers): yang kemudian merasa harus tampil mengerjakan karyanya sebagus dan seunik mungkin, sebagai konsekuensi dari pembacaannya yang idiosinkratis atas beban yang diwarisinya tersebut. Pembacaan khas inilah, yang sering dibilang Bloom sukar dibedakan dengan fenomena ‘jatuh cinta’ (di sini: pada karya sastra), yang melahirkan kreativitas tersendiri dari seorang pengarang – kreativitas yang juga disebut Bloom sebagai kecemasan (anxiety). Kedua-puluh enam tokoh tersebut, dengan karakteristik representasi mereka, pun dipilih berdasarkan pengalaman personal Harold Bloom sebagai pembaca sekaligus orang yang memberikan sebagian besar waktunya untuk mempelajari dan mengajar secara serius hubungan dan manifestasi pengaruh dalam kesusastraan Inggris, baik itu berupa puisi, drama, maupun prosa. Dalam bukunya yang lain, The Anxiety of Influence: A Theory of Poetry (1973), dibahas lebih dalam dan rinci konsep hubungan pengaruh yang terjalin antagonistis antara karya pengarang tertentu dengan karya pendahulunya – manifestasi majasi suatu kecemasan dalam rasio-rasio revisioner yang muncul dari prinsip bela-diri seorang pengarang  terhadap representasi idiosinkratis pendahulunya, dengan prioritas atas makna menjadi satu-satunya konteks. Dengan membicarakan karakteristik karya kedua-puluh enam tokoh tersebut  dalam fenomena intra-intertekstual dan bagaimana kualitas atau pencapaian estetis masing-masing karya tersebut menyandang status kanonik atau termasuk dalam kalangan elite tradisi susastra barat, The Western Canon merupakan kelanjutan The Anxiety of Influence dengan skala yang lebar, dan dalam model kritik praktisnya – model yang selalu lekat dengan komentar kritis atau apresiasi pada unsur ‘dalaman’ karya sastra yang dilakukan secara isolatif-komparatif.

Tapi kenapa kedua-puluh enam orang ini? Kenapa hanya dua-puluh enam? Kenapa tidak ada pada Daftar Isi nama-nama seperti William Blake atau Victor Hugo, Dostoevsky, Emerson, Hawthorne, Melville, Nietzsche, Yeats, atau puluhan lainnya? Tepat setelahnya, pada “Prawacana dan Pendahuluan” buku, pembaca mungkin akan mencari jawaban atas pertanyaan itu pada dirinya sendiri dengan mulai mendengarkan alasan Bloom bahwa “sebuah buku tentang dua-puluh enam penulis itu mungkin, tapi tentang empat ratus penulis itu tidak.” Mengenang apa yang pernah dikatakannya – bahwa sangat susah mengharapkan pembaca melahapi karya sastra dengan kesabaran, apalagi dalam era kemajuan teknologi global dan media seperti saat ini –  sudah barang tentu pokok tentang pencernaan dengan segala kesadaran kritis atas apa yang dicerna merupakan aktivitas yang terancam disiplinnya. Selain keterbatasan ruang pada halaman buku sepertinya tak hanya penulisnya yang merasa perlu untuk merealisasikan batasan yang logis pada ruang cakup atau ruang jangkau; lalu lebih mendorong perhatian pada apa yang menyapa persepsi lewat memori selain sekedar memaknainya sebagai yang tercetak pada halaman untuk memuaskan mata. Dengan batasan-batasan yang mendasari alasan komposisi buku, model yang dipakai Bloom adalah memilah dengan membandingkan karya-karya dalam tradisi susastra barat, berdasarkan relevansi estetis: sebagai standar pencapaian atau representasi Kanon bagi Sastra Nasional mereka: Chaucer, Shakespeare, Milton, Austen, Wordsworth, Dickens untuk Inggris; Montaigne dan Moliere untuk Perancis; Dante untuk Italia; Cervantes untuk Spanyol; Tolstoy untuk Rusia; Goethe untuk Jerman; Borges dan Neruda untuk Amerika Latin; Whitman dan Dickinson untuk Amerika Serikat. Dan Samuel Johnson, belum ada yang melampauinya sebagai kritikus sastra. Tentu nama-nama yang muncul dalam pertanyaan saya tadi merupakan penulis-penulis besar dan keberadaannya di buku ini pun rupanya tidak bisa dicegah, meskipun tidak menjadi bab tersendiri. Whitman, misalnya, mungkin tidak akan menjadikan dirinya obyek sekaligus subyek besar dalam puisi-puisinya, seperti Montaigne menjadikan dirinya obyek sekaligus subyek utama pada esei-eseinya, jika tidak mewarisinya secara langsung dari penulis Self-Reliance dan The Poet – Ralph Waldo Emerson, yang serius membaca dan mengagumi Montaigne sang eseis pertama itu. Namun jika perihalnya adalah kanon – subyek terutama dalam buku ini – isu penting yang selalu mengikutinya adalah kriteria, pada saat yang sama merupakan standar dengan mana dasar ukurannya selalu dimiliki oleh pemuncak otoritas. Melalui esei dan jurnal Emerson, Whitman menemukan dan memiliki puisi-puisinya yang menjadi tantangan terbesar bagi banyak penyair yang datang setelahnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan Whitman, bukan Emerson yang juga seorang penyair, sebagai bapak puisi modern Amerika.

Pemetaan zaman yang dilakukan oleh Harold Bloom mengikuti model siklus yang dipakai James Joyce dalam novelnya  Finnegans Wake, yang menurutnya merupakan manifestasi seriocomic dari pengaruh model siklus Giambattista Vico dalam karyanya Scienza Nuova (New Science) – tiga fase zaman yang terdiri dari: Teokratis; Aristokratis; dan Demokratis, yang akan diikuti dengan sebuah kisruh (chaos) dari mana zaman Teokratis baru akhirnya muncul. Jadi pemetaan siklus Viconian yang bisa diharapkan menjadi kerangka buku ini adalah Zaman Teokratis, Aristokratis, Demokratis dan Zaman Kisruh. Hanya, Bloom mengecualikan kanon-kanon zaman Teokratis dalam bukunya, yang kemudian membuatnya memulai seleksi historis dari Dante dan mengakhirinya pada Samuel Beckett, meskipun urutan apresiasinya tidak selalu tegas mengikuti pola kronologis. Sebagai contoh: Bloom tidak memulai apresiasi historisnya, melainkan apresiasi estetisnya (karena wacana tentang otoritas menjadi latar-belakang penting dalam permasalahan kanon) dari Shakespeare, bukan dari moyangnya, Chaucer, atau Dante; dan kemudian pada bagian akhir buku, apresiasi dilakukan pada aspek-aspek kanonik dalam karya-karya Samuel Beckett yang muncul dilatar-belakangi oleh dan bersanding dalam jukstaposisinya dengan aspek-aspek kanonik James Joyce, Marcel Proust, dan William Shakespeare. Dalam salah satu wawancaranya perihal buku ini, Bloom pernah bercerita tentang alasan kenapa sebagai penulis dia harus tidak memulai dari dan memasukkan zaman Teokratis dalam bukunya, serta kenapa dia menyusun apa yang saya sebut ensiklopedia tadi dengan tidak selalu mengikuti periode kronologis seperti yang umum ditemukan dalam sebuah ensiklopedia. Dia berangkat, dengan bukunya ini tentunya, dari sebuah dalih atau asumsi yang salah bahwa apa yang disebut sebagai kesusastraan barat itu berasal dari Dante. Kesusastraan barat, menurutnya, bukan berawal dari Dante, melainkan Homer dan Alkitab (Bibel), yang mana keduanya merupakan representasi apa yang disebut Vico sebagai zaman Teokratis. Hanya di buku ini, dengan batasannya tadi ditambah dengan keberpihakan Bloom pada apa yang disebut Samuel Johnson sebagai “pembaca umum terpelajar” (common educated readers) yang menurutnya masih ada namun sangat sukar menemukannya di era teknologi visual sekarang ini, secara periodis dimulai dari Dante, Chaucer dan Shakespeare sebagai representasi zaman Aristokratis. Bloom, dalam wawancara tersebut, mengaku secara eksplisit tidak merasa memiliki cukup hak untuk membawa Homer, Virgil, Alkitab, Aristophanes, Horace, St. Augustine atau segala kesusastraan zaman pertengahan sebelum Dante dalam bukunya ini, atau memberi instruksi pada pembacanya secara langsung untuk terlibat pada apresiasi karya-karya klasik zaman Teokratis tersebut, jika pembaca masih antusias menganggap pentingnya instruksi yang ditawarkan oleh sebuah buku. Barangkali pula pengecualiannya tersebut dilakukan untuk memberi penekanan pada pengecualian terbesar dalam kanon sastra barat, yang juga pengecualian terutama dalam buku ini: Shakespeare. Keunggulan Shakespeare dalam menyerap setiap pencapaian estetis yang mendahuluinya dan daya kontaminatif karya-karyanya pada penulis-penulis yang datang setelahnya dinilai merupakan kualitas dan keunggulan tersendiri yang tidak hanya berdasarkan pada tingkatan, namun juga pada ragam. Pengecualian yang membuat pengecualian tersebut menempatkan Shakespeare, bukan Dante maupun Cervantes (kedua rival terdekatnya), sebagai tokoh sentral Kanon Barat. Shakespeare-lah yang membuat pengecualian terbesar pada tradisi susastra barat, atau setidaknya Shakespeare-nya Bloom-lah yang membuat penulis buku ini menempatkan penyair-dramawan era Elizabeth itu sebagai yang pertama-dan-terutama serta menjadikan ensiklopedia apresiasi ini tidak selalu tersusun kronologis. Selain itu penekanan mungkin pula diarahkan pada kesadaran yang mendominasi keadaan kontemporer – bukan seperti yang oleh kebanyakan orang masih dianggap sebagai zaman Demokratis, melainkan Kisruh yang selanjutnya hanya akan melahirkan zaman Teokratis baru.

Sub-bab bagian pertama buku, An Elegy for the Canon, mencakupi pertanyaan dan permasalahan penting yang seringkali menyertai wacana tentang Kanon: bagaimana seseorang dengan gairah membacanya membaca dan mengapa? (Pertanyaan yang beberapa tahun kemudian memberi judul bukunya yang lain, How to Read and Why (2000)). Pembaca mungkin akan mengawali dan merasakan adanya instruksi dengan mudah dari sub-bab ini karena, selain yang tersurat dari pertanyaan tadi, bagian buku yang  penuh dengan nada pembelaan ini menceritakan  pula permasalahan-permasalahan, bahkan ancaman utama bagi siapapun yang berkeinginan sendiri dengan bacaannya, terbuka pada apa yang terjalin di antara dia dengan penulis yang dia pilih untuk dibaca. Mungkin pula bagi kalangan yang membebani pembacaan dan pembacanya dengan nilai-nilai serta perbaikan sosial yang dituntut sebagai fungsi utama karya sastra kanon maupun kalangan idealis yang membenarkan Kanon Barat hanya untuk menanamkan standar dan sanksi moral Kristen tradisional atau moralitas kaum kelas menengah, keseluruhan buku ini (eksplisit khususnya di bab awal dan akhir) merupakan polemik. Baik Mazhab Kemarahan (The School of Resentment), dengan cabang-cabangnya seperti New Historicism; Cultural Materialism (Neo Marxism); Feminism; dan Deconstruction, yang berharap menggulingkan Kanon demi mempromosikan program untuk perubahan sosial yang mereka yakini, maupun pembela Kanon (sayap kanannya), yang  berharap untuk melanggengkannya demi nilai-nilai moral yang mereka idealkan, dinilai Bloom sebagai penghancur utama pendidikan humanis di perguruan tinggi, khususnya Kanon Sastra. Jika Kanon itu selalu berarti elitisme dan Cultural Studies selalu membenci jenjang kualitas di antara apa yang dianggap seni hanya karena semata dinilai dengan prinsip estetis dan pada lahannya yang pantas, Estetisisme, tentu masuk akal penilaian tersebut. Instruksi, jika diberlakukan pada buku ini, bukanlah instruksi yang dapat dirasakan bersifat pedantis, namun didasarkan pada pengalaman penulis dengan apa yang pernah dia baca dan yang akan selalu berharga untuk dibaca-ulang – kualitas kontaminatif karya seni dalam rentangan ruang dan waktu, yang menurutnya, mungkin merupakan satu-satunya uji pragmatis untuk menilai kanon. Tanpa adanya proses pengaruh sastrawi, tidak ada karya sastra yang bisa disebut sebagai karya kanonik. Karya kanon itu ada hanya dikarenakan kuatnya pengaruh antara karya(-karya) tertentu dengan karya(-karya) yang datang setelahnya dan pembentukannya (canon formation), menurut Bloom, diperankan bukan oleh “kritikus atau akademisi, apalagi politikus” melainkan oleh “penulis, seniman, komposer…dengan menghubungkan pendahulu yang kuat dan suksesornya yang kuat” serta “perlu diuji paling tidak dua generasi setelah seorang penulis meninggal” untuk melihat fenomena pengaruh itu sendiri secara akurat.

Tapi apa itu kanon? “Aslinya, kanon berarti pilihan buku yang akan digunakan sebagai bahan pengajaran di institusi pendidikan,” jawab Bloom. Pada perkembangannya, konsep dan istilah ini dipakai dengan dua aspek dan tentunya motivasi yang berlainan, selalu berseberangan meskipun sering bergesekkan – institusional dan non-institusional. Keduanya merupakan istilah-istilah politis, termasuk ‘sakral’ dan ‘sekuler’, yang cukup lama beradu dalam perdebatan tentang kanon. Dua kubu tersebut mengacu pada subyek yang sama, meskipun dengan temperamen yang berbeda satu sama lain: karya yang esensial dan representatif mengatasi zaman, yang senantiasa menjadi teladan atau tolak-ukur. Buku ini pun tidak lepas dan melepaskan subyek tersebut, meskipun penilaian di dalamnya lebih menekankan pada aspek estetis, bukan politis, yang menjadi modalitas utama karya kanon. Lalu, apa yang membuat satu penulis dengan karyanya kanonik? Tulisan Kanon harus mengandung nilai moral agamawi, atau nilai idealistis, atau sosio-politis, dan harus dijadikan pegangan bagi dunia keilmuan merupakan jawaban yang senantiasa akan diberikan oleh pembaca yang tendensius-moralistis. Tapi, di buku ini, menurut Bloom, jawaban atas pertanyaan itu tidak lain adalah keanehan yang disematkan pada keindahan, sebuah ragam orisinalitas yang mustahil untuk diasimilasi, atau bahkan sangat mengasimilasi kita sehingga kita sudah tidak bisa merasakannya sebagai yang ‘aneh’. “Dante merupakan contoh terbesar dari kemungkinan yang pertama,” (yang mustahil untuk diasimilasi itu) Bloom meyakinkan pembacanya, “dan Shakespeare adalah contoh luar biasa dari yang kedua. Walt Whitman, selalu kontradiktif, ambil bagian pada kedua sisi paradoks.” “Keanehan yang disematkan pada keindahan” merupakan istilah Walter Pater dalam mendefinisikan Romantisisme. Namun Bloom, dalam hal ini, menilai Pater mengkarakterisasi semua karya kanonik daripada hanya kaum romantik tersebut. Daya yang mampu menyematkan keanehan pada keindahan inilah yang melatar-belakangi karya-karya dari The Divine Comedy sampai Endgame dan menandai kedua-puluh enam sosok Kanon dalam buku ini, sosok yang dapat membuat pembacanya merasa aneh dengan dan di dalam dirinya sendiri. Dan Shakespeare, sekali lagi menurut penulisnya, adalah contoh sekaligus pengecualian terutama, satu-satunya yang dapat memberikan kesan sebaliknya: membuat kita sebagai yang ‘di luar’, asing, di rantau. Bahkan Shakespeare adalah, dengan Dante di sisinya yang lain, Kanon Barat itu sendiri. Muncul setelah Shakespeare, barangsiapa menulis puisi atau prosa terbaik di khazanah atau tradisi susastra barat, menurut Bloom, “merupakan takdir yang kompleks, sebab orisinalitas sendiri menjadi sangatlah sulit dalam segala hal yang paling penting: representasi karakter manusia, peranan memori dalam kognisi, lingkup metafora dalam memberikan kemungkinan-kemungkinan baru pada bahasa. Hal-hal inilah yang menjadi keunggulan terkhusus Shakespeare, dan tak ada satu pun yang menandinginya sebagai psikolog, pemikir atau ahli retorika.” Shakespeare menyerap baik apa yang mendahului maupun yang datang setelahnya. Dia menjadikan dan memperkaya seninya dengan gambaran natural atas segala aspek manusiawi, sedang Dante menggapai supranatural. Dari Chaucer, Shakespeare menyempurnakan representasi karakter dramatis, menyertakan setiap kecenderungan ironisnya; setiap perubahan serta perkembangannya, di dalam dan oleh dirinya sendiri:

“…saya akan menaruh kunci yang menunjukkan sentralitas Shakespeare di dalam Kanon. Seperti halnya Dante mengatasi semua penulis lainnya, baik sebelum dan setelah dia, dalam menegaskan ketetapan paling akhir (an ultimate changelessness) dalam diri kita masing-masing, suatu tempat tetap yang harus kita tinggali dalam keabadian, begitu pula Shakespeare mengatasi lainnya dalam hal menunjukkan psikologi ketaktetapan (a psychology of mutability). Hal tersebut hanya sebagian dari kebesaran Shakespeare; lebih dari sekedar melebihi semua rivalnya, dialah yang mempelopori penggambaran tentang perubahan diri (self-change) berdasar penyimakan diri (self-overhearing), berbekal petunjuk dari Chaucer yang memprovokasinya sampai pada yang paling luar biasa dari segala penemuan sastrawi ini. Seorang dapat menerka bahwa Shakespeare, yang jelas membacanya pada karya Chaucer secara mendalam, teringat Wife of Bath saat hal itu datang pada momen yang luar biasa bilamana dia menciptakan Falstaff. Hamlet, sang penyimak diri paling utama di segala kesusastraan, berbicara dengan dirinya tidak sesering Falstaff. Kita semua sekarang ini berkeliling kesana-kemari berbicara tak henti-hentinya dengan diri-sendiri, menyimak apa yang telah kita katakan, lalu menimbang-nimbang dan memerani apa yang telah kita pelajari.”

Tapi sekali lagi, meskipun Shakespeare dan Dante sentral dalam Kanon Barat, bukan karya mereka yang pertama kali merupakan fenomena kanonik dan menjadi acuan sebagai bahan pengajaran dalam tradisi barat, melainkan Homer: “Institusi pendidikan kita akhir-akhir ini penuh sesak dengan pemarah idealistis yang mencela kompetisi dalam kesusastraan seperti halnya dalam kehidupan, namun apa yang estetis dan apa yang agonistis itu tidak bisa dipisahkan, menurut semua orang Yunani Kuno, pun menurut Burckhardt dan Nietzsche, yang membuka kembali kebenaran tersebut. Apa yang diajarkan oleh Homer adalah puitika konflik, pelajaran yang diperoleh pertama oleh rivalnya Hesiod. Segala tentang Plato, seperti yang dilihat oleh kritikus Longinus, selalu dalam konflik terus-menerus sang filsuf dengan Homer, yang diusir keluar dari The Republic, namun sia-sia, sebab Homer dan bukan Plato yang tinggal-tetap sebagai buku pelajaran bagi orang Yunani”. Dante, dengan Commedia-nya, melatar-belakangi fenomena pertama munculnya gagasan kanon sekuler lepas dari zaman Teokratis. Suatu karya sastra, menurut Bloom, merupakan kecemasan yang mengandung di dalamnya ekspektasi dan kebutuhan untuk memenuhinya. Di dalam sebuah karya terdapat apa saja yang disebut kecacatan kemanusiaan (humanity’s disorders), termasuk ketakutan akan mortalitas, yang mana dalam seni sastra diubah sedemikian rupa menjadi pencarian untuk menjadi kanonik, untuk bergabung dalam memori komunal. Petrarch dan “bahkan Shakespeare, dengan sonetanya yang paling kuat, tak lepas dari obsesi tersebut” – retorika keabadian yang juga merupakan psikologi bertahan-hidup (psychology of survival) dan kosmologi:

 Dari mana asalnya gagasan tentang suatu karya sastra yang karenanya dunia tidak ingin membiarkannya mati? Ini tidak tersemat dari kitab-kitab oleh orang-orang Ibrani yang menyebut tulisan-tulisan kanonik adalah kitab yang akan mempolusi tangan-tangan yang menyentuhnya, kemungkinan dikarenakan tangan-tangan manusia tidak layak memegang kitab-kitab suci. Yesus menggantikan Taurat untuk kristiani dan yang paling penting tentang Yesus adalah kebangkitan. Kapan tepatnya…? Gagasan itu ada pada Petrarch dan dikembangkan secara luar biasa oleh Shakespeare melalui soneta-sonetanya. Gagasan tersebut sudah menjadi suatu unsur laten dalam pujian Dante terhadap The Divine Comedy-nya. Kita tidak bisa menyebut Dante yang mensekulerkan gagasan itu, karena dia telah menggolongkan segalanya dan lalu, menurut nalar, dia tidak mensekulerkan apa-apa. Baginya, puisinya adalah nubuat, sama halnya kitab Yesaya yang merupakan nubuat, jadi mungkin kita bisa menyebut Dantelah yang menemukan gagasan modern tentang kanonik. Ernst Robert Curtius menekankan bahwa Dante hanya memikirkan dua perjalanan menuju akhirat, sebelum perjalanannya sendiri, yang dianggapnya otentik: Aeneasnya Virgil dalam buku ke-6 puisi epiknya dan perjalanan Paulus yang diceritakan di 2 Korintus 12: 2. Dari Aeneas muncullah Roma; dari Paulus muncullah Kristen non-Yahudi. Dari Dante akan muncul, jika dia hidup sampai umur delapan-puluh satu, pemenuhan nubuat esoterik yang tersirat di dalam Commedia, namun Dante meninggal pada umur lima-puluh enam”.

Karya sastra yang karenanya dunia tidak ingin membiarkannya mati itu selalu berkelindan sebagai, dan di dalam, memori – suatu aspek esensial yang memberi definisi pada apa yang disebut sebagai tradisi. Jika kita mengenangkan bagaimana seseorang sebagai pengarang harus menghadapi tantangan kebesaran di dalam atau bahkan yang sudah menjadi tradisi kepengarangan di mana dia terlahir, yang mana merupakan satu-satunya pertanyaan dan paradigma mendasar yang menentukan kredibilitas pencapaian estetisnya, tentu kita tidak akan heran mengapa penulis buku ini begitu vokal menganggap teori matinya seorang pengarang merupakan mitos yang terhidang basi meskipun dirayakan bahkan oleh intelektual yang begitu humanis dan multikultural sekalipun. Pengarang memang terlahir dari seorang pembaca, dengan temperamen yang berkembang dan berkembang dengan temperamen tertentu itu. Logisnya, suara siapa yang didengarkan pembaca tersebut? Pengarang lain yang sudah mati kah, atau hanya pengarang yang begitu hidup di dalam dirinya?

Memori mempunyai peranan krusial dalam pemikiran, khususnya dalam pemikiran puitis. Bahkan proses berpikir dan proses mengingat itu sendiri sudah tidak bisa dipisahkan lagi, dan menjadi daya terutama seorang pengarang mengerjakan karyanya. Dalam The Art of Reading Poetry (2004), Bloom menyatakan bahwa kebesaran dalam puisi (yang juga saya anggap sebagai karakterisasinya terhadap karya-karya kanon di buku ini) itu menuntut kecakapan dalam penguasaan bahasa figuratif dan daya kognitif seorang pengarang. Bloom pun menghubungkan pernyataan Angus Fletcher tentang ‘rekognisi’ atau pengenalan-ulang, yang dalam pemikiran sastrawi dimungkinkan oleh adanya Memori puitis, dengan apa yang disebut ‘penemuan’ sastrawi: “Rekognisi di sini pada mulanya adalah anagnorisis­-nya Aristoteles, suatu adegan-rekognisi (recognition-scene ) ke mana tragedi mencari. Penemuan, dalam hal ini, dapat menjadi sinonim untuk rekognisi.” Penemuan sastrawi ini bergantung pada memori sastrawi, dan proses rekognisi seorang pengarang selalu menempatkannya pada momen di mana dia bersinggungan dengan pengarang yang lain. Dengan sudut pandang ini, Kanon, menurut Bloom, dapat dilihat identik dengan ‘seni sastrawi dari Memori’ karena “Memori selalu merupakan seni bahkan ketika bekerja tanpa disadari.” Bloom beranggapan bahwa setiap upaya para kritikus, akademisi, budayawan maupun politikus untuk “menyingkap karya-karya kanon” (opening up the Canon) – dengan segala konteks non-sastrawi sebagai prinsip interpretasinya – merupakan upaya kabur dari estetika. Fenomena ini, diakuinya, berangsur cukup lama (khususnya dalam lingkungan intelektual di Amerika, dan Barat pada umumnya) dan cenderung tak pernah berakhir karena kenikmatan sendiri menunjukkan atau menyisakan kepedihan dalam setiap internalisasi: “Kabur sendiri merupakan metafora Freud untuk represi, melupa secara tak sadar namun punya maksud… Melupa, dalam konteks estetika, selalu bersifat menghancurkan karena kognisi, dalam kritik, selalu bergantung pada memori.” Kebenaran tentang karya-karya kanonik: meskipun banyak pihak berusaha untuk menyingkapnya, nilai-nilai estetis yang dikandung karya-karya tersebut selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kapasitas untuk “memahami sensasi dan persepsinya”. Karya dapat menerobos masuk ke dalam Kanon hanya dengan kekuatan estetis (aesthetic strength), yang terbentuk oleh gabungan aspek-aspek yang merupakan kriteria Longinian terhadap karya-karya Sublim: penguasaan bahasa, orisinalitas, daya kognitif, kawruh atau pengetahuan dan kelimpah-ruahan diksi.

Aspek-aspek tersebut di atas lah yang mendasari dan mendorong Bloom, atau barangsiapa yang disebut Samuel Johnson, Virginia Woolf, lalu Bloom sendiri sebagai ‘si pembaca umum’ (the common reader), pada aktivitas menilai kualitas karya dalam perbandingannya dengan karya terbaik di kelasnya. Terkhusus dan terutama, kepada jenis pembaca inilah Bloom secara eksplisit mengalamatkan magnum opus-nya: pembaca yang tidak mengkorupsi  dan mengawali bacaannya dengan prasangka (Johnson) atau prakonsepsi; mau dan mampu membuka pikiran terhadap persepsi maupun ekspresi pengarang-penulis layaknya seorang rekan (Woolf); serta membaca bukan untuk mendapatkan nikmatnya kemudahan atau kenikmatan yang mudah, apalagi untuk merepresi perasaan bersalah seseorang terhadap sosial, melainkan untuk mencari “kenikmatan yang sukar”: kenikmatan membaca yang bersifat individual, yang mampu memperluas dan mengasah kesendiriannya; kenikmatan yang tidak akan diberikan oleh karya-karya bermutu rendah (Bloom). “Tanpa ada jawaban atas tiga pertanyaan ini: lebih dari, sama dengan, kurang dari?” tegas Bloom, “tidak akan ada yang namanya nilai estetis”. Dari pertanyaan-pertanyaan prinsipil ini, tentu kesukaran sendiri sudah menjadi atribut yang mudah ditemui pembaca pada karya otentik, hal yang juga mewujud pada gambaran Woolf atas dua fase paling umum dan universal pada setiap pembacaan: pertama, sebagai rekan si pengarang/penulis, “menerima segenap impresi dengan pengertian atau pemahaman yang utuh”; berikutnya sudah tak menjadi rekan namun penilainya, “menilai segenap impresi tersebut” melalui perbandingannya dengan yang terbaik di kelasnya sebagai standar penilaian. Woolf pun, dalam eseinya How Should One Read a Book?, darimana kutipan saya tadi berasal, tak lupa menekankan kesukaran yang pasti dialami pada dua fase persinggungan pembaca dengan bacaannya tadi. Untuk memahami apa yang ingin dikatakan penulis sendiri memerlukan daya imajinasi, lingkup-pandang dan pembelajaran. Kekonyolan terbesar, baginya, adalah menganggap bahwa fase yang satu lebih mudah daripada yang lainnya. Meskipun Woolf mengawali esainya tersebut dengan: “Sungguh, satu-satunya saran yang bisa diberikan seseorang pada orang lain tentang membaca adalah jangan menghiraukan saran,” dia, jauh setelah peringatannya itu, menyarankan “pembaca”nya untuk tidak “menyia-nyiakan daya tenaga kita tanpa bantuan dan bermasa-bodoh”. Dari Woolf, seorang kritikus-novelis yang sangat mengedepankan kebebasan pada dan di dalam setiap pembacaan, barangsiapa membaca hendaknya mengikut-sertakan setiap saran yang membantu untuk mempelajari apa yang dibacanya secara utuh dan mendalam – karena tidak hanya kata-kata yang menemu audiensnya: namun terlebih seorang, sebuah atau beberapa personalitas, dengan realitas dan temperamen mereka, dalam dunia yang tak terlalu jauh dan tak sepenuhnya asing.

***

Beberapa bulan bersama Shakespeare dan Whitman merupakan kurikulum yang sibuk dan melelahkan di kehidupan akademis saya dulu, meskipun “Sejarah Kesusastraan Inggris” dan “Sejarah Kesusastraan Amerika” diajarkan masing-masing satu semester (tanpa kehadiran Shakespeare dan Whitman secara langsung) dalam keseluruhan perkuliahan saya di jurusan Sastra Inggris. Sibuk dan melelahkan saya rasakan pula setiap saya menghabiskan waktu bersama keduanya di kehidupan pascakampus, meskipun di bawah rindangnya pohon tua taman Benteng Vredeburg, atau di hangatnya gubuk di pinggiran sawah Klaten yang belum diintimi hujan, atau di kering dan dinginnya kasur saat di luar segalanya basah. Semakin mengakrabinya semakin dekat pula saya dengan kesukaran yang ada pada mereka berdua, bukan kebingungan yang seringkali membuat saya jauh dan tidak bisa berlama-lama dengan bacaan yang pergi begitu saja dalam sekali baca, atau kebingungan yang mudah dimengerti saat seseorang merasa ada yang salah dengan tidak diajarkannya secara khusus Shakespeare dan Whitman dalam mata kuliah yang saya sebut di atas. Samuel Johnson dan William Hazlitt sangat membantu dalam memperjelas, bukan menyelesaikan, masalah yang saya temui pada karakterisasi beberapa karakter dari drama tragedi maupun komedi Shakespeare. Begitu pula Harold Bloom pada kekayaan Shakespeare akan bahasa dan kekuatan kognitifnya dalam menghidupkan karakter-karakter tersebut, serta mendekatkan saya pada ragam entitas yang menjadi esensi puisi-puisi Whitman. Di saat seperti sekarang ini, di mana jarang sekali dapat ditemukan panduan yang komprehensif dan lebar cakupannya tentang karya-karya monumental dalam budaya dan sastra barat, buku The Western Canon: The Books and School of the Ages merupakan salah satu kontribusi penting yang patut dimiliki dan diakrabi.

 

Dodo… Dodo…

 

*Fernando: Baiklah, sahabat, kita obrolkan lagi nanti.

*G.W: Oh! Sore dan seorang teman yang begitu menggembirakan!

 

 gambar Wahmuji

Aku belum membaca buku ini. Dari ulasan di atas, Harold Bloom tampak berbeda dengan kaum intelektual dan kritik sastra 60-70an yang banyak fokus pada sisi-sisi politis terciptanya karya sastra dan yang terkandung dalam karya sastra; yang kemudian, salah satunya, melahirkan 'cultural studies', kajian yang dengan sinis dikritik oleh Harold Bloom.

Harold Bloom juga tampak berusaha menjawab pertanyaan 'apa yang membuat karya sastra agung/besar, dan tetap besar?', jawaban yang diperoleh dengan telaah estetika... Jawaban yang mengantisipasi gelombang politis analisis sastra, tapi juga di sisi lain membuat pertanyaan yang muncul dari mental praksisku 'apa yang disumbangkan oleh karya sastra pada masyarakat?' menggelinding entah kemana.

Tampaknya buku ini memang harus segera dibaca...