Gado-gado Lebaran (1)

Sebelum semuanya hilang ditelan aktivitas. Sebelum semuanya tak lagi penting. Aku ingin bercerita tentang desa, tentang cinta, tentang masyarakat, tentang siklus, tentang bahasa, tentang politik dan tentang segala hal hasil lamunan ketika lebaran kemarin. Ketika aku memasang tulisan ini, Padang sedang terkena bencana alam. Jadinya, berhubungan dengan urgensi, disandingkan dengan apa yang terjadi di Padang, tulisan ini mungkin tidak berarti apa-apa saat ini.

Aku mudik pada hari sabtu, 19 September. Dua hari sebelumnya Hpku diambil orang. Anehnya, aku justru merasa lega karena Hpku hilang. Entah mengapa aku kurang tahu. Sebelumnya, aku telah memindah semua sms dari perempuan yang aku birahi. Birahi, ya. Mungkin kata yang ngetren dalam karya sastra pop tahun 1900an awal itu lebih cocok menggambarkan perasaan pada orang yang dihasrati. Birahi. Melulu birahi. Birahi pada senyum, tawa, dan akhirnya tubuh. Tentu saja birahi lebih cocok. Cinta adalah getaran birahi yang paling indah. Cinta tidak akan pernah ada tanpa tubuh. Orang takkan bisa jatuh cinta tanpa materi fisik wujud idealisasi yang tercipta di kepala. Tubuhlah materialnya.

Aku tidak menyalahkan apalagi mengutuk orang yang mengambil Hpku.
Aku telah kapok mengutuk orang. Pernah beberapa kali dalam hidupku, khususnya sewaktu menginjak usia remaja, aku mengutuk perkataan dan tindakan arogan beberapa tetangga dan kerabatku, dan yang kukutuk dalam hati itu selalu mendapat bencana. Salah satunya meninggal jatuh dari pohon. Mungkin itu cuma kebetulan. Aku tidak tahu pasti. Aku jadi takut mbatin orang.

Di sepanjang jalan pulang, takbir berkumandang tiada henti. Aku sama sekali tidak merinding. Tidak tergetar hatiku. Mungkin karena aku tidak berpuasa. Mungkin karena tidak ada yang perlu dirayakan. Selamanya perayaan dilakukan setelah orang mencapai sesuatu karena usaha. Jika orang tidak terlibat dalam usaha pencapaian itu, ia hanya merayakan kehampaan. Kehampaan itu pula yang mengiringi perjalananku. Puasa, Tuhan, larangan-larangan, kenikmatan-kenikmatan. Diri ini tiada pernah mengerti sepenuhnya.

Sesampainya di rumah, aku menyalami bapak. Ibu dan adikku sedang di tempat simbah. Setelah mereka pulang dan kami makan bersama, aku keluar rumah. Mencari teman-teman yang pulang dari perantauan. Desaku adalah desa perantau. Sembilan puluh persen pemuda-pemudinya merantau. Sebagian besar ke Jakarta. Mereka hanya pulang ketika ada tetangga punya hajatan atau lebaran. Para perantau. Ya, merekalah teman-temanku yang sangat hebat. Karena perantauan itulah hidup mereka sedikit lebih baik, pastinya dalam bidang ekonomi. Tapi hidup mereka tetaplah susah jika dibandingkan dengan biaya pendidikan yang kian memilukan. Urbanisasi. Kata yang sering mendapat makna jelek di banyak media itu ternyata memang menolong banyak orang. Terkadang aku bingung, kenapa mereka tidak bunuh diri dan tetap menjalani hidup yang susah itu. Aku pernah membandingkannya dengan Jepang. Negara yang angka bunuh dirinya tinggi. Temanku pernah bilang, orang jawa tidak diajar untuk jadi orang kaya. Mereka diajar untuk siap hidup prihatin. Terlepas dari narasi awal kemunculan kata prihatin – entah untuk menyiapkan diri dalam kefanaan hidup orang kecil atau sebagai bentuk kemenyerahan mereka – nyatanya kata memiliki khasiatnya sendiri. Untuk lebih tahu mengenai bunuh diri Jepang dan budaya keukeuh hidup orang-orang miskin di Indonesia, aku bertanya pada beberapa temanku yang merantau ke Jepang. Jawabannya selalu dibubuhi kata ”mungkin”. Dan yang selalu diulang adalah, ”mungkin karena kita punya budaya curhat.” Curhat = curahan hati. Akronim hebat yang tidak ada dalam KBBI ini mengacu pada kegiatan mencurahkan perasaan pada teman, kekasih, tetangga, atau orang lain melalui media apapun untuk berkomunikasi. Seorang peneliti Belanda pada tahun 1970an pernah mengamati fenomena kirim-kirim salam lewat radio. Bukankan kirim-kirim salam perbuatan yang mubazir? Bukankan itu sama sekali tidak penting? Katanya, tidak ada aktivitas seperti itu di budaya Belanda. Peneliti itu akhirnya menyimpulkan bahwa ”kirim-kirim salam” merupakan simpul hubungan yang penting dalam masyarakat Indonesia. Berangkat dari situ, aku maklum kenapa segala sesuatu yang berbau Social Networking atau Jejaring Sosial laris manis di Indonesia. Dan anehnya, di Jogja, warung kopi juga semakin banyak jumlahnya. Pengunjungnya juga tak habis-habis. Curhat. Itulah yang biasanya aku tunggu dari teman-temanku. Aku suka mendengar cerita-cerita perantauan mereka. Para penjual bakso, para pedagang sayur, buruh pabrik, satpam, tukang ojek, hingga orang-orang yang bekerja di kapal. Mereka suka bercerita. Biasanya soal kekecilan mereka. Ketidakmampuan mereka mencapai sesuatu. Kecemburuan pada tetangga yang tidak pernah diungkapkan secara langsung. Mereka suka bercerita tentang ketertindasan mereka. Mereka merasa ditindas. Tapi tidak cukup punya bahasa untuk mengungkapkannya. Curhatlah jawabannya.

Sebagian besar pemuda-pemudi desaku merantau di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jumlah mereka sangat banyak. Para pemuda bahkan membuat klub sepakbola dan bola voli di sana. Hampir tiap malam minggu para pemuda berkumpul di lapangan sepakbola untuk minum-minuman keras bersama. Aku sering berpikir tentang aktivitas minum-minuman keras itu. Apa fungsinya? Yah, mungkin aktivitas itu juga yang membuat mereka tetap kuat menjalani hidup. Bagaimana tidak? Mereka tidak punya pegangan yang kuat dalam beragama. Sholat jarang mereka dirikan. Mungkin sekali setahun. Itupun sholat sunnah Idul Fitri. Filsafat konkrit jawa yang ada dalam wayang juga telah mereka lupakan – atau tetap ada dalam bawah sadar mereka? Dengan bantuan alkohol itulah mereka curhat – entah khusus pada topik tertentu atau tidak, entah dengan cara berfilsafat moral atau dengan kemarahan. Mereka tetap bercerita dan bekerja. Mereka telah memuliakan diri dan Tuhan mereka.

Di aktivitas seperti itulah biasanya aku bisa masuk. Aku juga pemabuk.

Di depan rumah sudah ada beberapa pemuda main karambol. Aku duduk mengamati sambil sedikit-sedikit memberi komentar. Beberapa saat kemudian, aku diajak berkeliling desa. Ada maling! Desa sebelah utara baru saja kehilangan HP. Desa sebelah timur baru saja mengejar-ngejar maling yang lari ke kebun tebu. Di desaku, beberapa hari yang lalu ada yang kehilangan kompor gas dan pakaian yang dijemur di halaman. Ada maling! Aku disuruh membawa batangan kayu. Bertiga kami berkeliling melintasi batas utara desa ke arah timur menuju salah satu pos yang telah dibuat. Mungkin ada 6 pos di batas-batas desa yang telah dibuat. Mungkin lebih. Dan selalu ada orang yang berkeliling memeriksa. Suasana begitu mencekam penuh curiga. Telah beberapa hari para perantau yang baru saja pulang ikut menceburkan diri dalam penjagaan malam seperti itu. Sesampainya di pos, aku bertemu banyak kawan lama. Sedang minum bir campur anggur putih. Di sebelah timur ada orang yang menyalakan senter. Kami bersiaga. Bersiap menangkap dan menginterogasi siapa saja yang melewati batas desa. Ternyata senter itu menjauh. Arahnya membelok ke kiri menjauhi desa kami. Aku ikut minum oplosan anggur putih dan bir. Mulailah mereka bercerita tentang perjalanan pulang mereka. Cerita tentang perjalanan pulang selalu menarik didengarkan dan selalu diulang-ulang. Mungkin karena selamat sampai di desa adalah suatu prestasi tersendiri. Sebentar aku mendengar beberapa orang merancang taktik penjagaan. “Pokoknya tidak boleh berkeliling sendirian. Maling lebih nekat daripada kita. Minimal harus berdua. Dan jangan lupa membawa senjata.” Beberapa orang mulai berkeliling lagi, dan aku masih tetap minum oplosan bir dan anggur putih. Tidak lama kemudian, aku tertidur. Bangun jam setengah tiga. Dan pulang.

Jam setengah 7 sholat dimulai. Setengah jam sebelumnya aku telah berpakaian koko dan berkopyah. Orang tuaku hanya memaksaku sembahnyang sholat idul fitri. Sholat-sholat lainnya tidak pernah. Seringkali orangtuaku dan adikku sholat berjama’ah di rumah. Dan aku keluar untuk merokok dan melamun. Sholat kali ini dilakukan di halaman SD. Imamnya aku sama sekali tidak kenal. Pengkotbahnya adalah seorang haji dari desaku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku tertidur ketika pengkotbah mulai menyampaikan petuah-petuahnya dan bangun ketika orang mulai berdiri untuk ikrar saling memaafkan dilanjutkan salaman berkeliling. Saling memaafkan. Budaya yang menarik. Kalau saja semua sesederhana itu. Ah, tidak mungkin. Bukankah ada peristiwa saling memaafkan berarti ada peristiwa untuk saling berbuat salah?

Biasanya hari kedua lebaran, orang-orang berkeliling untuk meminta maaf. Yang muda kepada yang tua. Maka yang tua tidak perlu kemana-mana. Cukup menunggu yang muda datang. Keluarga muda membawa anak kecilnya berkeliling ke rumah kakek nenek dan keluarga besarnya. Aku tidak tahu sejak kapan budaya berkeliling ini ada di desaku. Aku menikmatinya. Hampir semua orang yang kujumpai tersenyum dan tertawa. Entah jujur entah tidak. Entah menyimpan duka atau tidak. Namun, aku juga tahu bahwa lebaran juga ajang pamer keberhasilan rantau. Biasanya harta: motor baru, pembangunan rumah, mobil, HP baru, laptop...

Kali ini hari berkeliling adalah hari ketiga. Kalau seperti ini, di hari kedua, orang-orang di desaku berkunjung ke saudara yang bertempat tinggal di desa lain. Jadi, hari ini cukup di rumah saja. Bercengkrama dengan orang tua dan menyisihkan waktu untuk menerjemahkan.

Menerjemahkan. Pekerjaan yang sudah aku lakukan sejak tahun lalu. Awalnya aku membantu teman satu kosku jika pekerjaannya menumpuk. Akhir tahun lalu, aku mendapat pekerjaan menerjemahkan dari seorang kawan. Tarifnya memang cukup rendah. Tapi aku ambil untuk mengisi waktu dan melatih kemampuan berbahasa Inggris dan Indonesia. Ternyata hasilnya tidak buruk. Bahkan, ketika membaca terjemahan buku-buku lain, aku merasa punya sedikit kelebihan. Kepekaan terhadap kata kian tinggi. Fitur-fitur makna kata yang dulu sering aku abaikan ternyata punya ruang gerak yang luas di penerjemahan. Sampai sekarang pekerjaan dari kawan satu itu tetap aku terima, tetapi aku serahkan pada beberapa teman yang ingin belajar menerjemahkan. Bukan bermaksud sombong tapi memang menerjemahkan adalah keahlian, yang seperti keahlian-keahlian lain, didapat dari pembiasaan. Dan pembiasaan yang paling enak tentu saja pembiasaan yang diberi bayaran. Menerjemahkan. Bersama beberapa teman, aku membuat sebuah biro terjemahan. Mungkin benar kata temanku dulu, pekerjaan yang pertama kita ambil akan membawa kita pada pekerjaan serupa.

Yang aku bawa pulang adalah proyek pertama dari biro yang kami buat. Sebuah buku. Isinya tentang politik kehutanan masyarakat. Struktur bahasanya lumayan tidak tertata. Banyak istilah yang dipakai secara tidak konsisten oleh pengarangnya. Tapi itulah resiko penerjemahan. Apalagi dengan bahasa sumber bahasa Indonesia. Terlalu banyak kesalahan yang dibuat. Dan itu mudah saja ditemukan. P3B tidak mampu mengatur lalu lintas bahasa yang masuk ke bahasa Indonesia. Pelajaran Indonesia di semua jenjang pendidikan tidak mampu memberi jaminan kualitas kerapian tata bahasa. Klausa bertumpuk-tumpuk dan tidak nyambung akan sering kita temukan di buku-buku yang isinya tidak menyangkut bahasa dan sastra. Istilah-istilah asing bertebaran bukan karena bahasa Indonesia tidak punya padanannya atau karena rasa kata asing itu tidak mampu disaingi oleh padanan dalam bahasa Indonesia, tetapi karena istilah asing dianggap keren dan merupakan syarat tulisan terlihat akademis. Akademisi! Akademisi adalah peletak utama kehancuran bangsa Ini. Bahkan, temanku, seorang penyair pernah bilang, peletak kehancuran Indonesia adalah UGM, UI, ITB, dan IPB. Dari keempat institusi pendidikan itulah dilahirkan pemegang jabatan-jabatan penting di Indonesia. Dan penanggung jawab terbesar keterjajahan Indonesia saat ini. Bahasa tidak luput dari permainan politik kekuasaan itu. (Bersambung)

 gambar Wahyu Adi Putra Ginting

Quote:
Bahkan, temanku, seorang penyair pernah bilang, peletak kehancuran Indonesia adalah UGM, UI, ITB, dan IPB.

seharusnya kau tambahkan satu lagi, dab Muji. Akademi Militer! Gyahahaha....

 gambar durgadurga

wah, sayang sekali kau tidak bisa memamerkan hp mu, hilang sih...siapa tahu kau dapat pacar dengan memamerkan hp.ihikkkk...

wah, jadi pengen menerjemahkan jadinya...