Pidato Obama di Kairo (Nawal El Saadawi)
Catatan pengantar:
Mungkin teks ini agak telat ditampilkan mengingat ditulis pada bulan Juni 2009. Tapi kupikir tulisan ini penting karena dua hal. Pertama, Banyak orang Indonesia yang termakan Media Arus-utama dan mendewakan Obama yang belum apa2 sudah dapat nobel perdamaian itu. Kedua, Nawal El Saadawi, penulis asal novel Woman at Point Zero itu, sepengetahuan saya, selalu diangkat sebagai orang yang melawan Arab, khususnya sistem Patriarki dalam Islam. Di Indonesia, dia jarang, mungkin juga tidak pernah, ditampilkan sebagai orang yang juga punya perhatian pada isu-isu besar lain, misalnya politik praktis dan eksploitasi ekonomi. Tulisan ini saya ambil dari catatan Izi Ibrahim. Semoga berguna. Selamat membaca.
***
Obama adalah sosok yang berbeda dari G.W. Bush. Obama terlihat lebih manusiawi, namun jerat-jerat kepentingan politik dan ekonomi lebih sering mengabaikan kemanusiaan.
Kita hidup dalam satu dunia yang diatur oleh sistem kapitalis-religius-partriarkal. Dalam dunia semacam itu, kekuasaanlah yang mendominasi seluruh dunia kita (bukan keadilan atau kebebasan atau keadilan atau kedamaian atau etika atau nilai-nilai kemanusiaan). Politik dalam sistem semacam itu merupakan sebuah permainan yang dijalankan berdasar atas penggunaan kata-kata manis untuk membungkus aksi-aksi biadab, bagaimana menggunakan kekuatan Tuhan untuk mendominasi para pendengar, bagaimana memilih ayat-ayat tertentu dari kitab suci untuk menyembunyikan kontradiksi dan standar ganda, bagaimana cara untuk membunuh manusia dan merampas sumber daya alam mereka, dan kemudian meminta maaf dengan linangan air mata. Dalam bahasa Arab-Mesir kita menyebutnya sebagai: "Air Mata Buaya."
Di Kairo (pada Kamis 4 Juni 2009 kemarin) Barak Obama berbicara di hadapan 2500 penduduk Mesir yang diundang oleh pemerintah Mesir dan Amerika dan diizinkan untuk memasuki gedung pertemuan cairo University yang dijaga ketat oleh 13.000 polisi Mesir dan Amerika.
Kita, penduduk Mesir, adalah kumpulan dari 80 juta jiwa sehingga 2500 orang laki-laki dan perempuan yang bertepuk tangan sebanyak 30 kali selama 50 menit pidato Obama tersebut tentulah tidak mewakili seluruh Mesir. Mereka yang hadir hanyalah: "Orang-orang Terpilih."
Mereka bertepuk tangan riuh ketika Obama mengatakan bahwa wanita Muslim bebas mengenakan jilbab sepanjang mereka mau. Ya, dia berbicara seolah-olah mengenakan jilbab (atau telanjang) adalah pilihan! Seolah-olah penganiyayaan adalah pilihan orang-orang yang
teraniyaya!
Ini seperti mengatakan bahwa laki-laki atau perempuan boleh memilih untuk berkhitan (karena mereka tidak ingin berbeda dari yang lain), atau mengatakan bahwa orang-orang miskin memang menghendaki kemiskinannya (karena kemalasan atau kebodohannya).
Selama terjadinya pembantaian Gaza saya pernah membaca bahwa penduduk Palestina memilih untuk dibunuh (atau mereka membunuh anak-anak mereka) agar tampak sebagai korban dan kemudian mendapat simpati dunia.
Saya melihat di layar TV, mengamati bagaimana Obama berbicara dengan kedua tangan, mata, dan bibirnya. Bibir dan tangannya terlihat lebih bengis ketimbang Bush. Warna kulitnya lebih mengundang perhatian, bukan hitam bukan putih bukan kuning, sebuah percampuran darah dan bermacam ras yang menjelma menjadi sosok yang lebih rumit. Obama
Obama adalah aktor yang kreatif di atas panggung. Dia menghapal naskah pidatonya sepenuh hati sehingga seolah ia berbicara tanpa teks . Dia sangat terlatih untuk terlihat spontan.
Orang-orang Mesir, Amerika, atau negara mana pun, terutama mereka yang dipilih oleh pemerintahnya masing-masing, kurang jeli untuk mengamati jenis kreativitas ini: bagaimana beberapa pemimpin politik berhasil meraih apa yang disebut kharisma. Orang-orang Jerman dengan penuh semangat memberi tepuk tangan pada Hitler, orang Rusia mencintai Stalin, orang Amerika memilih Bush lebih dari satu kali. Sementara di Mesir Sadat memenangi seluruh pemilihan dengan angka tidak kurang dari 95% pemilih. Namun, pemimpin politik yang paling berbahaya adalah pemimpin yang paling kharismatik, pemimpin jenis ini akan membuat Anda bernyanyi tanpa sadar: bunuh aku perlahan-lahan. Anda rela mengorbankan darah Anda demi mereka.
Di saat Obama memberikan pidato, salah satu orang Mesir yang dipilih untuk hadir di gedung pertemuan itu berteriak: I Love You! dan Obamamenjawab: Thank You.
Dalam pidatonya Obama memuji-muji raja Arab Saudi, menggambarkannya sebagai sosok pahlawan dialog antar agama! Apakah sebuah kerajaan teokratis yang banyak melahirkan ekstremis adalah negara demokratis? Seorang diktator sekutu Amerika bisa diubah menjadi seorang pahlawan nan demokratis. Sementara di saat yang sama Sadam Hussein dan Bin Laden adalah seorang pejuang kebebasan.
Obama memuji Netanyahu dengan mengatakan bahwa dia adalah sosok yang cerdas. sementara tak satu pun penguasa Arab yang ia sebut cerdas, termasuk Mubarak yang duduk di depannya. Bahkan dia tak sekali pun menyebut nama Mubarak dalam pidatonya. Apakah Obama ingin memberi jarak pada dirinya sendiri sebagai seorang manusia dan Presiden Amerika?
Apakah ia ingin menunjukkan atau menyembunyikan kepribadian ganda yang dimilikinya? Namun sekali lagi Obama adalah sosok pintar yang mengetahui dengan baik apa yang oleh psikologi disebut sebagai "filosofi peristiwa saat ini". Bagaimana menyerahkan diri pada sebuah peristiwa tanpa menyerahkan peristiwa itu pada dirinya sendiri.
Bahasa tubuh Obama terlihat sangat alami. Dia melompat dari tangga pesawat dengan kedua tangan di dekat dada seperti seorang anak sekolah yang diliputi kegembiraan karena hendak berjumpa dengan pacarnya. Ini bukan Presiden Amerika akan tetapi inilah Barak Husein Obama.
Saya mendengarkan pidatonya melalui TV dan membacanya dua kali untuk menyerap atau menemukan beberapa perubahan dalam kebijakan AS. Terdapat deretan kata-kata indah yang diambil dari tiga kitab suci. Dia menyerukan kata-kata tersebut seperti Paus yang berpidato di Yordania beberapa bulan lalu, memuji ketiga agama manusia. Dia memanfaatkan dengan baik nama tengahnya "Husein" untuk berbicara kepada orang Muslim,namun dia juga mengetahui dengan baik kapan saat yang tepat untuk menyembunyikan nama tersebut.
Saat ia mengutip ayat Quran, para pendengar Muslim bertepuk tangan dengan antusias. Namun, mereka tidak mempedulikan kesalahan yang ia buat dalam memahami surah al-Israa. Surah tersebut tidak pernah mengatakan bahwa tiga nabi, Musa, Isa, dan Muhammad diturunkan bersama-sama Lilat Al-Israa. Para pemeluk Kristen Koptik Mesir bertepuk tangan meriah ketika dia berbicara tentang hak-hak kaum minoritas di Mesir. Sementara Israel menyambut gembira ketika dia menyatakan bahwa AS dan Israel terikat oleh budaya (bukan kepentingan bersama!) dan ketika ia menitikkan air mata saat berbicara tentang Holocaust, 6 juta Yahudi yang dibantai di Jerman, penderitaan abadi mereka, dan hak mereka untuk memperoleh tanah air.
Akan tetapi dia tidak mengatakan bahwa seharusnya tanah air mereka adalah di Jerman, negara yang membantai mereka, atau di Eropa atau di AS atau di tempat lainnya di mana tidak perlu ada manusia yang dibantai dan dirampas rumah serta tanahnya oleh sebuah kekuatan militer. Dia tidak meminta Israel untuk menghentikan aksi-aksi militernya terhadap anak-anak Palestina. Sebaliknya, dia justru meminta orang-orang Palestina untuk menghentikan kekerasan yang mereka lakukan terhadap anak-anak Israel. Dia tidak menyebutkan seberapa banyak bangsa Palestina yang dibunuh dan disiksa Israel setidaknya dalam 60 tahun hingga sekarang ini. Dia tidak meminta Israel untuk menghormati resolusi PBB, dia hanya meminta Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman baru. Namun bagaimana halnya dengan pemukiman lama yang telah mengakibatkan terusirnya ribuan penduduk Palestina dari rumah-rumah mereka? Bagaimana dengan pemukiman yang
dibangun di atas dalih "Pertumbuhan Alamiah"?
Dia meminta rakyat Palestina untuk melupakan masa lalu dan berpaling ke masa depan. Beberapa hari sebelumnya di negaranya sendiri ia meminta orang-orang untuk melupakan kejahatan dan penyiksaan, untuk melupakan masa lalu dan melihat ke masa depan. Namun jika demikian, apa fungsi hukum jika tidak digunakan untuk menyelidiki dan menghukum para kriminal yang membunuh dan menyiksa?
Kemudian, dengan lembut Obama mengalihkan diri dari topik etika ke topik politik dan kepentingan, seolah-olah di antara beberapa topik ini tidak ada kontradiksi. Dia mengatakan bahwa AS tidak memiliki kepentingan dengan sumber daya alam Irak. Dia mengabaikan atau sengaja melupakan Undang-undang Minyak yang dipaksakan pada pemerintahan Irak (yang memasukkan minyak irak dalam monopoli perusahaan-perusahaan Amerika selama 30 tahun). Dia mengingatkan akan bahaya nuklir Iran, sementara dia tidak menyebut bahaya nuklir yang dimiliki oleh militer Israel.
Tujuan pokok dari pidato Obama adalah memobilisasi negara-negara Muslim untuk menghadapi ekstrimis Islam, membuka pasar di negara-negara Muslim bagi produk-produk Amerika di bawah jargon pembangunan dan partnership, menjamin kepentingan-kepentingan Saudi dan negara-negara Teluk penghasil minyak serta Amerika di kawasan yang disebut Timur Tengah.
Rakyat Mesir menderita karena kunjungan Obama ke Kairo. Ribuan pelajar tidak bisa pergi ke sekolah atau universitas dan menunda ujian mereka. Sekolah dan universitas diliburkan selama kunjungan Obama karena alasan keamanan. Sementara itu, Mrs. Obama tetap tinggal di AS dan tidak menemani suaminya ke Mesir demi mendapingi kedua anak nya yang tengah menghadapi ujian.
Banyak ruas jalan di Kairo yang ditutup dan banyak orang yang terpaksa harus tinggal di rumah serta kehilangan penghasilan sebanyak 20 juta dolar. Pemerinttah Mesir menghabiskan 500 juta dolar untuk biaya keamanan kunjungan Obama. 10.000 polisi dan ratusan kendaraan polisi dikerahkan. Penduduk Mesir diinstruksikan untuk tinggal di rumah dan tidak boleh membuka jendela rumah mereka, terutama bagi rumah-rumah yang terletak di kawasan yang dikunjungi Obama, termasuk kawasan Piramida, Giza, Ain Syams, Helwan, Cairo University, Al Kalaa, Masjid Sultan, Kasr al-Kobbaa, dan seluruh jalanan yang menuju kawasan ini.
Kehidupan sehari-hari di Kairo terhenti. Jalanan kosong, orang-orang terpenjara dalam rumah mereka. Tak seorang pun diijinkan mendekati Cairo University ketika Obama tengah berpidato kecuali 13 orang warga Amerika yang berdemonstrasi di gerbang universitas dengan meneriakkan tuntutan agar Obama berkunjung ke Gaza.
Polisi mengijinkan Ketiga belas warga Amerika tersebut berdemonstrasi. Mereka adalah kaum oposisi atau pengacau dalam iklim demokratis Mesir, sementara para pengacau atau oposisi Mesir yang sebenarnya berada dalam penjara atau dalam pelarian di luar negeri. Namun politik adalah sebuah permainan yang harus dimainkan oleh seluruh partai.
Hanya tiga puluh menit setelah pesawat Obama tinggal landas, para pekerja miskin Mesir bertebaran di jalanan untuk memunguti sisa-sisa bunga atau pohon imitasi yang ditanam di berbagai tempat untuk menyambut sosok setengah dewa itu.
Nawal El Saadawi
5 Juni 2009



