tak biasa dialog kritis

Mungkin tidak sepenuhnya benar,
tapi dari apa yang aku alami dan lihat,
banyak orang yang cenderung enggan dikritik.
kritik yang aku maksud sebenarnya lebih pada dialog kritis tentang cara berpikir dari wacana apapun yang dihadirkan seseorang, baik secara sengaja untuk 'dinilai' maupun tidak. kecenderungan ini berlangsung dalam tataran yang menurutku, cukup mengkhawatirkan.
Coba aku urutkan dari yang paling dekat denganku:
a) Orang tua
Era yang berbeda antara orang tua dan anak, dalam hal ini khususnya orang tuaku, mencipta jarak yang cukup jauh. bukan pada penguasaan teknologi, tetapi lebih pada wacana yang mereka dapat yang melahirkan harapan-harapan besar terhadapku, yang cenderung bersifat materialistis. Penghadiran kritik dalam hubungan ini selalu tidak mudah karena berkaitan erat dengan tanggung jawab moral anak dan hierarki hubungan sosial, khususnya keluarga.

b) Mahasiswa
Kecenderungan diskusi mahasiswa yang menurun (khususnya di USD) membuat suasana dialog kritis tidak tercipta, baik di kelas maupun di luar kelas. kadang, lebih parah lagi, mengkritik dianggap memusuhi.

c) dosen
Keengganan mendapat kritik terlihat dari tidak adanya evaluasi berkelanjutan terhadap proses belajar mengajar di kelas dan dari tidak adanya forum diskusi yang memadai, yang sengaja diciptakan dosen, untuk melakukan evalusi dua arah, yaitu dosen dan mahasiswa.

 gambar ascetic

kesiapan seseorang untuk mau menerima sebuah kritik bergantung pada kekuatan mental serta lingkungan mereka dibesarkan, terutama pendidikan. dan yg paling penting bagaimana mereka berpikir tentang kritik itu sendiri.

aku sendiri pernah sekolah ditempat dimana siswa2nya dilatih untuk berpikir kritis, bahkan "berpikir kritis" dijadikan sebuah motto yg harus dipegang erat2. itu nilai jual sekolah itu. walaupun aku baru menyadari arti "kritis" yg sebenarnya setelah aku pergi dari sana. karna yg diajarkan lebih kepada "bagaimana kita mengkritisi sesuatu". dimulai dari kritik terhadap karya orang lain, pergaulan ataupun perdebatan.

tp kita jarang dihadapkan dalam situasi saat kita menjadi objek kritik itu sendiri. karna sebagai siswa kita terbiasa untuk "dinilai", bahkan saat kita dihadapkan dengan kritik, misal saat presentasi di depan kelas, tujuan utamanya ttp satu, yaitu nilai.

kenyataannya saat orang dikritik maka yg muncul pertama kali adalah perasaan. perasaan marah, dongkol, tersinggung, minder, tidak terima, dan semacamnya.
pada intinya manusia selalu ingin dianggap "lebih". dan mereka mencoba menghindari kritik. hanya sebagian yg mau ber-open minded ria. hal ini sering terjadi di negara2 miskin dan berkembang yg taraf berpikirnya bisa dibilang masih rendah. oleh karna itu penghargaan atas hak intelektual orang lain juga sangat rendah.

waduh ngomonge ra terkonstruksi kie esuk2 Laughing out loud isih kriyips2.
menanggapi wahmuji:

1. Orang tua
mereka terbiasa mendikik, kalo pikirannya kurang terbuka maka mereka ga terima kalo mrk dididik anaknya. karna konsep budaya kita mengatakan bahwa seorang anak harus menurut apa kata orang tua. "ora ilok" ngajari wong tuo Shock

2. Mahasiswa
tegantung dari pergaulan mereka. kalo lingkungannya sehat maka suasana kritis akan terbentuk. kalo engga ya jawaban yg paling umum muncul adalah "cape deh"

3. Dosen
hmmmmmmm.....no comment, its their nature :kabur:

 gambar mbik
mbik:

kayaknya masih ada beberapa kategori lagi

4. lingkungan
beberapa orang atau tetangga di kampung yang merasa sarjana
atau jadi sarjana yang sok pintar padahal dilihat dari omongan
si dia tidak ada unsur intelek, sukanya mengkuliahi orang, apabila ada kritik
dari yang lebih muda selalu menganggap remeh.
5. satu komunitas
bagi yang merasa indekos pasti sering berdiskusi ria
tentang masalah apapun. sosial, politik, ekonomi, sampai ke topik olahraga
berawal dari obrolan ringan kemudian mengalir ke obrolan yang lebih berat.

baru nemuin dua......

 gambar sescoplo

a) Orang tua
mereka memang lebih tua dan lebih punya banyak pengalaman daripada anak2nya.. tidak sedikit jg orang tua yg merasa mereka lebih bijak dari anak2nya (pdhl blm tntu semuanya bgitu).. banyak jg orang tua bilang: "kami ini pernah merasakan masa2 muda, tapi kalian blm pernah jd orang tua. jadi kami lebih tau." Laughing out loud
mereka akan susah menerima kritikan, apalagi jika mereka ttp berparadigma lama

b) Mahasiswa
dari apa yg sy amati selama ini, mahasiswa cenderung menganggap jika ada kritikan orang lain yg lebih meyakinkan maka orang lain itu dianggap pintar, sedangkan yg dikritik dianggap lebih bodoh.. mungkin itulah yg salah satu penyebab knp mengkritik dianggap memusuhi Laughing out loud

c) Dosen
beberapa dosen akan menerima kritikan, tapi lebih banyak yg tidak mau dikritik..

 gambar yudosunu

kawan,
sebenarnya budaya kritik-mengkritik itu sudah sangat sering dilakukan, seperti pada kehidupan kita sehari-hari...terhadap ortu, teman, keluarga, lingkungan dan pemerintah kita...namun, sesuai judul saya, ngapain sih ngritik kalo tanpa tujuan yang jelas...maksud saya adalah dimana kritik bisa menjadi suatu jembatan yang jelas terhadap ketidak sependapatan dua pihak yang nantinya akan terjadi suatu kesepakatan, dengan atau tanpa suatu keputusan bulat....jadi kita harus mempunyai tujuan yang jelas, yaitu demi untuk membangun....
kalo menurut (pengalaman) saya, mungkin kritik tersebut dipahami sebagai sebuah "permusuhan" setelah media kritik yang digunakan oleh 'si pengkritik' itu tidak sesuai dengan 'yang dikritik'....maka yang terjadi situ tidak hanya perang wacana namun juga perseteruan pribadi...nah maka kritik akan mendapat tempat yang sangat minim untuk terjadi...hanya debat kusir....maka mungkin sebagai sang 'pengkritik' yang mempunyai rasa sayang kepada'yang dikritik' juga dapat memposisikan diri sejajar dengan 'yang dikritik' dan memahami sepenuhnya peta...

untuk wacana yang disodorkan oleh kawan wahmuji saya juag ingin memberikan pendapat...
1. orang tua
dunia orang tua nampaknya memang tak terjangkau karena faktor "usia" yang berujung pada "pengalaman", namun kemudian kita yang lebih muda, mungkin jalan yang kita tempuh dan waktu yg kita ambil tidak sesuai dengan orang tua kita...orang tua kan penah muda...makanya mreka juga pasti punya sisi seperti kita...dan itu tidak akan pernah hilang....maka pasti akan bisa menerima kritik....
2 mahasiswa
pemahaman wacana mahasiswa untuk saling berdiskusi sudah sangat menurun, ini saya sangat setuju dengan kawan wahmuji, tapi apa? disini kita sedang berdiskusi kawan dan kebetulan kita mahasiswa...ayo kita bangun dunia diskusi kita ini....dan kita tularkan
3. Dosen
hiyak memang...jembatan itu menjadi sangat jauh ketika posisi kita adalah mahasiswa, dan memang itu sepertinya adalah warisan leluhur...namun apa akan kita terima...bisa saja kawan...cari sisi2 mereka yang bisa kita sentil...nha saat itu lah kita bisa melancarkan kritik kita dengan enak...
Wink

 gambar bytcdevil

adalh lebih berbahagia memberi daripada menerima...
itu sepenggal ayat yang baru saja ku pelajari..

jika terkait dengan kritik..hmm,,mungkin smua orang punya kecenderungan itu ji,,
sakit loh jika kritik itu benar benar mengena...bahkan bisa membekas selamanya..
tetapi adakah kesadaran untuk melihat kritik itu sendiri???

ternyata..tak selamanya memberi itu membahagiakan kan???