Bulan Madu dan Racun
Bulan Madu dan Racun
Tahun tahun telah mengajariku bercinta dengan roda di jalan yang terjal
tapi ketika menjadi air yang mengalir dari gunung tersesat di labirin kelak-kelok penuh lele-lele sawah lalu masuk ke dalam tanah, lautpun kini tak pernah terbaca oleh inderaku.
Tangan-tangan melambai seperti bendera perang yang dikibarkan dan terompet kematian tak juga lekas dihentikan. Tangan-tangan menjadi neraka. Kau tiup terus hingga lembah tak lagi indah, hingga kering lenyap tak juga memunculkanku ke daratan. Ruang bawah tanah ini terlalu sesak untuk napasku yang bergejolak.
Tak ada lagi rumah mungil itu di rambutmu
Tak ada lagi senyum yang lebar di belahan dadamu
Tanah telah mengajariku untuk jadi tempat mandi bidadari juga sapi juga kerbau dan kini dikutuk jadi aliran mayat-mayat beku
Mereka telah meminangku dengan kata-kata bijaksana
Sedang lahirpun tiada kucipratkan kebijaksanaan bagi lidah kaku dan kaki kaki yang berjalan di tepianku
Ah, kau menangis lagi di atas sana..
Penuh tertampung di sini semua air mata
Menjadi banjir besar yang akan menghanyutkan kerajaan
yang telah membungkam tawamu yang telah menyesakkan dadamu wahai kau bulan teduh tempat mimpiku meraung-raung bersama serigala di malam hari!
Kaupun sesungguhnya tak mau liburkan diri di kesepian
Jogja, 2007-2008




karena aku tidak punya kampung halaman,
puisimu mengingatkan aku pada kampung halamanmu
yang sering kau ceritakan
diiringi gadisgadis desanya yang ucapmu masih belia dan sudah menikah.
aku rindu kampung halamanmu, dan aku mencintaimu...