Untuk Mengisi Hidup dan Merasa Hidup

Antara sejarah tradisi desa dan kehidupan metropolis kota tetap di lubuk hati terhunus pedang bermata dua.

Bukan maksudku untuk meratap akan hilangnya kisah indah sedikit masalah, tapi penyesuaian atas gerak mas(s)a tak segampang menenggelamkan diri dalam melankolisme jatuh cinta pada kesan pertama terhadap sosok idola yang meresap ke kepala dan ngendon di sana mencari mangsa. pun, bukan kesepian yang meradangku hingga mengasingkanku dari sesama. namun, proses penerimaan ternyata menggiring ke sejarah diri akan proses tempaan biografi "dunia."

Beberapa pagiku belakangan ini disertai citra-citra kehidupan "bebas" dari kulit dunia modern-metropolis. kemudian muncul pertanyaan; di manakah logika-logika dari wacana yang kuserap itu? kenapa mereka tidak langsung bekerja membantuku menerima "segala"? kemana keluasan ini akan menempatkanku?

Ah, kurasa pertanyaan-pertanyaan itu sangat klise. untungnya aku segera menyadari bahwa aku sedang mencoba mewarnai "dunia" dengan mencipta biografi seperti yang lain-lainnya. kemudian teringatlah aku akan pesan simbahku, "Sing ayem, Le neng paran.."

Kalimat itu lebih dari cukup untuk kupakai sebagai bekal baru meraba semua ini:
Aku akan tetap membaca, mengkritik orang dan tulisan-tulisannya, menulis, rapat, mendengarkan musik jazz dan lagu-lagunya Mbah Surip, nongkrong di angkringan, kantin, dan warung kopi, marah-marah pada sepak terjang kolonialisme modern, ngobrol dengan teman-teman, memberi kejutan pada adikku tersayang, menemani belajar adik-adikku yang lucu-lucu itu, diskusi sastra atau apa saja, menonton dan atau membuat pertunjukan, membantu teman-teman yang kurasa membutuhkan, menghindari TV, memijat simbahku sewaktu aku pulang ke desa, mengirim pesan singkat berisi penyemangat pada teman-temanku yang merantau ke kota kota jadi buruh-buruh pabrik jadi tukang becak jadi tukang ojek jadi pedagang sayur keliling jadi pedagang bakso keliling jadi preman jadi tukang cuci jadi tukang momong bayi jadi TKI jadi pemabuk jadi lonte jadi kyai, mengejek dosen-dosen yang sok pintar tapi tak pernah benar-benar berjuang untuk kemanusiaan, menghujat mahasiswa mahasiswi yang katanya intelek tapi tak tahu apa-apa dan tak mau belajar serius, membuang semut-semut yang tak habis-habis menjelajah kamar sempitku, melotot di depan monitor seharga tak lebih dari 150 ribu itu, membacakan puisi entah diminta atau tidak, mengisi bensin di pedagang eceran, melihat anak-anak bermain bola di lapangan kecil tengah kampung Cepit, membuat sajak-sajak protes, menghujat agama yang telah jadi partai haus kuasa, menghujat agama-agama yang melemahkan manusia, membenci tetangga naik haji yang tak pernah mikir tetangganya kelaparan, menggandakan karya sastra untuk teman-teman desa tercinta, mengkritik lurah yang semena-mena, mengagumi Ibuku yang lebih dari dewi, membenci pakdeku yang sok tahu sok berkuasa dan budeku yang suka menipu saudara-saudarinya, menonton rekaman orang bercinta, menyapa Ibu Bapak kos yang suka memberi buah rambutan, dan mencintai perempuan yang meludahi usahaku untuk membantu meredakan kegelisahannya dan menjadi keranjang sampah tempat ia membuang duka..

Semua masih akan kulakukan untuk mengisi hidup dan merasa hidup, Dik..

 gambar dalangpotehi

semua yang kamu alami hanyalah bagian dari hidup. asalkan seseorang selalu merefleksikan hidupnya dan melirik sedikit pada sebuah kesadaran, tidak ada yang tidak indah pada setiap rongga hidup. selalu ada ruang2 kecil yang kadang tak terlihat, tertutup oleh ketakutan kita sendiri. sadarilah kita tidak pernah takut dengan kenyataan, kita selalu takut dengan bayangan yang ada di benak kita, yang belum tentu nyata. ini hidup...
penyelamatku mengatakan sebuah kalimat yang selalu menjadi pedomanku tuk melalui hidup, "hidup yang tidak pernah direfleksikan tidak layak untuk dijalani" dan temanku juga berkata "urip ki kudu diajeni" mungkin memang hidup tak pernah peduli pada kita, tapi bukan berarti kita harus memaki-maki dan berharap hidup mencurahkan perhatiannya. sadari saja kita tidak melawan getir ini sendiri, kita bersama rasa dan logika akan bertahan terhadap segala pahit dan lelahnya hidup.

 gambar durgadurga

saya menjadi semangat dan bergairah setelah membaca tulisan kawan wahmuji ini. ada satu yang ingin sedikit saya komentari. tentang televisi...saya pun mematikan televisi saya beberapa saat ini, baru kemudian saya mulai kembali menonton televisi...dan ternyata dari balik televisi yang jelas membuat saya bodoh dan semakin malas keluar rumah untuk bercengkrama bersama teman sebaya, saya menemukan banyak berita tentang kejadian apa saja diseluruh belahan bumi. mulai dari bencana alam, kawin cerai selebritis, sampai fakta bahwa pemandangan bumi dari luar angklasa yang selalu saya bayangkan indah itu ternyata memang indah.
saya tidak tahu bagaimana saya harus menetapkan hati saya dan membuat teguh segala ide dan pikiran di otak ini...saya hanya ingin menjadi teguh dan tetap menonton televisi.

salam,
amarah durga

 gambar dalangpotehi

kamu tidak akan menjadi teguh, karena dia bukan kamu^,^
seperti kata pepatah "dikocok metu teguh'e"
TV... satu temuan manusia yang akan menguasai penciptanya sendiri..
hati-hati bung...