Absurdity

“Siapakah engkau berjalan mengendap endap di balik jiwa? Menyanyikan kidung tanpa kata dan membelaikan angin pada rasa.”

Baca selengkapnya »

LANGIT HENING

segala awal adalah ketiadaan dan ketimpangan, sunyi-sepi,

langit pun tiada berhias diri selain kelambukelambu hitam-kelam

di deburan angan,

 

KAKI LANGIT

dan menyeruak mimpimimpimu di ceruk langit, tersampaikan

pada bintang dan rembulan di selimut awan, menyeru hujan

Baca selengkapnya »

Dewi Pepujaning Ati

Tumetesing embun wengi iki
ora kaya wingi uni
nalika tanganmu tak kanti
miyak petenging ratri
: memuji

ora krasa luh tumetes ing dadaku
nganti teles kebes ngrasakake
ringkihing ati raga lan jiwa amarga
rumangsa tansah kagoda gumebyaring donya

duh katresnanku lilanana
aku lunga ngupadi pepadhanging ati
tumungkul nyawiji mrih rahayu jati

Baca selengkapnya »

Ketika mantra jadi penawar getir, maka berbahagialah para ahli mantra yang ketiban lagi rezeki nomplok. Bursa mantra semarak menggeliat bak ombak laut raya diterpa galau angin pancaroba. Mantra-mantra jadi penangkis sekaligus pemungkas segala ingin dan tak ingin yang menggedor-gedor dinding nafsu untuk bisa begini dan begitu, sesuka-suka hatiku dan hatimu. Mantra jadi pengingkar sekaligus pengikat untuk menolak dan menarik segala damba dari rindu-rindu tabu yang menggelayut di ubun-ubunku dan ubun-ubunmu. Mantra kembali berjatidiri sebagai mantra.

Di ujung senja, di sebuah kampung tua yang tak jaya lagi, kutemui seorang ahli mantra yang sudah sangat lanjut usianya. Kukabarkan duniaku, kusampaikan maksudku, kusumpah serapah marahku, kutangiskan tangisku, kupinta beruntai mantra-mantranya. Sekejap Pemantra Tua tercenung, lalu terbahak tanpa suara.

“Mengapa mantra? Haruskah mantra?”tanyanya serak.

“Harus! Harus mantra!”jawabku lirih tapi pasti.

“Tapi, kenapa manta?”

“Karena mantra!”

“Lho?!”

“Nah…”

“Jadi?!”

“Mantrakanlah! Mantrakanlah…”

“Baik. Baik, jika itu maumu. Tapi, ini bukan mantraku. Ini puisi mantranya M. Nurgani Asyik. Ia sudah duluan pergi meninggalkan kita dijemput gelombang raya. Mantranya masih saja berjaya. Ini mantra tak main-main. Ini mantra Ya, Hoo…!!”

“Ya, Hoo…!!??”

“Ya! Camkan dan simak baik-baik : ya langit ya gunung ya awan ya angin ya hujan/ ya rimba ya padang ya jin yang bersemayam dalam tenang/ ini datang tumbal ini ada sesajen ini pucuk-pucuk aji ini berkas doa-doa/ ya air ya udara ya mambang ya mayang ya api ya tanah ya badai ya afrit ya peri yang bertahta dalam bahagia/ ini datang kaul ini ada perhidangan ini kelumit mantra ini setumpuk isim/ ya penguasa jadikanlah aman bersama kami/ya, hooo….!!!/ ya Nabi ya Rasul ya Adam ya Muhammad ya Malaikat ya Jibril ya Ridwan ya Izrail ya Chaidir/ ya Allah Nan Maha Penyayang/ ini sesembahan ini sesujudan ini dedoa sakral/ ya Allah Sang Penguasa/ tumpukkan rahmatMu maka tentramlah hati ini.”

Usai pengungkapan mantra itu, alam malam kampung tua terasa begitu tua. Bulan pucat di seperempat langit timur bermuram durja, seakan tercekat ditimpuk-timpuk mantra itu. Sirat serat mantra itu telah mematikan gerak, menafikan munafik, meninabobo hati-hati picik, menggorok putus niat busuk para pemabuk yang suka tipu-tipu. Mantra itu telah mematikan inginku melibas habis segala inginmu. Mantra itu telah mengembalikanku kepadaku. Sebagai pencari mantra, sebenarnya aku tengah mencari diriku sendiri.

Entahlah juga mantra itu dapat mengembalikanmu padamu, jika kamu juga sedang mencari-cari dirimu.

Ketika aku tersadar dari pencarian itu, malam telah larut sekali. Pusaran waktu telah memasuki hari baru di penanggalan baru. Kampung tua yang tak lagi berjaya mati dalam gigil udara pagi. Pemantra Tua juga mati meringkuk sepi di sudut dinding gubuk tuanya. Aku dan kamu juga tengah beringsut-ingsut memasuki hari-hari perjanjian mati.

Mantra yang hampir sempurna kudapatkan dari Pemantra Tua itu ternyata terpulang kembali ke hati yang tentram, menuju jiwa yang tenang. Maka, wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah…

Matahari baru di hari baru berpendar lain sekali. Gerak hari baru terasa cepat sekali. Ketika kuhitung-hitung diriku terasa kosong sekali. Aku beranjak tua cepat sekali…

Banda Aceh, 30 Desember 2007

(Sumber : Serambi Indonesia ~ Minggu, 30 Desember 2007)

Baca selengkapnya »

Kenikmatan apakah yang terkandung dalam sebuah kekalahan? Itu dan begitu terus pertanyaan yang berkisar-kisar dan menggaruk-garuk saraf pikirnya hampir tiga minggu ini. Akibatnya ia tak peduli lagi tentang semua. Tentang dirinya yang kian lusuh, kurus, pucat dan gemetar juga tak mau diacuhkannya lagi. Percuma dan semua terasa sia-sia.

Baca selengkapnya »

Kesunyian yg membunuh...
Aku ingin menari di ujung dunia
Biar lalu aku jatuh dlm neraka
Aku mau menabuh genta tawa
Biar lalu jiwaku tercermin gila

Rindu yg merobek...
Aku mau memeluk ujung belatimu
Biar kamu tahu bahwa di dadaku ada nganga luka
Aku mau membulirkan darah di mataku
Biar kamu tahu sedih sudah tdk punya daya buat bikin aku menangis

Kusir-kusir yg marah
Cambuki aku!!

Baca selengkapnya »

saya adalah kupu kupu,yg terbang sejauh angkasa membentang
saya mencari
dimana rumah dan sarang tegar serta setia menanti

saya adalah salju,jatuh dalam rapuh muka bumi
saya butiran tak berdaya
tak punya apa apa untuk melawan kecuali perasaan dingin yg rawan

saya adalah cangkir tembikar,sudah pernah terbakar dan masih terus dibakar
saya harus tahan banting

Baca selengkapnya »

KETIKA laut belakang kampung kami datangkan pasang perbani subuh tadi, pawang segala pawang hanya tercengang-cengang berkacak pinggang di simpang segala simpang. Pawang-pawang kampung sekali ini hilang rangsang. Zaman kejayaan pawang-pawang kampung mendadak saja tergerus, hangus, putus-putus! Peta kuasa pawang-pawang kini terhapuskan sudah!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Yang Terhormat Tuan Pencuri

Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Mati Hati

Alam kampung masih pagi sekali ketika terbetik kabar bahwa penguasa kampung telah mati hati. Terperangahlah kami orang-orang penghuni kampung. Tepatlah ramalan Si Nujum Tua tiga belas purnama lalu bahwa akan tiba masa mati hati bagi penguasa tanah kampung pusaka sisa akhir generasi anak negeri. Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Sang Tak Beralamat

“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Satir Sukar Mati

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Si Nujum Sial

Pada segaris tipis kerlip bintang gemintang, pada gerak puncak-puncak purnama, pada geriap gaib ajaib tukar bertukar malam, pada tamsil aneka tamsil segala peramalan, terbuhullah seuntai kisah sial Si Nujum Sial.

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Igau-Igau Desember

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saliful Bahri

ALINA

Adalah Puisi “Perjalanan Kubur” Sutardji Calzoum Bachri berawal kisah ini :

…………………………….
Untuk kuburmu Alina
aku menggali-gali dalam diri
raja dalam darah mengaliri sungai-sungai mengibarkan bendera hitam
menyeka matahari membujuk bulan
teguk tangismu Alina
…………………………….

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Sang Tak Beralamat

“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Tuan Pembual

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Juru Sanggah

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Keranda Raya

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Saksi Bisu

Akulah Saksi Bisu!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Angin Mati

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Minggu Terakhir

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Angin Mati

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Kenduri Ikan Bakar

Bermula kisah dari seorang tua, Abu Di Panteue berhajat kenduri ikan bakar. Kenduri hajat itu dihajatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan negeri. Hanya untuk negeri ! Tidak untuk anak-anak negeri !

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Amarah Kerbau

Tengah malam. Hujan berangin. Sebuah kota tua meringkuk dalam gigil tak nyaman. Seorang lelaki tua merangkak pilu tak hirau gebalau alam. Seekor kerbau melenguh riang merancang hiruk-pikuk petaka.

Baca selengkapnya »