liris

Cerpen : Saiful Bahri

Yang Terhormat Tuan Pencuri

Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Mati Hati

Alam kampung masih pagi sekali ketika terbetik kabar bahwa penguasa kampung telah mati hati. Terperangahlah kami orang-orang penghuni kampung. Tepatlah ramalan Si Nujum Tua tiga belas purnama lalu bahwa akan tiba masa mati hati bagi penguasa tanah kampung pusaka sisa akhir generasi anak negeri. Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Sang Tak Beralamat

“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.

Baca selengkapnya »

aku menulismu sebagai pecahan zaman,
kau adalah yang berkeping-keping,
yang berserak tak sempat berarak,
aku memamerkanmu disatu sudut terasing,
yang tak diinginkan terlihat
atau sekadar ingin diingat,
seperti pemberontakan senar putus di satu resital biola,
seperti lupa naskah di satu peristiwa teatrikal,

aku menulismu sebagai pecahan zaman,
karena kau tragedi adanya,

Baca selengkapnya »