protes
Lebih Berarti
Apakah lebih berarti
Lebih berarti apakah
Berarti apakah lebih
Lebih apakah berarti
Berarti lebih apakah
Apakah apakah apakah
Berarti berarti berarti
Lebih lebih lebih
Apakah lebih berarti ?
09 Maret 2011
Aku berbicara sebagaimana kau berbicara.
Aku berbicara sebagaimana kata-kata berbicara padaku,
Sebagaimana kata-kata padamu juga;
Yang bisa ku katakan adalah yang kata-kata bisa ungkapkan!
Agama adalah Yerusalem yang tek berarti apapun seperti kata Shalahudin
Malam belum begitu larut
ketika tembok di sekelilingku
meraung hebat karna
disandarkan padanya pedang tua perkasa
di mana lusinan nyawa telah digariskan
berhenti lewat tajam belai mautnya
Aku mencoba bertanya "Mengapa?"
"Dan kau tau apa jawabnya?"
Sang pedang renta lirih berkata:
"Bahkan untuk kemakmuran
perdamaian dan persatuan
bendera terjerat di tengah tiang
di pundak tak ke puncak
ditiup renyah angin, lengang
senyap heningkan cipta
pada air duka
ia rambut widuri yang memburai
EPILOG SUNYI AKHIR TAHUN
kukubur saja nafas tahun yang masih tersisa,
pada tubir waktu yang membisu,
selincah bocah kecil memapah air mata dan mengea manja,
mungkin akhir ini kan deras mengalir,
Sambil berjalan menyusuri trotoar sepanjang pertokoan di pusat kota, Harman bersiul menyenandungkan lagu perjuangan Halo-halo Bandung. Kadang diselingi sapaan dan membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya, mengobral senyum kanan-kiri atau kadang juga menggoda gadis-gadis yang melintas di depannya. Tak ada beban. Tak ada sedikit pun keinginan untuk berhenti.
Cerpen : Saiful Bahri
Musang Berjanggut Lagi
karya Roil Muhtadin
Jakarta, 17 Juni 2009
Selalu ada tangan jahil
Meraba pada tas
Barang anda terambil
Dalam bus patas
Pencopet sedang asyik
Mencelah tas penumpang
Supir kondektur tak mengusik
Kejahatan terjadi dengan gampang
Ular memang pasti bersisik
Masuk bui bermainlah uang
Dasar Copet
Aku tahu kau kepepet
Dosa pun kau serempet
Uang tak punya dapur macet
Penumpang gerbang
For; Mbah Wandi
di jilatan ujung rambut
panas matahari
mata kaki terbenam
tanah pecah-pecah
ditunggui ocehan pemilik sawah
dan keluh kesah
“kenapa panen tak jua raya?”
dan tengkulak yang
bersiap pelit for the sake of surplus value
dan kesantaian melinting kumis
buruh tani,
kami ini cuma perkakas,
penyodor nyawa bagi tanah pecah-pecah
pelicin ujung pacul
pengganjal gagang arit
semut-semut berperutkosong,
berbaris di pematang sawah,
berung-burung berperut kosong,
mengitarinya,
belalang-belalang berperut kosong,
tak sanggup lagi berloncatan,
petani-petani berlumbung kosong,
sekolah anak-anak mereka yang kosong,
bilik air mata istri mereka yang kosong,
semua dibekap dalam karung
berlambang Super Toy
alwiTHELONEWOLF
Mid of Sept’08
kabel-kabel berarakan
membawa pesan dari pisau dan garpu
untuk memotong jari-jari tangan
saat kau makan malam
dengan kekasihmu nanti
malulah dengan kulit sawo matang dan rambut ikal
bersoraklah pada parfum dan rambut miring
seperti kata para nabi mu, hai Vj MTV!
menyerahlah pada daging diapit roti
berisi otak dan nalar mu sendiri
katakan selamat datang pada Genosida
SAJAK WARNA-WARNI MONOKROMIS
UNTUK NEGRI-KU
Apa warna kitab suci agama mu?
Coklat muda?
Merah?
apa warna kebanggaan partai yang kau coblos?
hijau?
Ungu?
Apa warna jaket almamater mu?
Kuning?
Merah?
Apa warna celana dalam yang biasa kau pakai melancong?
Oranye?
Merah muda?
Apa warna mata turis-turis yang berkeliaran dikota mu?
Biru?
Coklat? Seperti kita?
di jalanan apa yang kau sembah?
tuhankah?
tuhan yang bersabda tanpa jeda
dan dimitoskan tanpa cela,
dalam gema lonceng-lonceng,
toa-toa dan kentongan-kentongan
sampai sempritan,
menyamarkan tebakan, pilihan dan ancaman
agamakah?
yang dijalanan
mengejawantahkan diri
jadi kotak sumbangan
beralamat entah,
menggangu tidur siang
para pengangguran dengan dogma minta-minta
ada yang bersembunyi dibelakang pasak tiang benderaku. seorang anak mencoba merangkak ke puncak tiang. lebam sekujur tubuh bak baju melekat tubuh dihajar antrian di mata air terakhir. kepalanya hampir jatuh seperti sobekan tiket BLT yang tak didapatnya. mulut sobek lelah menganga didepan selang air kosong dari tangki-tangki air tak pernah tepat waktu. perutnya menggembung membusung kosong.
anak-anak Code menjerit
tertindih beton jembatan
yang dicuri dari batu kali
masa kecil mereka
saat malam
terjepit decitan rem mobil,
mimpiku habis menguap,
diujung knalpot
pembuangan sisa-sisa
ekspor impor
sepanjang tubuh dan nyawa
berdebu menjadi debu,
diterbangkan tinggi tinggi sekali
menjadi mitos dan dongeng,
dongeng yang tak mungkin membuat anak-anaknya cepat tidur,
malam anak-anak buruh sepi dibisukan
seperti pelataran pabrik-pabrik
mencekik dengan lembur
yang berbanding terbalik
dengan profit, nilai lebih dan kerja perlu,
24 jam tubuh dan nyawa digadaikan pada
Jalanan dikawini baliho-baliho dan papan-papan iklan
Pedesaan dikawini developer-developer perumahan
Pegunungan dikawini vila-vila bernyawa satu minggu sekali
Pantai-pantai dikawini speedboat dan cocktail
Sungai-sungai dikawini dubur pabrik-pabrik
Hutan-hutan dikawini ceceran minyak pelumas gergaji mesin
Langit dikawini lingga-lingga pemancar
Siangku dikawini…
Malamku dikawini
Dalam goyangan lembaran-lembaran uang
Fasisme tumbuh besar di negeri ini,
Membangun jalan
Persiapan long march menuju
Tempat sampah bagi pluralitas,
Kebenaran manunggal yang
Lebih benar dari hati nurani dan pengampunan,
kebenaran yang harus diperjuangkan
dengan belaian-belaian
yang berarti sayatan bagi yang lain,
dengan sapaan-sapaan
yang berakhir teriakan-teriakan bagi yang lain



