Sambil berjalan menyusuri trotoar sepanjang pertokoan di pusat kota, Harman bersiul menyenandungkan lagu perjuangan Halo-halo Bandung. Kadang diselingi sapaan dan membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya, mengobral senyum kanan-kiri atau kadang juga menggoda gadis-gadis yang melintas di depannya. Tak ada beban. Tak ada sedikit pun keinginan untuk berhenti. [Baca Selengkapnya]
Cerpen : Saiful Bahri
Musang Berjanggut Lagi [Baca Selengkapnya]
karya Roil Muhtadin
Jakarta, 17 Juni 2009
Selalu ada tangan jahil
Meraba pada tas
Barang anda terambil
Dalam bus patas
Pencopet sedang asyik
Mencelah tas penumpang
Supir kondektur tak mengusik
Kejahatan terjadi dengan gampang
Ular memang pasti bersisik
Masuk bui bermainlah uang
Dasar Copet
Aku tahu kau kepepet
Dosa pun kau serempet
Uang tak punya dapur macet
Penumpang gerbang [Baca Selengkapnya]
For; Mbah Wandi
di jilatan ujung rambut
panas matahari
mata kaki terbenam
tanah pecah-pecah
ditunggui ocehan pemilik sawah
dan keluh kesah
“kenapa panen tak jua raya?”
dan tengkulak yang
bersiap pelit for the sake of surplus value
dan kesantaian melinting kumis
buruh tani,
kami ini cuma perkakas,
penyodor nyawa bagi tanah pecah-pecah
pelicin ujung pacul
pengganjal gagang arit [Baca Selengkapnya]
semut-semut berperutkosong,
berbaris di pematang sawah,
berung-burung berperut kosong,
mengitarinya,
belalang-belalang berperut kosong,
tak sanggup lagi berloncatan,
petani-petani berlumbung kosong,
sekolah anak-anak mereka yang kosong,
bilik air mata istri mereka yang kosong,
semua dibekap dalam karung
berlambang Super Toy
alwiTHELONEWOLF
Mid of Sept’08


