Rhetoric
Cerpen : Saiful Bahri
Mati Hati
Alam kampung masih pagi sekali ketika terbetik kabar bahwa penguasa kampung telah mati hati. Terperangahlah kami orang-orang penghuni kampung. Tepatlah ramalan Si Nujum Tua tiga belas purnama lalu bahwa akan tiba masa mati hati bagi penguasa tanah kampung pusaka sisa akhir generasi anak negeri. Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati!
Cerpen : Saiful Bahri
Sang Tak Beralamat
“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.
Kabut buta
Menggigil gila
Di pagi giat
Segiat-giat para pedagang
Di jantung pasar
Membiarkan semua gang – gang terbuka
Tapi bisu dan selalu membuat aku gusar
Lama sudah aku tak menjenguk mu
Berbagi rokok dan sekecup kopi pahit
Dari bibir mu
Senyuman di sejuk pagi ketika kau mulai menjahit
Selama ini aku mencekik waktu
Dan berkelahi dengan seperempat abad waktu ku



