sosial
Dalam rintiknya hujan hari ini
dan riuh suara manusia
Aku melihat apa yang aku lihat
Dirimu terlukis jelas di bola mataku..
Hatiku seakan tak mau beranjak
Karna aku tau hal inilah yang dapat mengindahkan hariku..
Hembusan angin pun merasuk tubuhku
Sembari burung berdendang
Tanggal Publikasi: 18 Oktober 2011
- Genre: Naskah Drama
- Bahasa: Indonesia
- Label: TKW, teater, sosial, seni, PRT, protes sosial, pertunjukan, perempuan, demonstrasi, budaya
Senin, 10 Oktober 2011 yang lalu di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta digelar pertunjukan teater berjudul Bunga di Comberan. Pertunjukan itu disajikan oleh kerja sama "Kelola" dengan Theatre Embassy yang mengadakan program teater untuk pemberdayaan.
Aku berbicara sebagaimana kau berbicara.
Aku berbicara sebagaimana kata-kata berbicara padaku,
Sebagaimana kata-kata padamu juga;
Yang bisa ku katakan adalah yang kata-kata bisa ungkapkan!
Agama adalah Yerusalem yang tek berarti apapun seperti kata Shalahudin
Posisi cubicle-ku sudah berubah. Sebelumnya aku ditempatkan di ujung sana, sekarang mereka memindahkan barang-barangku ke ujung sini. Sisi berbeda memberikan suasana yang berbeda pula. Sana selalu terasa lebih hangat karena mentari pagi dengan sigap selalu menyapaku di pagi hari,sedang sini membuatku sedikit jauh dari sentuhannya.
Hidup itu andai perih dan mati
Kusudahkan segala pedih
Malam belum begitu larut
ketika tembok di sekelilingku
meraung hebat karna
disandarkan padanya pedang tua perkasa
di mana lusinan nyawa telah digariskan
berhenti lewat tajam belai mautnya
Aku mencoba bertanya "Mengapa?"
"Dan kau tau apa jawabnya?"
Sang pedang renta lirih berkata:
"Bahkan untuk kemakmuran
perdamaian dan persatuan
Menangislah, kawan
penuhi anak-anak sungai itu
dengan air matamu
Aku pun akan datang
jika selaksa sajak
yang terpendam di ubun-ubunku
menjadi bulir-bulir keringat
Aku sangat gembira kawan
sebab mata air kita tak pernah sepi
(27/09/01)
Tanggal Publikasi: 13 April 2010
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: kritik sosial, sosial, Absurdity, eksplorasi
KETIKA laut belakang kampung kami datangkan pasang perbani subuh tadi, pawang segala pawang hanya tercengang-cengang berkacak pinggang di simpang segala simpang. Pawang-pawang kampung sekali ini hilang rangsang. Zaman kejayaan pawang-pawang kampung mendadak saja tergerus, hangus, putus-putus! Peta kuasa pawang-pawang kini terhapuskan sudah!
Cerpen : Saiful Bahri
Ini Kali AA Yang Pergi
“APA masih ada yang lain di luar? Kalau tidak ada lagi, saya mau mohon izin….”desah AA pada pukul 20.20 WIB malam Jum’at, 25 Maret 2010 di ruang rawat Geurutee Kamar 14 Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh.
Tanggal Publikasi: 15 Desember 2009
- Genre: Cerpen
- Bahasa: Indonesia
- Label: sosial, Absurdity, fiktif, liris, sosial politik, Absurdity maybe...
Cerpen : Saiful Bahri
Yang Terhormat Tuan Pencuri
Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan!
Cerpen : Saiful Bahri
Mati Hati
Alam kampung masih pagi sekali ketika terbetik kabar bahwa penguasa kampung telah mati hati. Terperangahlah kami orang-orang penghuni kampung. Tepatlah ramalan Si Nujum Tua tiga belas purnama lalu bahwa akan tiba masa mati hati bagi penguasa tanah kampung pusaka sisa akhir generasi anak negeri. Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati!
Cerpen : Saiful Bahri
Sang Tak Beralamat
“Sempurnalah hidup mati orang-orang yang beralamat. Celakalah hidup mati orang-orang tanpa alamat!” Demikianlah bunyi prasasti batu kubur berhuruf Jawi Kuno. Prasasti batu kubur itu telah patah terbengkalai di sebuah komplek pekuburan kumuh tengah kampung.
Cerpen : Saiful Bahri
Satir Sukar Mati
Cerpen : Saiful Bahri
Si Nujum Sial
Pada segaris tipis kerlip bintang gemintang, pada gerak puncak-puncak purnama, pada geriap gaib ajaib tukar bertukar malam, pada tamsil aneka tamsil segala peramalan, terbuhullah seuntai kisah sial Si Nujum Sial.
Cerpen : Saiful Bahri
Igau-Igau Desember
“Hanya satu sekarang Jagat, biarkan Gue menikmati cinta elu tanpa harus berdua.
Malam itu biar milik elu dan gue. Gue gak mau ada cerita lagi.
Kita mungkin memang terlambat bertemu tapi gak harus merubah apa yang sudah berjalan.
Biar Gue dengan Arka dan Elu dengan Wide.
Kecuali jika kita dilahirkan kembali dan mungkin memang akan jadi milik kita ”.
Dear adikku bisma dimanapun berada,
Bisma adikku apa khabar?
Senang mendengar kau sehat dan tidak ada halangan berarti.
Sudah tujuh tahun kau pergi dengan kemarahan itu Bisma.
Sejak Ibu meninggal, masih marahkah kau pada kami?
Kami merindukan dan mencintai kau, Bisma.
Aku titipkan surat ini ke Indra.
“Beri Gue rentang!”
“ Okey, 1 sampai 100, dimana Loe berpijak?”
“ 100 tak bergeser turun ! Gue tak perlu marah kepada Tuhan karena pilihan hidup ini”
“ Apakah Loe yakin Erla?” Tanya Lenden pelan.
Pesona 1000 jendela…16 tahun lalu…
Bolehkah aku menawar Tuhan…….?
beri kesempatan menikmati lebih indah 1000 jendela, gedung klasik bersahaja, sosok muda bermata indah itu berjalan diantara pepohonan yang rindang, membaca bukunya, dan berjalan dari jalan setapaklapangan bola menuju kapel…….16 tahun lalu…..menjadi
MT namanya
Cewe
Badannya mirip dengan galon bir
Dengan paha dan betis sebesar punyaku
Yg gembrot 78 kilo ini
Bedak tebal di muka
Seolah bisa menyembunyikan jelek rupa
Hobinya dance katanya
Dr hip-hop, belly dance, smpe striptease
Mungkin belajar dr tukang las
Pakaian gaun pesta
Dengan dada yg rata
Perut buncit, seperti aku
Berpikir dirinya kaya
Kasihan emaknya
Satu hari telah tercipta
begitu banyak mimpi
Ingin rasakan pelukan ini kutambatkan
di hatimu yang telah sendiri
Satu minggu yang berlalu
Terlewat tanpa kusadari
Aku semakin jatuh ke dalam lorong waktu
yang tidak aku tau apa itu namanya
Tanpa keberanian
untuk sekedar menyatakan niatan hati
Satu tahun aku merangkai
sebuah kata terindah dalam hidupku
Satu ucapan kejujuran yang akan kulayangkan
karya Roil Muhtadin
Jakarta, 17 Juni 2009
Selalu ada tangan jahil
Meraba pada tas
Barang anda terambil
Dalam bus patas
Pencopet sedang asyik
Mencelah tas penumpang
Supir kondektur tak mengusik
Kejahatan terjadi dengan gampang
Ular memang pasti bersisik
Masuk bui bermainlah uang
Dasar Copet
Aku tahu kau kepepet
Dosa pun kau serempet
Uang tak punya dapur macet
Penumpang gerbang
karya Roil Muhtadin
Jakarta, 9 Juni 2009
Purnama malam tetap diam
di redam senin malam
Perempuan malam jalang
kian lelaki hidung belang berkubang
Anak kecil malang hanya ilalang
Purnama malam pun memelas
di balik kabut awan membias
Derai tangisnya tak digubrisnya
Perempuan malam tetap bermalam
di pondok remang
Mata keranjang bersarang
Raga membatu
Jiwa mengerutu
Nasibmu perempuan malam
Dua gagak hitam pucat
Terbang dari sebatang cabang pokok nangka
Kepakan sayap lihai sayat udara malam
Dengan lantam pekikkan keberadaan
***
Akhir hari merangkak malas
Karena manusia kota tak lagi bisa melihat bintang
Setelah angkuhnya nyala lampu suar
Butakan hitam malam menjadi merah
Bintang berekor jadi barang langka
Hanya perenungan di tepi pantai
Yang mau disapanya



