sosial politik


untuk : Wiji Thukul

 

(I)

 

malam itu, kau pergi;

menyatu dengan angin beku di atas aspal mendidih.

Baca selengkapnya »

 

aku lahir ditanah yang luas

tanah kematian

sebuah pekuburan yang luas

tempat yang memberitahuku hanya nama-nama

dan masa-masa yang lampau

diukir diatas batu dari ujung ledakan Krakatau

tapi kebanyakan diatas tumpukan tengkorak

dan berhulu pada kebohongan

angin hanya berhembus sesekali

Baca selengkapnya »

 

Apa yang terjadi di negeri ini?

“Tidak ada apa-apa, sayang. Nikmati saja liburanmu. Lihatlah diriku!”

Begitulah jawab seorang mantan Jendral yang kini pedagang nyawa

Pada seorang bule

Dengan kulit kemerahan karena panas namun dinikmatinya

Di halaman belakang rumahku.

Kata-kata tadi menjelma peluru

Baca selengkapnya »

sudah ribuan mendahuluiku

beberapa dengan wajah masih terangkat

tapi kebanyakan sudah tak mampu lagi

bahkan hanya mengangkat ujung hidungnya

beberapa menerima tamparan rasa malu dengan sebuah janji

tapi kebanyakan menerimanya dengan sebuah keputusasaan

beberapa mencoba membuat perubahan walau berat

tapi kebanyakan hilang kesadarannya

Baca selengkapnya »

aku rasa

langit sedang membaca

puisi putus asa Neruda

malam ini

bulan leleh berkeping-keping

setelah lelah

seharian mengantongi

awan hitam

yang tak sabar ingin cepat hujan

ditambah antena-antena tv

dan teriakan antar tetangga

yang terus menusukinya

dari rumah susun dibawah

Baca selengkapnya »

Aku Bertanya dan Berkata Padamu
Karya : Ampon Yan

apa lagi yang ku tulis kawan
kaupun tahu menahu
bukankah bangsa ini kerumunan yang tersibuk sibuk
semua bersatu satu diberanda para penyihir
kaupun akan berumah disitu, kawan

apa lagi yang ku katakan kawan
kau pun membisu bisu
bukankah negeri ini panggung buat para penyanyi

Baca selengkapnya »

GARIS BURAM
Karya : Ampon Yan

jika harapmu tidak datang pada saatnya
tak perlu kau sesali
karena garis hidup itu tidak berujung,
pucuknya adalah rahasia yang takkan teraba
kamupun tidak kuasa tuk menghapusnya,

maka mengalir sajalah,
seperti gemercik air yang sabar menitis dicelah bebatuan
maka bergairah sajalah,

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri

Yang Terhormat Tuan Pencuri

Sungguh, Pencuri itu telah kami pertuankan! Setulusnya, Pencuri itu telah kami pertuankan!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Mati Hati

Alam kampung masih pagi sekali ketika terbetik kabar bahwa penguasa kampung telah mati hati. Terperangahlah kami orang-orang penghuni kampung. Tepatlah ramalan Si Nujum Tua tiga belas purnama lalu bahwa akan tiba masa mati hati bagi penguasa tanah kampung pusaka sisa akhir generasi anak negeri. Telah masa mati hati! Sudah masa mati hati!

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Satir Sukar Mati

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Si Nujum Sial

Pada segaris tipis kerlip bintang gemintang, pada gerak puncak-puncak purnama, pada geriap gaib ajaib tukar bertukar malam, pada tamsil aneka tamsil segala peramalan, terbuhullah seuntai kisah sial Si Nujum Sial.

Baca selengkapnya »

Cerpen : Saiful Bahri
Igau-Igau Desember

Baca selengkapnya »

TUGU KAMI
(ode buat tugu Jogja)

aku tahu betul
lelah kisahmu menjadi saksi
banyak cerita
dan tetap berdiri,

disimbol abadi nan tegap tetap,
padahal ribuan cerita
tak pernah berhenti mengitari
bersumpah atas perubahan

tentu, masih kau ingat
betapa sibuk peluru lalu lalang
menyuarakan kemerdekaan
dan anti-penjajahan,
atau semangat para pemuda
dalam derap kaki reformasi

Baca selengkapnya »

PERANG

(Puisi ini untuk demonstrasi-demonstrasi didepan gedung DPR)

perang adalah bedtime-stories
ala Indonesia,
yang tidak pernah happily-never-after
ala Walt Disney.

di Indonesia,
perang begitu menarik
mungkin karena kebiasaan
atau pentas hiburan,

perang katanya ideologis
tapi di Indonesia
ekonomis politis najis!

perang terjadi karena presiden lupa

Baca selengkapnya »