Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

 

TS Pinang

titiknol's picture

Melupa

katakanlah kami ini pengingat yang buruk. kalender kami tak bertanda di angka-angkanya sebab kami tak mau lembarnya cepat habis lalu kami harus buru-buru mengganti dengan yang baru. kami terlalu lemah membawa setiap yang lalu dalam duffel bag tua yang mulai layu. kadang-kadang yang silam itu kami tinggalkan sebagai anak pohon, kami tanam di tepi jalan.

8
titiknol's picture

Melirik

kami menggunakan sudut-sudut mata kami untuk memandang setiap yang tak sanggup kami tatap bermuka-muka. memandang secara pengecut secara tak jantan tak betina tak menatap muka. begitulah kami menyebut tatapan secara demikian sebagai lirik, tatapan rahasia dengan kedipan lentik. begitu pula cara kami memandang yang tak kasat oleh mata: hawa fitnah yang licik, tipu muslihat puitik.

8
titiknol's picture

Mendengar

kami adalah sepasang kuping, kanan dan kiri. kami suka membohongi kepala kami sendiri, mengabarkan apa saja yang terdampar di selaput gendang, kami nyanyikan sebagai lagu yang terbakar dendam. kami sepakat lebih baik merayakan kebisingan yang hingar ketimbang bisik angin yang tak tentu benar. sepanjang hari kami menabuh diri dengan irama badai pesisir dan gunung berguruh.

7
titiknol's picture

Bertanya

kami bertanya kepada TUHAN, mengapa kami diceburkan ke dalam kerahasiaan. tuhan menjawab: RAHASIA itu sudah sering ditanyakan manusia sejak Adam menolak surga dan memilih hawa yang tersengal di dada Eva. rahasia harus tetap menjadi rahasia agar kalian bertahan bimbang hingga menemukan jawabnya. bukankah KAMI mengajarimu puisi?

8
titiknol's picture

Bersepeda

kami ini sepasang kaki. kami mengayuh tungkai sepeda. kiri dan kanan bergantian, sesekali berjeda. semakin laju sepeda kami semakin kami tak tahu ke mana kami menuju. kami hanya sepasang kaki, bukan pemegang kendali. yang kami tahu hanya membuat sepeda kami lancar meluncur maju.

8
titiknol's picture

Mandi

setiap pagi kami mencuci badan kami dari kata-kata dari puisi. dengan sabun antiseptik dan tidak lupa menggosok pipi. kami baca mantra dalam hati, lunturkan segala puja-puji dari jiwaraga kami, lunturkan juga segala penyakit hati seperti kecanduan puisi. kami pun mencuci rambut di seluruh tubuh kami, di kepala di ketiak di kelamin di tangan di kaki.

Syndicate content
 

Highest Points

UserPoints
durgadurga984
molen559
mbik410
wahmuji377
sedik317
dalangpotehi282
ginting268
sescoplo261
titiknol156
otakudang146