Ke Atas ^
  • ADA DI KAKI LANGIT

    Waktuku mulai ingin menulis nyaliku hilang. Duduk di sampingku seorang algojo berseragam putih yang mungkin sekarang sedang menonton kebingunganku. Aku tidak yakin bahwa dia tahu kebingunganku. Apakah ia juga seorang portugis?

    “Rel apa yang harus kuambil? Apakah nanti akan berujung pada sebuah perjalanan tanpa arah?” bisikku dalam kalut.

    Akhirnya dia datang memberi sinyal baik. Berarti aku harus ikut mereka. Di persimpangan jalan itu ku bertemu seorang polisi wanita. Diberikannya informasi yang jernih tentang cara menemukan tempat yang kumaksud. “Sepuluh menit dengan kecepatan yang konstan anda bisa tiba dengan selamat ke sana”, imbuhnya.  

    -------

    -------

    Dia hanya sebuah persegi dari tumpukan bebatuan kali yang kokoh. Berdiri pada sebuah puncak bukit yang juga kokoh dengan pusatnya berada tepat di tengah-tengah kota ini. Mereka mendirikannya dengan sangat cermat. Mengerti dan memahami taktik berperang dan menjamin keamanan diri. Sungguh menarik karena dengan begini dapat dibayangkan bahwa di zaman itu tidak mungkin pemandangannya akan seperti ini.

    Ada yang memulai, ada pula yang mengakhiri. Saat ini aku tidak tahu dimana barat dan dimana timurnya. Yang kutahu sekarang ialah bahwa ketika kupaling ke kiri, kutatap gedung-gedung megah pencakar langit. Ketika lurus ku berarah tampak jembatan Vasco da Gama yang sempat kulalui di suatu ketika. Rupanya jembatan itu rasis sifatnya. Hamparan wilayah Almada juga tampak di hadapanku. Di sanalah tempat di mana pernahku habiskan setengah hari untuk berenang dan bertemu dengan seorang sahabat yang bergelar Che Guevara. Di sisi kananku, tentunya berdiri tegak jembatan revolusioner negara ini. Jembatan merah, 25 de Abril, yang penuh makna dan serupa dengan warna ‘cravos’, bunga perjuangan itu.

    Banyak orang yang melalui jalan itu. Apa yang mereka cari tidak kutahu karena aku pun belum sempat melalui jalan itu. Akan tetapi, menarik betul tempat itu. Setiap detik bergerak selalu saja ada yang melewatinya. Aku sedang mendengar ‘alleluya’-nya Bon Jovi dan menerima segarnya angin musim panas ketika mereka sedang beramai-ramai melewati jalan itu. Tapi aku tidak tahu apakah saatnya untuk berhenti?

    Dua orang muda; salah satunya pemudi datang di sampingku. Mereka pasti pasangan muda yang sedang berpacaran. Akan tetapi, kini datang lagi dua pria yang cukup asing bagiku. Perawakan mereka juga sangat berbeda. Yang kutahu saat ini ialah bahwa mereka semua datang untuk memuji keindahan tempat ini. Sama seperti aku dan mereka yang telah lewat tadi. Untuk saat ini aku tahu hidupku menjadi tergesa-gesa. Mereka yang dekat membuat malu-malu untuk terus menulis kisah subur ini. Semua mereka kini semakin banyak. Mereka sedikit menggangguku. Karena aku pun meresa bahwa mungkin aku turut mengganggu mereka mengabadikan momen indah di tempat ini. Aku memang sentimental. Tapi biarlah itu pergi bersama mereka yang sekrang telah pergi entah ke mana.

    Matahari masih cukup terik walau saat ini tepat 18.33. Ada pasutri tua yang datang mendekat. Istrinya tersenyum denganku ketika aku angkat pandangan pada mereka. Ruapanya tempat ini ingin menerima apa pun dan siapa pun. Semua kesibukan bisa dibuat di sini. Bagian ini rupanya memberi banyak inspirasi bagi banyak orang. Sejak tadi banyak yang datang. Mereka datang, lihat, bicara untuk memuji sedikit lalu pergi lagi. Rupanya mereka ingin meraup semua keindahan tempat ini hanya dalam beberapa jam yang mereka inginkan. Akan tetapi, apakah keindahan ini hanya untuk beberapa jam saja? Aku berharap semua yang sedang mengabadikannya pada kamera mereka itu menjadi kenangan akan keindahan yang tidak akan pernah mati. Dua gadis kecil di sampingku baru saja pergi. Ketika kuusir lalat yang hinggap di tanganku.

    Mereka yang telah lewat itu kini kembali lagi. Rupanya kebuntuan yang ada di sebelah sana. Aku coba menjadi lebih banyak bertanya lagi tentang sifatku yang menjadikan dunia saat ini tenang. Jujur aku kehilangan konsentrasi sehingga larik di atas tadi agak rancu. Rupanya dia yang sedang berpose di sana mengacaukanku tadi. Dia telah memberi tanda untukku agar menghentikan cerita ini. Atau?......

    Tapi aku menulis bukan karena dia. Aku menulis untuk diriku. Dan aku bahwa  tulisan ini punya titik akhir. Tapi bukan di sini akhirnya. Saya belum ingin pulang. Masih kulihat surga yang tersembunyi di balik menawannya Rio Tejo ini. Rupanya semakin malam-semakin lama-semakin enak. Aku terkesan dengan kapal yang baru saja lewat. Membelah sungai itu hingga berbuih putih. Terlihat jelas dari sini garis yang membelahnya. Namun objek lain yang mesti kupuji pada saat ini. Mereka juga berwarna putih. Melintas dalam pandanganku. Memacu adrenalin dan menanti sapaan mesra. Tapi untuk apa ku puji mereka langsung ?Aku takut mereka salah mengerti. Karena itu lebih baik aku puji mereka lewat kertas putih ini supaya mereka pun tidak tersinggung dan aku pun sehat walafiat.

    «Ohhhhhh…… tinta ballpoint-ku !! » aku kaget dalam kesal.

    Aku tahu rupanya aku harus berakhir dengan syair lagu yang sedang kudengar saat ini “HERE I AM”. Terpaksa harus kuakhiri kisah ini karena aku pun tak sanggup lagi menerima tontonan mereka yang mengunjungi tempat fenomenal ini. Mereka puas tapi aku harus berhenti. Bukankah akhir seperti ini yang paling membutuhkan kata akhir: Datanglah untuk lihat betapa kayanya tempat ini!.

     

    Castelo São Jorge (Lisabon)

    sendiri di dinding kastil, 15 Juli 2013

    ​Elly Nuga


    | Link | Dibaca 452 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak