Ke Atas ^
  • KISAH DI COSTA DE CAPARICA

    Aku tak tahu sudah berapa ribu langkah yang telah kuhabiskan untuk bisa tiba di tempat ini yang juga untuk pertama kalinya ku tiba. Akan tetapi ini petualangan yang teramat bagiku. Sebuah perjalanan yang juga penuh nuansa rekreatif ini mengalir bersama tenangnya ombak di pesisir pantai ini.

    Sukacitaku di sini ialah bagaimana merasakan nuansa yang amat sangat berbeda. Ada kesegaran angin dingin. Melihat beberapa keluarga yang menghabiskan hari mereka di sini. Melihat keceriaan anak-anak yang membangun kerajaan pasir mereka dalam kepolosan mereka. Indahnya hidup bekeluarga tercemin di tempat ini. Aku ingin mengabadikan moment ini dengan Ericsson milikku tapi aku ragu karena tidak semua orang barat menerima itu. Akan tetapi kucoba nanti walau pakai ‘foto curi’. Akhirnya bisa juga.

    Ketika kuberbalik muncul dalam pandanganku sesosok gadis penuh pesona. Dengan nama yang tidak akan pernah kutahu. Dia sudah punya kekasih. Dia berbikini biru. Perawakannya sanagt elok. Memang dia bukan seorang bidadari. Dia juga ciptaan Tuhan sama seperti yang lain. Akan tetapi karena dia beda maka walaupun ada bidadari di tempat ini aku tetap menjatuhkan pujian padanya. Dia nyata bagiku dan sungguh datang dari realitas. Dia bukan hasil bentukan kata-kata para pujangga untuk menggambarkan keindahan tubuh dan jiwanya. Dia pesona alami. Dan yang alami biarlah ia lestari. Artinya jangan dipersempit dengan penggambaran penuh kiasan.

    Mereka baru berjumpa bibir dengan bibir ketika pandangan ini terarah ke sana. Dan untuk kedua kalinya tampak dalam pandanganku. Tapi aku tidak perlu malu dan merasa berdosa sekali karena laut yang ke dalamnya seluruh isi tubuh ini dibersihkan tidak pernah menolak untuk menerima. Inikan alamiah. Nafsu dan cinta pun alamiah. Dari nafsu dulu baru muncul cinta. Karena tidak ada cinta yang murni tanpa nafsu. Akan tetapi nafsu itu positif atau negatif? Apakah aku butuh ensiklopedi untuk menemukan definisinya? Alangkah baik memahaminya seperti yang kupikirkan saja. Dia lebih ke arah negatif. Karena terlihat sedikit seperti kerausan badaniah; mata yang rakus dengan badan indah dan pikiran yang menggambarkan kerakusan. Mungkin seperti itu?!

    Aku masih bertahan dengan pasutri itu. Tapi aku tidak tahu apakah mereka masih bertahan? Bukan karena kehadiranku tapi karena tenis pantai yang sedang mereka pertunjukan ini. Sang istri kelihatan tengah mempermainkan sang suami. Sedikit-sedikit dia memandang ke arahku dan sama-sama kami tertawa kecil untuk suaminya. Mereka punya beberapa buah hati. Karena itu pastinya punya kegembiraan yang besar. Rupanya mereka hentikan juga jenis olahraga itu. Ketika mereka berhenti aku tak memperhatikan perhentian itu. Tapi ketika kupandang kepulangan mereka masih sempat saling melemparkan senyum satu sama lain. Apakah mereka menikamti? Pastinya, mereka menikmati.

    Hari ini matahari tak kelihatan. Karena itu lebih baik bagiku untuk tidak berenang. Tadi sempat kucoba dinginnya laut ini. Dalam kelihatannya impuls saraf kakiku tidak berbohong untuk mengatakan bahwa sungguh dingin air itu. Kalau ingin membekukan diri, silahkan! Kalau mau menggigil sepanjang pantai ini, silahkan! Semuanya alamiah. Pahamilah juga secara alamiah. Pastinya dingin akan menguasai tubuhmu jika engkau masuk ke dalamnnya. Mereka rukun sekali seperti gambaran keluarga Allah tadi. Yang pastinya tidak akan kuterima dari air ini. Jika aku memaksakan diri masuk ke dalamnya dia akan membersihkan aku tapi akan menggigilkan aku. Itulah letak percekcokan kami nanti.

    Aku hampir kehabisan ide untuk melanjutkan kisah ini. Namun dengan kehadiran beberapa pemain bola junior di belakangku menruskan perjalanan kisah ini. Ada yang bilang dirinya CR7, ada yang Cardoso, ada yang Luisão, ada yang Jackson dan ada yang Arthur. Semua pemain terkenal dengan posisinya masing-masing itu telah dikenal baik bocah-bocah ini. Mereka itu ada yang Benfiquista ada pula yang Portista.

    Kutatap angkasa. Matahari tepat di kepalaku. Aku sedikit kepanasan. Pensil yang kugunakan untuk menulis kisah ini pun telah tumpul. Maka kuakhiri kisah ini dengan ucapan terakhir seorang bocah di sisi kiriku: MUITO DURO!!!!

    Lisabon, 11 Juli 2013, 12.39

    Elly Nuga


    | Link | Dibaca 482 kali
memuat Disqus ...

Diatra Bulan Ini



Almanak